
“ Brighton London, kalian pergi kesana mereka tinggal disalah satu mansion yang jaraknya diantara perbatasan kota Hostings London “
" kenapa dia bisa mengetahui kalau kita sedang mencari tau keberadaan Bastian, sebenarnya siapa dia"ucap Lucifer
"Aku yakin Axell yang sedang memata matain kita, dan mengirim petunjuk itu" Batin Daniel.
"Apa itu kamu Axell yang mengirim pesan itu, Daddy cukup lega kalau kau selamat dari ledakan itu, tapi daddy sedih kamu gak bisa menuin daddy, jika Theresa wanita pilihanmu untuk mengantikan posisi mommymu daddy akan melakukannya, daddy yakin kamu punya alasan tersendiri Axell, daddy sangat menyayangimu Axell" batin Antonius, ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya.
"Antarkan Theresa kekamar yang kosong, dan kau suruh Ester untuk menyiapkan keperluan Theresa selama tinggal disini, besok kita akan terbang ke London" ucap Antonius dengan datarnya.
Setelah Antonius masuk kedalam kamarnya, Theresa meresa gak enak apa lagi dengan sikap Antonius barusan
"Apa tuan Antonius baik baik saja" ucap Theresa hati hati.
"Aku mengurungkan niatku untuk kalian membantu membawa putriku pergi dari Bastian, aku gak enak sama tuan Antonius, dan aku bisa melakukannya sendiri" ucap Theresa
"Kau jangan diambil hati ucapan tuan Antony, dia memang begitu sikapnya apalagi kalau hal itu mengenai Axell putranya, jadi kau tenang saja" ucap Lucifer
Setelah cukup lama berbicara mereka pun langsung pergi untuk beristirahat kekamarnya masing masing.
•••••
Karna hari ini keluarga Calandra sedang berkumpul dimeja makan, dan juga ada Elizabeth Hopper berserta putranya Adriel Clarion Hopper hasil pernikahannya dengan Christian Gone mafia asal Belgia yang telah tewas waktu ledakan yang terjadi di Las vegas.
Axell yang sejak tadi pemperhatikan Adriel pun bahkan mereka heran dengan Axell yang terus memperhatikan Adreil bahkan hampir membuat Adriel ketakutan dengan tatapan Axell.
"Andriel Clarion Hopper anak dari Christian Gone mafia sekutu yang telah membunuh mommyku, jika kau bukan anak dari Elizabeth Hopper mungkin aku sudah membunuhmu, seperti apa yang telah ayahmu perbuat pada keluargaku, tapi aku masih punya hati untuk anak sekecilmu yang gak tau apa apa tentang masalah itu, semoga saja nanti kau tak seperti ayahmu, jika kau mengikuti jejak dari ayahmu maka keturunan Timofeylah yang akan melenyapkanmu, ntah aku atau pun keturunan Timofey selanjutnya, karna dendamku tak akan pernah sirna" batin Axell, Adreil yang merasa ada yang memperhatikan ia pun melirik kearah Axell tentu saja Adriel merasa ketakutan, dan Axell hanya tersenyum tipis kearah Adriel
"Arsen kenapa kau memperhatikan Adriel seperti itu" ucap Elizabeth Hopper dengan penuh menyelidik.
"Aku tidak menatapnya kak, aku hanya ingin berkenalan, bukankah kau gak pernah memerkenalkan aku dengan putramu ini" ucap Axell dengan santainya
"Mmm baiklah, Adriel kenalkan ini uncle Arsen" ucap Elizabeth Hopper
"Kak aku gak mau di panggil uncle oleh putramu, aku hanya ingin di panggil kakak saja jangan uncle, aku serasa lebih tua disini jika aku di panggil uncle, lagian umurku gak hanya beda tipis sama putramu" ucap Axell, mereka hanya menggelengkan kepalanya
"Ok, Aku Adriel, kak Arsen bolehkan aku menganggapmu seperti kakak laki lakiku" ucap Adriel hati hati, mereka cukup kaget dengan permintaan Adriel
Axell hanya tersenyum tipis "tentu, jika kau ingin aku jadi kakak laki lakimu, tapi kau harus bisa berlatih bela diri untuk menjaga keselamatanmu, dunia ini kejam kau harus mampu seperti ibumu yang kuat gimana" ucap Axell, mereka cukup kagum dengan Axell, namun ada rasa kesal juga pada Axell karna ia sudah mengajarkan Adriel untuk berlatih bela diri dilihat Adriel yang masih terlalu kecil untuk menguasai hal itu.
Wajarlah dulu Axell dibimbing belajar tentang pelantihan beladiri sejak umur 6 tahun, bahkah diumur 7 tahun Axell dituntut untuk bisa menguasai beberapa ilmu beladiri, dan mengunakan senjata api.
"Ok aku mau" ucap Adriel antusias.
"Good job" ucap Axell yang melangkahkan kakinya keluar rumah, saat diambang pintu berpapasan dengan Kimberly yang baru dateng.
"Ax...Axell..." ucap Kimberly terbata bata ia pun langsung memeluk Axell, Axell yang cukup kaget ia hanya diam.
"Kau kemana saja Ax, udah 3 tahun kamu gak menuin aku dan kau ingkarin janji kita dulu, dan sekarang" ucap Kimberly yang terlihat emosi
"Aku minta maaf Kim, bukan aku bermaksud untuk ingkarin janjiku tapi aku punya alasan kenapa aku sampai sekarang belum menuinmu" batin Axell
"Kenapa kau cuman diam hah!, aku tau kau gak bisa jawabkan" ucap Kimberly
"Sorry" hanya itu yang terucap di mulut Axell
"Hahh...kemana aja kamu selama ini, dan sekarang kau udah ada dibagian keluargaku, dan kau hanya bilang sorry, sebenarnya apa tujuanmu Axell Stevano" ucap Kimberly lantang
"Aku gak mengerti maksudmu, jika kau mengenalku dimasa lalu sorry karna aku gk bisa mengingatmu" ucap Axell
"Maksudmu apa hah, kau pura pura gak mengenalku gitu, munafik tau gak" ucap Kimberly, emosi Axell yang sudah diujung dan ia gak bisa menahan emosinya ia mendekatkan Kimberly pada sebuah tembok dan mengunci tangannya, Axell yang sorot matanya tajam bahkan bola matanya saja berubah menjadi biru pekat jika Axell tdak bisa mengontol emosinya.
"Ax....Axell...." ucap Kimberly yang ketakutan.
"Aku memang gak pernah tau apa apa yang aku alami selama ini kim, aku memang sudah mengingari janji tapi aku punya alasan kenapa aku ingari janji itu, kamu gak taukan saat perjalanan ku keamerika aku hampir mati karna pembataian dibandara, kau memang gak pernah tau kim, selama ini aku menderita dan berusaha mengingat semua kejadian kelam ini tapi apa hasil gak adakan" ucap Axell yang masih emosi
"Tapi kenapa kau bohongi aku Ax, aku benci kamu Axell" ucap Kimberly yang memukul dada bidang Axell sambil menanggis.
"Aku gk bohongi, aku punya alasan untuk semua itu" ucap Axell tegas, bahkan tatapannya yang masih tajam, emosi Axell yang saat ini tak terkontrol apalagi kalau biru kilat dimatanya muncul