That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 9



Mulai hari itu Mahessa tidak diizinkan mendekatiku lebih dari tiga meter. Bukan hanya Mahessa, aturan ini berlaku untuk seluruh laki-laki di kerajaan.


Yak, nice papa.


Kalian penasaran apa yang terjadi pada Mahessa setelah itu? Aku akan menjawabnya. Ia disiksa oleh Edgar dengan banyak sekali pekerjaan sehingga laki-laki itu tidak tidur sekitar seminggu. Dan dalam waktu seminggu itu, Edgar menghabiskan waktunya hanya bersamaku.


Benar-benar...merepotkan.


Waktu berlalu dengan begitu cepat. Tidak terasa sudah 3 bulan aku di sini. Aku juga sudah mulai terbiasa dengan wajah-wajah pelayan yang biasa mondar-mandir di sini. Lina juga sangat baik. Ia sering mengajakku ke taman untuk jalan-jalan sembari menikmati indahnya bunga di pagi hari. Belakangan aku menyadari indera penciumanku jauh lebih baik daripada saat aku menjadi manusia. Mungkin ini hal yang biasa bagi iblis? Atau ini adalah sesuatu yang spesial?


Seperti ****** saja.


Sekarang aku sudah lancar membalikkan tubuh sendiri dan merangkak pelan di atas kasur. Untuk awal rasanya sangat melelahkan, mengingat kedua tangan dan kaki mungilku harus menopang tubuhku yang cukup berat. Aku sempat berfikir untuk diet malahan. Tapi lama-kelamaan aku mulai terbiasa dan bisa merangkak lebih jauh sekarang.


Edgar? Dia tidak menunjukkan perubahan signifikan. Rambutnya masih panjang dan lurus, seperti gadis di iklan shampo. Wajahnya masih berekspresi dingin dan cuek. Tatapannya masih datar, tidak menunjukkan emosi. Kadang ingin rasanya aku menusuk kedua mata itu.


Sekarang suasana istana cukup sibuk karena lusa adalah ulangtahun Edgar yang ke-2380. Angka itu cukup mengejutkanku mengingat umur manusia sangat mustahil menyentuh angka itu. Seratus saja hanya beberapa manusia yang mampu.


Bukan hanya pelayan yang sibuk. Edgar sendiri juga sibuk mempersiapkan sesuatu yang kurang kumengerti. Pokoknya itu semacam persiapan jika di hari ulangtahunnya nanti terjadi penyerangan secara mendadak.


Kerajaan Agatha, terletak di tenggara Kerajaan Acacia. Kerajaan itu dipimpin oleh Romeo Van Der Belphegor yang merupakan ayah dari ibuku. Singkatnya, dia adalah kakekku. Entah apa tujuannya mengirim assassin untuk membunuhku, padahal aku adalah cucunya. Lebih masuk akal baginya untuk menculikku daripada membunuh. Hal inilah yang menjadi tanda tanya besar bagi Edgar dan Mahessa.


"Tuan putri lebih cocok dengan pakaian ini."


Seorang pelayan mendudukkanku di depan sebuah cermin besar berbingkai emas. Pakaian yang mereka pilihkan sangat cantik saat kupakai. Dress panjang berwarna campuran antara hitam dan merah dengan banyak batu kecil berkilauan dan pita lucu di pinggangnya. Ditambah dengan mahkota emas berhiaskan batu berwarna merah darah membuat penampilanku makin sempurna.


"Yang Mulia juga akan mengenakan pakaian berwarna merah dan hitam. Kalian akan sangat serasi di hari itu," ucap Brianna, pelayan yang menyiapkan pakaian ini untukku.


"Apa ada yang harus ditambahkan, Bri?" tanya Lina sembari merapikan gaunku yang sedikit terlipat.


Brianna menggeleng tegas. "Tidak. Terlalu banyak pernahlk pernik malah membuatnya terlihat tidak bagus. Ini sudah cukup."


Lina mengangguk singkat. "Baiklah, kau yang lebih paham tentu saja."


Brianna tersenyum bangga. Wajah cantiknya saat disandingkan dengan senyuman itu entah kenapa membuatnya terkesan seperti antagonis yang baru saja membully si tokoh utama. Menyeramkan.


-~~~-