
*Author PoV*
Prajurit-prajurit pelatihan yang dilatih sendiri oleh Shinji Eligos—salah satu panglima kerajaan—akan sampai sore ini. Itulah yang membuat Edgar terpaksa sepenuhnya menyerahkan tugas untuk melindungi Felicia kepada Rekta Marchosias. Rekta memang tidak sekuat dirinya, tapi ia percaya Rekta tidaj akan bimbang mengorbankan nyawanya demi melindungi Felicia.
Felicia itu bagaikan salinan Brezenska, hanya saja dengan rambut hitam legam dan sedikit menyebalkan. Ingin tau apa alasan Edgar tidak ingin menyerahkan Felicia pada Romeo? Itu karena Romeo akan menyiksanya dan menjadikan Felicia sebagai budaknya. Persis seperti apa yang dulu ia lakukan pada Brezenska, putrinya sendiri.
Brezenska dan Attashira—saudara perempuannya—tidak diperlakukan seperti tuan putri pada biasanya. Kalian tau singa, bukan? Kurang lebih Kerajaan Agatha menganut sistem seperti singa, dimana para betina yang akan bekerja keras mencarikan makan untuk para pejantan. Pejantannya? Hanya duduk manis, menunggu makanan tersedia. Jika betinanya melawan? Ia akan disiksa hingga tak lagi bisa melawan.
Bayangkan apa yang akan dilakukan Romeo jika dulu Felicia diserahkan padanya.
Senja telah datang, membuat langit yang sebelumnya berwarna biru terang dan dihiasi awan-awan putih kini berubah menjadi orange. Edgar menatap langit itu dari balkon kamarnya, mencemaskan Felicia yang masih belum sampai. Balkon kamarnya memang tidak langsung menghadap ke gerbang utama istana. Namun ia bisa melihat siapa saja yang berlalu lalang di depan gerbang dengan jelas. Ia bisa tau Felicia sudah sampai atau belum.
"Kau mengkhawatirkan Putri Felicia?"
Edgar tidak menoleh, juga tidak menjawab. Itu bukan pertanyaan yang harus ia jawab. Mahessa tentu saja telah tau apa jawabannya.
"Lalu kenapa kau mengizinkannya untuk pergi? Dia tidak keberatan bukan jika kau tidak mengizinkannya pergi?"
Mahessa menghembuskan napas panjang. "Huffh, mau bagaimana lagi."
"Rekta ada bersamanya. Aku juga memberikannya Rosegold agar jika ia berada dalam bahaya, aku akan langsung..."
Edgar mendadak terdiam. Telinganya berdengung keras, menerima gelombang suara dari arah hutan. Ia mengeluarkan sayap lebarnya, langsung melompat dan terbang dengan cepat ke arah sumber gelombang.
Felicia dalam bahaya. Jaraknya cukup jauh dari istana. Agar cepat sampai tujuan, ia menggabungkan teknik terbang cepat dan teleportasi. Dan cara ini memang sangat efektif. Belum sampai satu menit ia terbang, sosok Felicia san Rekta yang dikelilingi iblis kelas rendah sudah terlihat.
Ia marah. Aura hitam pekat seketika muncul mengelilingi tubuhnya. Aura itu semakin pekat saat ia melihat sosok Claude duduk di atas kereta black unicorn miliknya. Dengan kecepatan tinggi, Edgar mengarahkan kakinya ke arah wajah lelaki berambut hijau itu. Gerakannya yang terlalu cepat membuat Claude tidak bisa menghindar. Tendangan itu tepat mengenai pipi kanannya, membuatnya terguling beberapa kali di tanah.
Edgar bisa melihat wajah Felicia yang semula tegang berubah lega saat kedatangannya. Ia bisa dengan mudah membunuh tiga belas iblis kelas rendah yang mengepung Felice, namun sebaiknya tugas itu ia berikan pada Rekta. Ia akan mengurus laki-laki sialan yang kini membersihkan pakaiannya dari tanah.
"Jangan menyerang tiba-tiba begitu, Ed."
- O w O -