That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 37



"Rekta."


Yang dipanggil menoleh, memberikan anggukan singkat. Perlahan anggota tubuhnya mengeluarkan rambut halus berwarna hitam pekat, berubah struktur dan seutuhnya berubah wujud menjadi anjing hitam besar. Saking besarnya, kira-kira ukurannya menyamai seekor kuda. Dan cukup untuk ditunggangi.


"Sebentar sebentar. Kita akan menaiki Rekta?"


Edgar menggeleng. "Tidak, kau saja yang naik. Aku akan terbang."


Aku mengerutkan kening. "Kenapa kita tidak terbang berdua?"


"Kau letih, Felice. Aku tidak mau kau kelelahan. Jarak dari sini ke istana masih cukup jauh."


"Tapi kan—" Sebelum sempat menyelesaikan ucapanku, Edgar telah meletakkan jari telunjuknya di bibirku. Aku terdiam, mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mengangguk.


Edgar tersenyum puas. Tangannya bergerak menggendongku dan mendudukkanku di punggung Rekta.


"Tuan Putri, genggam saja buluku agar putri tidak jatuh."


Aku berfikir dua kali sebelum akhirnya menurut untuk menggenggam bulu lembutnya. Apakah ia tidak kesakitan?


Rekta mulai berlari. Tidak terlalu kencang. Mungkin karena saat ini ia sedang menggendongku. Ditambah Edgar terbang tepat di atasku, tidak terlalu tinggi untuk mengawasiku.


Aku mendadak jadi ingat film Breaking Down 2. Kalian pernah menonton film itu? Ingat saat anak perempuan Edward dan Bella menaiki Jack si serigala besar? Kira-kira, itu yang aku rasakan saat ini.


Bedanya, Rekta adalah anjing.


- O w O -


Sesampai kami di istana, banyak prajurit baru yang berbaris di sepanjang gerbang menuju pintu masuk istana. Mereka berlutut, memberi hormat pada Edgar yang sedang berjalan dengan aura hitam pekat yang keluar dari tubuhnya. Wajahnya tegas, melirik wajah-wajah baru yang berhasil melewati pelatihan sadis yang dibuat oleh Shinji Eligos, salah satu panglima kerajaan.


Rekta masih memakai sosok anjing hitam, berjalan tepat di belakangku. Aku cukup bertanya-tanya kenapa ia masih memakai sosok anjing hitam, padahal lebih bagus jika ia menggunakan sosok manusia. Ia akan dihormati, dan lebih dikenal oleh para prajurit baru.


"Berdiri," perintah Edgar, membuat semua pasukan berdiri tegap dengan serentak. Ia melanjutkan. "Selamat untuk kalian yang mampu bertahan hingga sejauh ini. Aku yakin Shinji memberikan siksaan yang membuat kalian merasa ingin mati, bukan? Tapi itu adalah bekal untuk kalian berperang nanti. Itu membuat kalian kuat, berani menghadapi lawan sekuat apapun ia. Tanpa gentar. Terakhir, aku mengharapkan kesetiaan kalian padaku."


"Hormat kami untuk sang penguasa neraka."


Setelah pidato singkat yang disampaikannya, mulai terdengar pujian dan harapan baik untuk Kerajaan Acacia ke depannya. Beberapa bertepuk tangan dan menghapus air mata. Sepertinya mereka telah melewati hal yang mengerikan. Entah siksaan macam apa yang diberikan Shinji pada mereka.


"Shinji, temui aku di ruanganku setelah makan malam."


Shinji menunduk sejenak, memberi hormat. "Dimengerti, yang mulia."


- O w O -


Aku berinisiatif untuk membawa sendiri makan malam hari ini ke kamar Edgar. Aku juga membawa perban dan obat luka. Namun Edgar tidak ada di kamarnya. Jadi dimana makhluk itu? Apa dia ada di ruang kerjanya?


Tapi tidak mungkin, ia berjanji akan menemui Shinji sehabis makan malam, dan ia belum makan malam.


Aku melihat ke sekitar, memandang ke seluruh penjuru ruangan. Aku juga memeriksa beberapa ruangan rahasia yang ditunjukkan Edgar padaku, hingga akhirnya aku menemukannya di salah satu ruangan rahasianya. Ruangan yang katanya sangat ia sukai dan penuh dengan memori. Aku tidak begitu paham apa maksudnya. Di ruangan itu hanya ada sebuah lemari dan lukisan-lukisan tua.


Edgar tampak begitu serius, memandang sebuah lukisan dengan wajah sendu. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Lukisan itu tertutup oleh tubuh Edgar.


"Entah apa yang terjadi jika aku terlambat datang. Aku telah kehilangan dirimu, Rez. Aku tidak ingin kehilangan Felicia juga. Hanya dia satu-satunya yang kau tinggalkan untukku."


Lukisan itu adalah lukisan Edgar yang memakai setelan kerajaan yang mewah dan mahkota yang indah. Dan di sampingnya ada seorang perempuan berambut hijau yang memakai gaun hitam elegan dan mahkota.


Dan wanita itu pasti Brezenska, ibuku.


- O w O -