
Pesta ulang tahun? Pesta ulang tahun katanya?
Bukan, INI PESTA PERNIKAHAN!
Aku melirik ke seluruh penjuru ruangan. Hanya ada iblis dewasa yang menggandeng pasangannya masing-masing. Tidak ada iblis seumuranku yang datang. Tidak ada balon berisi gulungan kertas bertuliskan berbagai tantangan. Di luar terdapat pengawal yang memeriksa tamu-tamu yang datang.
Benar-benar...ini bukan pesta ulang tahun.
Sedari tadi aku duduk di pangkuan Edgar, beberapa kali memainkan rambut panjangnya. Aku tidak diizinkan untuk makan apapun. Edgar tampaknya khawatir kejadian yang sama akan terulang kembali.
Wajahnya memang tampak tenang, cuek, tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi. Namun matanya selalu siaga, melirik ke seluruh penjuru ruangan. Ia juga saling memberi kode dengan beberapa orang yang tidak aku kenal. Tampaknya ia merencanakan sesuatu.
"Papa."
Atensinya sekarang sepenuhnya teralihkan padaku. Ia menyingkirkan sejumput rambut panjangnya dari tanganku, kemudian bertanya, "Ada apa?"
"Elish bosan."
Ia menghembuskan napas panjang, melirik sejenak pada seseorang yang berada di tengah keramaian pesta. Ia menggendongku, membawaku beranjak dari ruangan tengah istana yang sesak dan membosankan.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Edgar saat kami berada di tengah perjalanan.
Aku terdiam, memberikannya sebuah tatapan penuh tanda tanya.
"Maksudku hadiah ulang tahunmu. Apa yang kau inginkan?"
"Ooh, itu..." aku diam sejenak, meletakkan jari telunjukku di bibir bawah. Aku juga tidak tau menginginkan apa. Saat berada di dunia manusia aku memang memiliki segalanya. Kecuali kasih sayang orang tuaku tentunya. Mereka lebih sayang pada pekerjaan dan selingkuhannya dari pada anaknya. "Boleh buatkan Elish taman? Taman yang penuh dengan bunga warna-warni dan pohon rindang, juga ada meja dan kursi untuk papa dan Elish menghabiskan waktu!"
Edgar terdiam, menghentikan langkahnya sembari melihat ke arahku. "Kau yakin menginginkan itu?"
Aku mengangguk cepat. "Elish mau menghabiskan banyak waktu dengan papa!"
Kini kaki Edgar kembali melangkah. "Aku tidak suka taman dengan bunga warna-warni. Itu membuatku mual."
"Kalau begitu tanam saja bunga higanbana. Papa suka higanbana, kan?"
Edgar mengerutkan dahi. "Siapa yang memberitahu hal itu padamu?"
Aku menunduk, bicara dengan nada lemah. "Lilya yang beri tahu."
Edgar menyandarkan kepalaku di dadanya, mengusap pelan kepalaku. "Informasi itu tidak 100% benar. Aku bukan hanya menyukai higanbana, tetapi juga bunga berwarna merah yang lain."
Edgar mengangguk sejenak. "Baiklah, lusa akan ada taman yang penuh dengan bunga merah di barat daya istana, di dekat patung naga."
"Hore! Elish sayang papa!" Aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya, tak lupa menghadiahkan sebuah ciuman di pipi kirinya.
Ia hanya diam, tidak memberi respon apapun. Bahkan sama sekali tidak tersenyum. Benar-benar...es abadi.
"Kita telah sampai."
Aku melihat ke depan. Terdapat sebuah pohon mati—tanpa daun—yang memancarkan cahaya berwarna merah darah. Pohon itu persis seperti pohon beringin, hanya saja tanpa daun dan akar gantung. Diameternya lebar, namun batangnya tidak terlalu tinggi. Cabang-cabangnya terlihat besar dan kokoh.
Edgar mengeluarkan sayap kelelawarnya, terbang perlahan menuju salah satu cabang pohon. "Sentuh cabang itu," perintahnya sembari melayang di dekat salah satu cabang pohon.
Aku mengangguk, menelan ludah sejenak. Takut-takut, aku mendekatkan tangan kananku ke cabang pohon. Kuku hitamku tampak mengkilap terkena sinar merahnya. Dan saat tanganku menyentuh cabang pohon itu, kuku hitamku berubah warna menjadi merah bercahaya.
Aku melihat ke arah Edgar, hendak bertanya apa yang terjadi. Namun ia sedang fokus akan sesuatu, memejamkan matanya sembari menyentuh pohon. Aku turut memejamkan mata, merasakan perubahan apa yang akan terjadi selanjutnya.
1 detik...
2 detik...
3 detik...
Tak ada perubahan...
5 detik...
"Mungil dan lemah sekali, seperti nyamuk. Aku bisa membunuhmu dalam sekali tepukan."
Aku kaget, menjauhkan tanganku dari pohon. "Papa, ada yang berbisik di telinga Elish." Aku melihat ke sekitar, hanya ada aku dan Edgar di sini. Tidak ada siapapun.
Apakah itu suara pohon ini?
Tanpa menjauhkan tangannya dari pohon, Edgar bercerita. "Ini adalah Tree of Eternity. Pohon ini dirasuki oleh arwah nenek moyang iblis bangsawan, Lilith. Kau bilang ada yang berbisik di telingamu? Itu adalah Lilith, Felice. Nenek moyangku, juga nenek moyangmu."
Aku terpana sejenak, kembali menyentuh cabang pohon sembari memejamkan mata. Namun tidak sempat aku bicara dengan Lilith, Madam Amber malah datang dan membawa berita yang membuat Edgar tersenyum mengerikan.
"Mata-mata itu tertangkap."
-~~~-