That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 18



Tidak terasa, sekarang umurku telah menginjak 4 tahun. Aku telah lancar berbicara, ucapanku sudah jelas, dan aku sudah bisa berlari. Sekarang ada satu latihan terakhir yang akan membuatku menjadi iblis sempurna.


Latihan terbang.


Aku berdiri di atas ranjang, belajar untuk tidak takut dengan coba melompat dari atas kasur ke lantai sembari mengepakkan sayap. Aku telah melakukannya berkali-kali, namun tidak ada perubahan signifikan. Tubuhku tetap jatuh bebas ke lantai. Tidak ada perlambatan.


"Felice tidak mengerti!!!"


Rekta yang sedari tadi duduk manis di sofa mendekat, menjilat wajahku untuk memberikan semagat. Aku merebahkan diri di perutnya, memainkan ekornya yang diselimuti oleh rambut-rambut hitam yang begitu halus. Padahal dulu Rekta jauh lebih besar dari aku. Sekarang perbedaannya tidak terlalu jauh. Aku tumbuh dengan cepat.


"Putri harusnya latihan mengepak terlebih dahulu, baru setelah itu belajar awalan dengan baik."


Aku membulatkan pipi. "Aku sudah bisa mengepak dengan baik, tau!" \=3\=)/


Ia menggeleng. "Kepakan kedua sayap Putri berbeda tadi, artinya Putri belum cukup baik dalam mengepak."


Aku bangkit untuk duduk, masih setia memainkan bulu ekornya. "Begitu?"


"Yap, begitulah."


"Kenapa kau malah duduk di lantai? Apa sofa ini sudah tidak berarti apa-apa untukmu?"


Aku menoleh, menemukan Edgar sedang berdiri di dekat pintu sembari membawa gulungan surat di tangannya. "Papa!" Aku berlari, melompat dengan riang ke arahnya. Dengan cepat tangan lelaki itu menangkap tubuh mungilku, membawaku ke gendongannya.


"Bagaimana? Ada kemajuan dengan latihan terbangmu?"


Aku langsung berekspresi sedih, menggeleng singkat sebagai jawabannya.


"Tidak apa-apa. Kau masih 4 tahun. Rata-rata anak dapat terbang di usia 5 atau 6 tahun, kau tau?" Edgar mencoba memberi semangat. Ia menunjukkan perubahan besar beberapa tahun ini. Ekspresi dingin yang dulu selalu dipasangnya tidak lagi ia tunjukkan padaku. Ia sebisa mungkin tidak menunjukkan sisi kejamnya di hadapanku. Ia juga lebih banyak tersenyum dan memberi semangat. Astaga, aku bahagia sekali.


Ia duduk di kursi kerjanya, mendudukkanku di pangkuannya. "Apa yang terjadi hari ini?"


Aku selalu bertanya hal itu, membuat Edgar bercerita sesuatu. Terserahlah, aku tidak peduli itu menarik atau tidak. Aku hanya suka caranya bercerita.


Lelaki itu berambut putih. Matanya semerah darah, persis seperti milikku dan Edgar. Ia memang tampak masih kecil, namun sudah pintar memasang senyum palsu agar kesan pertama iblis lain padanya bagus.


"Ingin papa kenalkan? Kalian bisa berteman baik."


Aku menggeleng cepat, memeluknya dengan erat. "Felice ingin menghabiskan banyak waktu dengan papa, hanya berdua!"


Edgar tertawa singkat. "Manja sekali. Baiklah, ayo belajar terbang bersama papa."


"Aaa tidak mau, Felice ingin istirahat saja."


Aku merengek, namun Edgar tetap mengangkatku menuju ke atas ranjang. Ia mengangkat tubuhku dengan kedua tangannya, membuat posisi tubuhku horizontal sempurna.


"Kepakkan sayapmu."


Aku segera mengepakkan sayap dengan cepat.


"Tidak tidak, pelan-pelan saja, kau membuat kepakannya tidak serentak."


Aku mengangguk, mengepakkan sayapku dengan perlahan sembari menyamakan ritme antara kiri dan kanan.


"Tambah kecepatannya."


Menuruti perkataan Edgar, aku mempercepat kepakan sayapku. Ia perlahan melepaskan tangannya dari tubuhku, membuatku menggeleng dengan wajah khawatir.


"Kau tidak akan jatuh, Felice. Ini sudah sangat baik."


Ya, aku melayang di udara. Tapi entah kenapa makin lama aku malah semakin turun dan akhirnya mendarat di atas perutnya. Aku menghembuskan napas, kemudian tersenyum. Ada peningkatan!


"Baiklah, sekarang ayo tidur."


-~~~-