That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 20



Hanya dengan melihatnya, aku bisa paham bahwa Kerajaan Alasca begitu identik dengan warna kuning. Ada enam bendera berwarna kuning yang berkibar di sepanjang jalan menuju istana setelah kami melalui gerbang istana. Istananya tidak sebesar istana tempatku tinggal. Ahh, aku bukan mencela, hanya bercerita.


"Yang Mulia Raja Edgar Sair El Lucifer dan Tuan Putri Felicia Sair El Lucifer memasuki ruangan."


Aku menggenggam erat tangan Edgar, cukup kaget dengan suara yang menggema di seluruh penjuru ruangan. Kedatangan aku dan Edgar sampai diumumkan begitu. Edgar benar-benar dihormati oleh semuanya.


Aku tidak boleh membuatnya malu apalagi terlihat lemah di hadapan iblis lain! '^')ง


Kami melangkah masuk ke dalam ruangan. Tidak seperti sebelumnya, wajah Edgar tampak sangat mengerikan. Tubuhnya diselimuti aura hitam yang membuatnya tampak lebih menakutkan. Aku turut berekspresi dingin seperti Edgar. Entahlah, aku juga tidak tau apakah aku terlihat berwibawa seperti Edgar atau malah terlihat lucu.


Ruang tengah yang dijadikan ruang pesta dihiasi oleh kristal-kristal berbagai ukuran yang memancarkan cahaya berwarna kuning lembut. Di ujung ruangan terdapat semacam orkestra yang membawakan musik bernada pelan dan lembut. Tidak jauh berbeda dengan pesta ulang tahunku, pesta ini lebih banyak diisi oleh iblis dewasa yang sibuk mengobrol untuk mempererat hubungan politik mereka.


"Tidak aku sangka sang Raja Iblis nan Agung akan meluangkan waktunya untuk menghadiri pesta ulang tahun anak tertuaku."


Sebuah suara menyapa, membuatku dan Edgar reflek menghadap ke samping. Tampak seorang pria berwajah tampan mendekat sembari tersenyum dengan ramah. Rambut silvernya disisir rapi ke belakang. Irisnya berwarna merah seperti darah. Ia adalah iblis bangsawan.


Ia menunduk sebentar, memberi hormat padaku. "Selamat datang, Tuan Putri Felicia."


Aku hanya menatapnya tanpa memberi balasan.


"Anakmu persis sekali sepertimu. Cantik, memiliki rambut hitam legam nan indah, dan tatapan yang membuat orang-orang tertarik untuk melihatnya lebih dalam."


Tangannya bergerak, berniat menyentuh tanganku. Namun api hitam terlebih dulu muncul, membuat iblis itu memundurkan kembali tangannya.


"Lancang sekali. Jauhkan tanganmu, Azeroth."


"Ah, maaf atas kelancanganku, Yang Mulia. Tapi telah menjadi tradisi keluargaku bahwa laki-laki keluarga ini diharuskan mencium tangan tamu wanita sebagai penghormatan." Raja Azeroth menjelaskan dengan nada lembut.


"Aku tidak peduli," balas Edgar dingin.


"Ayah, ada yang...ahh maafkan aku."


Ia tampak lucu sekali, bersembunyi di belakang Raja Azeroth. Tangannya memegang erat kaki sang ayah. Penasaran, anak itu mengintip sedikit. Saat pandangannya bertemu dengan tatapan Edgar, ia langsung begidik ngeri dan bersembunyi lagi di belakang kaki sang ayah.


Lucunyaa. ≧ω≦)♡


"Keluarlah, perkenalkan dirimu pada Felicia." Raja Azeroth mendorong punggung anaknya, hingga sekarang ia berada 2 meter di hadapanku.


"Aku...aa...aanak ketiga Raja Azeroth Amon Bael, Ryan Amon Bael!"


Wajahnya memerah, lucu sekali. ≧ω≦)♡


Aku menatapnya datar. "Apa kau benar-benar laki-laki?"


Matanya membelalak, kaget dengan responku.


"Bicara dengan malu-malu dan gugup seperti itu. Seperti wanita saja."


Bahkan sekarang Raja Azeroth memasang wajah terkejut yang begitu jelas. Aku jadi sedikit khawatir. Apakah responku terlalu kasar? (。ŏ_ŏ)


"Benar-benar seperti ayahnya, ya," ucap Raja Azeroth diiringi dengan tawa singkat.


"Aku tidak seperti wanita!" teriaknya lantang, tapi wajahnya masih memerah seperti tomat.


"Kalau begitu bersikaplah seperti laki-laki. Tegas sedikit."


Ia terdiam, tampaknya tidak tau lagi harus mengatakan apa. Aku memilih untuk menunduk sejenak, memegang kedua sisi rok dress merahku yang mengembang. "Felicia Sair El Lucifer, putri tunggal Edgar Sair El Lucifer. Senang berkenalan denganmu."


Edgar memang tampak biasa saja saat melihat hal itu, tapi aku percaya dalam hati ia pasti terpana melihat putri semata wayangnya yang baru pertama kali menghadiri sebuah pesta sudah bisa berlaku layaknya seorang putri yang anggun. Lihatlah perubahan besar ini papaku tercintaa~


- O w O -