That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 64



Seminggu setelahnya, diadakan pesta besar di Kerajaan untuk menyambut kelahiran si kecil. Ares Vermillion Gregory.


Banyak hadiah yang diberikan oleh kenalan, sahabat, dan rakyat Kerajaan Athelion. Ratu Melissa duduk di dekat ranjang Ares. Aku bisa melihat di balik wajah cantik dan senyum manisnya, ia masih merasakan rasa sakit.


"Ratu Melissa, ini adalah teh yang telah aku campurkan dengan berbagai bahan lain yang bisa membuat penyembuhan diri menjadi lebih cepat."


Ia tersenyum. "Terima kasih Tuan Putri, kau baik sekali."


"Dan maaf karena papa tidak bisa datang. Ia harus pergi menghadiri jamuan di Kerajaan Serubia."


Ratu Melissa menggeleng. "Tidak Tuan Putri. Kau telah meluangkan waktumu yang berharga untuk menghadiri undanganku, juga memberikan hadiah. Ini sudah lebih dari cukup."


Aku tersenyum, menunduk sejenak, kemudian pergi untuk memberikan kesempatan pada makhluk lain yang mengantri di belakangku. Sekarang aku harus mencari seseorang yang bisa diajak berbincang. Di mana para putri? Astaga ramai sekali, aku tidak bisa menemukan mereka...


"Tuan Putri Felicia?"


Aku berbalik. "Ahh Pangeran Ryan."


"Bagaimana kabarmu?" Basa basi yang sudah sangat basi. Bisa tanyakan hal lain? Misalnya apakah aku suka daging naga atau tidak.


"Aku baik."


"Ahh, syukurlah." Ia mengangguk kecil.


Kami terlalu sibuk berbincang, tidak menyadari ada makhluk yang sedang memperhatikan kami dengan hati penuh dendam.


- O w O -


Apapun jenis perayaannya, siapapun tuan rumahnya, yang namanya pesta tidak akan lengkap tanpa dansa.


Dan para jomblo harus menepi untuk memberikan ruang pada mereka yang berpasangan.


Aluna tampak menarik Ryan ke tengah. Hal yang sama dengan yang ia lakukan saat pesta perkenalan Alleria minggu lalu. Dan seperti biasa Ryan akan menurut dengan wajah terpaksa. Gerakan kaki dan tangan mereka tanpa cacat. Mungkin karena mereka sudah lumayan sering berdansa bersama.


Alicia menatapku. Ia melambaikan tangannya, memberi kode untuk mengajakku ke tengah ruangan.


Aku menggeleng, menolak ajakannya. Selain karena tidak punya teman dansa, aku juga tidak terlalu pintar dalam hal itu. Aku tidak lagi berlatih dansa sejak pesta perkenalanku diadakan.


Alicia memutar bola matanya, memutuskan untuk mendekat dan menarik tanganku. Aku tetap menggeleng, berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya. Namun genggamannya terlalu kuat. Tanganku baru terlepas saat aku yelah memasuki bagian tengah ruangan, tempat dimana para iblis berdansa.


"Ahh—"


Mendadak Reon menarik tanganku, membawaku ke dekapannya. Orang ini tidak sopan sekali. Menyebalkan.


"Aku akan sangat terhormat jika Tuan Putri Felicia bersedia berdansa denganku," bisiknya sembari bergerak ke kiri dan kanan.


Aku menggeleng kecil. "Aku tidak bisa berdansa, Pangeran Mahkota. Lebih baik jika aku kembali."


Ia mengabaikan perkataanku, malah melingkarkan salah satu tangannya di pinggangku, dan yang lainnya menggenggam tanganku. Kami masih bergerak ke kiri dan kanan.


"Pangeran Mahkota, kau yang memaksaku. Aku tidak akan bertanggung jawab jika nanti kakimu terinjak atau kita jatuh dengan memalukan."


Ia tertawa kecil, melapaskan tangannya dari pinggangku. Ia mengangkat tanganku yang ia genggam. Kemudian aku berputar beberapa kali hingga akhirnya kembali ke pelukannya.


Dan aku nyaris menginjak bagian belakang gaunku.


"Tidak buruk—shhh."


Baru saja ia ingin memuji, kaki kananku telah menginjak salah satu kakinya. Aku reflek menunduk. Sebuah kebiasaan yang tidak pernah hilang.


"Jangan menunduk. Kau bisa menghancurkan kakiku jika kau mau."


Astaga makhluk ini terdengar seperti papa...


"Bagaimana rasanya diinjak oleh Tuan Putri yang cantik seperti aku?"


"Luar biasa. Berapa berat badanmu?"


Aku tersenyum manis. "Kau ingin mati?"


Ia tidak merespon. Tanpa kami sadari musik pengiring telah berhenti. Ia melepaskanku, mundur beberapa langkah untuk memberi jarak. Kami saling memberi hormat, hingga akhirnya semua iblis di dalam ruangan bertepuk tangan. Dengan meriah.


Dalam hati, aku berterima kasih pada Reon karena telah menyelamatkan harga diriku.


- O w O -