
Tidak lama setelah aku menangis dengan sangat keras, para pengawal dan pelayan langsung datang ke kamarku. Wajah mereka tampak kaget, terpaku pada mayat lelaki yang bersimbah darah di lantai. Edgar menatap mereka dengan matanya yang dingin. Tersirat rasa marah di wajahnya yang selalu berekspresi datar.
"Apa saja yang kalian lakukan sehingga iblis rendahan ini bisa memasuki istana sesuka hatinya?"
Mereka hanya diam, bersiap untuk menerima yang terburuk. Dari yang pernah aku dengar, Edgar tidak pernah memberikan hukuman yang main-main saat anak buahnya melakukan kesalahan.
Aku meremas pakaian yang dikenakan Edgar, membuat perhatiannya sekarang terfokus kepadaku. Aku menatap matanya, berharap ia mengerti bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk marah.
Wajahnya melunak. Terdengar hembusan napas panjang dari mulutnya. "Besok, tepat jam 9 pagi kalian harus berada di Istana Altair."
Edgar berbalik, berjalan menuju balkon dengan langkah cepat. Muncul sayap lebar berwarna hitam dari balik jubahnya. Sayap itu persis seperti sayap kelelawar, dengan bentuk seperti selaput tipis dan kuku tajam di persendiannya. Sayapnya mulai mengepak
Baiklah, ini agak menyeramkan saat membayangkan ia tidak sengaja menjatuhkanku dan akhirnya aku mati konyol (lagi).
Aku mengeratkan cengkramanku pada bajunya, kemudian memejamkan mata. Ia sudah mulai terbang. Aku merasakan gesekan angin di pipiku. Aah, semoga tangannya tidak melakukan kesalahan agar aku tidak terjatuh.
Perlahan, aku membuka kedua mataku. Ahh, bagus sekali. Aku tidak bisa melihat apa-apa karna Edgar mendekapku dengan erat. Padahal aku ingin melihat pemandangan menarik yang tercipta dari atas sini. Di kehidupanku yang sebelumnya aku sama sekali belum pernah naik pesawat.
"Baiklah, kita sudah sampai."
Edgar mendarat di sebuah kamar yang penuh dengan nuansa hitam dan emas. Kamar ini boleh dikatakan cukup sepi untuk kamar seorang kaisar, hanya diisi oleh sebuah ranjang berukuran besar, sebuah sofa, sebuah meja, lemari pakaian, rak buku, dan lemari yang berisi banyak sekali pedang.
Jadi, dimana aku akan tidur?
"Kita harus mandi terlebih dahulu. Kau ternoda oleh darah."
Dan noda darah ini berasal dari anda, ya, bagus sekali Edgar.
"Mahessa!"
Pintu kamar dengan cepat terbuka. Muncul seorang pria dengan pakaian formal serba hitam, kontras dengan rambutnya yang berwarna perak. Lelaki itu berlutut, tangan kanannya diposisikan menyentuh jantung. Dan lagi, wajahnya tampan.
"Suruh pelayan untuk menyiapkan air hangat dan perlengkapan mandi untuk bayi. Aku akan datang dalam 10 menit."
Benar-benar seenak jidat.
"Dimengerti, Yang Mulia."
Lelaki berambut putih itu beranjak, segera melaksanakan apa yang Edgar katakan. Kasihan sekali si tampan itu.
"Kau akan melupakan ini, bukan?"
Edgar mulai bicara. Nada suaranya terdengar sangat serius, bercampur dengan nada khawatir.
"Jangan sampai kau terlibat dengan ini."
Edgar membawaku ke pelukannya untuk memberikan rasa aman. Pelukannya terasa tidak begitu nyaman. Yah, wajar. Edgar baru beberapa kali menggendongku. Tangannya belum begitu terbiasa.
-~~~-
Aku dimandikan oleh salah satu pelayannya. Namanya Lina. Perempuan itu tampak seperti wanita berumur tiga puluhan jika ditaksir dengan umur manusia. Rambutnya berwarna kecokelatan, dicepol tinggi agar tidak mengganggu. Sentuhannya begitu lembut. Tampaknya Lina telah berpengalaman dengan ini.
Edgar berada tepat di sampingku, merendamkan dirinya di dalam kolam berisi air hangat dengan taburan bunga mawar dan berbagai wewangian. Matanya terfokus padaku, memperhatikan dengan seksama bagaimana cara Lina memperlakukanku.
Lina hanya tersenyum, sembari tangannya membersihkan sisa sabun di tubuhku. "Yang Mulia begitu menyayangi Putri Felice, ya?"
Edgar menghembuskan napas panjang. "Kita hanya berdua. Jangan memanggilku dengan sebutan itu, bu."
...bu? WHAT?!
"Ahaha, baiklah, Ed. Kau begitu menyayangi Felice, huh? Padahal kau begitu bernafsu ingin membunuhnya saat ia masih berada dalam kandungan Putri Brezenska."
Ah, fakta baru yang mengejutkan.
"Entah, hasrat itu hilang entah kemana." Tangan Edgar bergerak, mengusap kepalaku dengan sangat lembut. Ia kemudian menambahkan, "Makhluk ini polos sekali, aku tidak bisa membunuhnya. Tidak seperti ibunya yang haus kekuasaan."
Astaga aku tersentuh. Tidak sepantasnya kata-kata itu terlontar dari mulut seorang iblis. Aku mempertanyakan keiblisannya.
"Maukah ibu merawatnya? Memberinya kasih sayang seperti ibu merawatku dulu?"
Aku mengerti. Lina bukan ibunya, melainkan pengasuhnya.
Lina memberikan senyuman manisnya. "Kehormatan untukku, rajaku."
-~~~-