That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 57



"Oh Tuan Putri Felicia, sungguh, aku bahagia sekali. Kita akan melewatkan sepanjang malam dengan bercerita."


Viona begitu antusias saat aku datang. Ia menyiapkan sebuah kamar besar yang berlokasi cukup dekat dengan kamarnya. Ia juga menyuruh beberapa pelayan membawakan pakaian untukku. Sekarang kami sedang makan malam berdua di balkon kamarnya.


Dan sepertinya makhluk ini tidak akan membiarkanku tidur malam ini.


"Maaf jika aku merepotkanmu."


"Astaga kau sudah mengucapkan itu ribuan kali. Kau sama sekali tidak merepotkanku. Aku sangat senang karena kau di sini."


Aku sedikit paham kenapa Viona begitu antusias dan bersemangat. Ia adalah anak perempuan satu-satunya di Kerajaan Alasca. Ia tidak bisa membicarakan hal-hal tertentu bersama laki-laki, walaupun itu saudaranya. Ada beberapa hal yang hanya bisa dipahami oleh wanita.


"Kau tau? Biasanya aku akan makan malam sendirian di ruang makan. Ayah dan Ibu lebih suka berduaan dari pada bersama anak-anaknya. Kak Reon dan Ryan akan kembali larut malam dan makan berdua."


"Ke mana Pangeran Reon dan Pangeran Ryan?"


Viona menunjuk ke arah belakangku. Aku mengikuti arah jarinya, menemukan sebuah lapangan besar dan beberapa orang yang sedang berlatih pedang di sana. "Sedang berlatih."


Aku mengangguk paham, kembali mengalihkan pandangan ke arah makananku.


"Jujur saja aku bersyukur memiliki mereka berdua. Aku memiliki dua saudara yang sangat hebat. Kak Reon yang sangat pandai dan perhatian walaupun selalu berwajah dingin. Ryan yang sangat menghargai Reon, bersumpah setia padanya, sedikitpun tidak memiliki rasa iri karena tahta tidak akan diwariskan padanya."


Aku terdiam, melihat Viona yang sedang memandangi lapangan tempat kedua saudaranya berlatih.


"Aku tidak akan takut suatu saat nanti kerajaan akan terpecah dan aku harus memihak pada salah satunya seperti Putri Cornella."


Aku mengerutkan kening. "Ada apa dengan Putri Cornella?"


Sekarang Viona balas menatapku. "Kau tidak tau?"


Aku menggeleng. "Tidak."


"Pangeran Mahkota Daniel dan Pangeran Tristan sedang tidak akur. Pangeran Tristan merasa bahwa ialah yang pantas menjadi pewaris tahta. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Putri Cornella."


Viona mengangguk. "Jika keadaannya memburuk, aku akan membujuknya untuk tinggal di sini. Pasti akan lebih menyenangkan!"


Aku turut mengangguk. "Semoga Pangeran Reon dan Pangeran Ryan akur untuk selamanya."


"Umm, Tuan Putri Felicia?"


Aku meletakkan garpu dan pisauku di atas piring. "Apa?"


"Sepertinya kau tidak tau, tapi memanggil Kak Reon tanpa diiringi gelar "Pangeran Mahkota" itu tidak sopan loh."


Aku membesarkan mata. "Benarkah?"


Viona mengangguk.


"Astaga maafkan aku. Aku baru tau ini."


"Kedudukan Kak Reon itu berada satu tingkat lebih tinggi dari pada Ryan. Ia adalah Pangeran Mahkota, dan Ryan adalah Pangeran. Kau tidak bisa menyamakan panggilan mereka. Sama dengan kau dan aku. Kedudukanmu satu tingkat lebih tinggi dari pada kedudukanku. Tidak sopan jika aku memanggilmu Putri Felicia. Aku harus memanggilmu dengan Tuan Putri Felicia," jelas Viona panjang lebar.


"Kenapa kedudukanku lebih tinggi dari pada kedudukanmu?"


"Karena kau adalah putri tunggal, otomatis tahta akan diwariskan kepadamu nanti. Aku hanya putri biasa, itulah bedanya," jawabnya.


"Jadi jika nanti papa memiliki seorang anak laki-laki aku akan dipanggil Putri Felicia?"


Viona mengangguk. "Dan nanti aku akan berkedudukan sama denganmu saat aku dan Pangeran Mahkota Nathan menikah. Mereka akan memanggilku Tuan Putri, sama denganmu."


Aku mengangguk kecil. "Baiklah, aku paham. Maafkan aku, lain kali akan aku sebut dengan lengkap."


- O w O -