That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 25



Pagi ini aku dibagunkan satu jam lebih cepat dari pada biasanya.


Lima pelayan yang biasa melayaniku berlarian ke sana ke mari mengurus berbagai hal yang diperlukan untuk pesta ulang tahunku nanti. Oh iya, pestanya akan dilangsungkan jam lima omong-omong. Aku tidak terlalu suka pesta di siang hari. Jadi aku meminta Edgar untuk memundurkan jadwalnya menjadi jam lima.


Pagi ini aku diberi sarapan berupa jus bengkoang, yogurt, roti, dan buah pisang. Mereka bilang ini sangat bagus untuk kesehatan kulit. Membuatku terlihat cantik dan menawan adalah prioritas utama mereka saat ini.


"Sudah selesai sarapan?"


Terdengar sebuah suara dari arah pintu, membuatku melirik ke arah sana. "Papa!"


Aku turun dari bangku, berlari kecil ke arah lelaki itu sembari tersenyum. "Felice sedang sarapan. Temani Felice, ya?" tanpa menunggu persetujuan, tanganku segera menarik lengannya agar ia duduk di sofa dan menemaniku sarapan.


Bertanya-tanya kenapa aku sarapan di kamar? Itu karena seluruh meja di ruang makan juga telah dipindahkan ke tempat lain dan ruangan itu sekarang menjadi tempat untuk berpesta. Jadi, aku harus sarapan di kamar hingga seluruh furnitur di ruangan itu dipindahkan lagi ke tempat semula.


"Apa papa sudah sarapan?" tanyaku sembari memasukkan sesendok besar yogurt ke dalam mulut.


"Sudah," jawabnya singkat. Matanya masih terus menatapku, membuatku sedikit kurang nyaman. Ada apa?


"Kenapa papa menatap Felice begitu?"


Ia hanya diam, tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannyalah yang bergerak. Jari telunjuknya menyentuh pangkal hidungku, tepat di antara kedua alisku.


"Konechnyy uroven' zashchity."


Sebuah lingkaran sihir berwarna merah muncul dari jari telunjuknya, mengeluarkan cahaya lembut berwarna merah yang menyinari seluruh tubuhku. Aku memejamkan mata, menunggu apa yang terjadi pada tubuhku selanjutnya.


"Zashchita krasnogo drakona, svyazano s etim, dal'niy magicheskiy bar'yer."


Aku tetap memejamkan mata, menunggu Edgar selesai dengan mantra-mantra sihirnya. Saat merasakan jarinya tidak lagi berada di keningku, kelopak mataku perlahan terbuka. "Sihir apa itu, pa?"


Ia bersandar di sofa. "Perlindungan untukmu, dan jika terjadi sesuatu padamu—apapun itu, entah perasaanmu tidak nyaman atau ada yang menyakitimu—aku akan langsung mengetahuinya."


Ouh, manis sekali.


Aku bergerak, memeluknya dengan erat. Aku hadiahkan sebuah ciuman lembut di pipinya, kemudian lanjut menyandarkan kepalaku di dada bidangnya. "Terima kasih, papa."


"Satu lagi."


Ia mengeluarkan sebuah kotak dari dalam jubah hitamnya, menyodorkan kotak itu padaku. Isinya adalah sebuah kalung. Matanya berbentuk seperti mawar, berwarna merah darah, dan mengeluarkan bau yang persis seperti mawar.


Aku mengangguk, tersenyum. "Baiklah."


-~~~-


Tepat jam 12, para pelayan mulai mengoleskan berbagai krim di tubuhku. Mereka bilang ini demi kelembutan dan kecerahan kulitku. Rambutku juga diberi semacam cairan berbau bunga yang terasa dingin di kepala. Mereka bilang ini demi keindahan rambutku. Tidak lupa, mereka juga memakaikan semacam masker yang terasa dingin di wajah.


Setelah selesai dengan semua urusan di kamar mandi, mereka memakaikan sebuah dress berlengan pendek berwarna merah yang sangat elegan. Kali ini gaunnya merah sempurna, tanpa ada hiasan berwarna hitam maupun bordiran emas. Aku tidak terlalu bisa menggambarkannya. Kira-kira begini fotonya.



Aku memakai sepatu berwarna merah hari ini, senada dengan warna gaunku. Rambut hitamku yang panjang ditata rapi, namun simple. Aku juga tidak bisa memberikan gambarannya pada kalian, tapi beginilah kita-kira fotonya.



Semua persiapanku telah selesai. Aku membuka kotak perhiasan berwarna merah berisi kalung mawar yang dihadiahkan Edgar padaku tadi pagi.


"Tunggu, Tuan Putri? Apa putri akan memakai kalung itu?"


Aku mengangguk. "Iya, ini perlindungan dari papa untukku. Kenapa?"


Brianna memegang dagunya, berpikir sejenak. "Baiklah, tidak buruk. Aku akan memakaikannya."


Aku mengizinkannya, memberikan kotak itu pada Brianna. Ia segera memasang kalung itu di leherku, kemudian tersenyum saat semuanya beres. Pekerjaannya tidak pernah mengecewakan.


Setelah berputar 360 derajat di depan cermin untuk memastikan tidak ada yang kurang, aku berjalan pelan untuk keluar dari kamar. Tak disangka Edgar telah berada di depan pintu kamarku, memakai setelan yang senada dengan warna gaunku. Rambut panjangnya tetap ia biarkan tergerai, dihiasi dengan mahkota emas berhiaskan permata berwarna merah darah.


"Lama sekali, dasar wanita."


Aku membulatkan pipi. "Papa, aku tidak ingin tampil jelek dan membuatmu malu. Jadi jangan pernah protes untuk masalah itu."


Ia hanya diam, mengusap kepalaku dengan sangat lembut. Ia memang tidak menunjukkan ekspresi apapun. Namun aku paham bahwa ia senang, ia bahagia. Ia hanya sedang berada di "mode Raja yang Kejam". Coba saja jika sekarang kami sedang berada di kamarnya. Mungkin ia akan tersenyum manis dan menciumku.


"Baiklah, ayo pergi."


- O w O -