
"Kau menangis?"
Aku hanya diam, tidak tau harus menjawab bagaimana. Aku belum menanagis. Namun air mataku telah membendung, siap untuk jatuh. "Pangeran pernah pergi berperang?"
"Pernah, kenapa?"
"Seperti apa keadaannya?"
Ia mengerutkan kening. "Kenapa kau bertanya begitu?"
"Papa akan memimpin peperangan dan dia akan meninggalkanku, hiks." Tidak lagi bisa menahan, akhirnya tangisku pecah. Aku tidak lagi peduli ia akan menganggapku bagaimana. Felicia yang anggun, yang pintar meracik berbagai ramuan, bisa menangis karena papanya akan pergi berperang.
"Astaga kau ini persis seperti Viona saat pertama kali aku pergi berperang."
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, menggigit bibir agar isakanku tidak didengar oleh dua pengawal di depan pintu kamarku.
"Hei, hei, kau tau? Yang Mulia Raja Edgar adalah iblis paling kuat yang ada di neraka. Kerajaanmu juga kerajaan terkuat. Mereka yang berani angkat senjata sama saja dengan cari mati."
Aku mulai menurunkan tanganku, berhenti terisak dan menatapnya dengan mata sembap dan wajah basah penuh air mata. "Benarkah? Papa tidak akan kenapa-napa?"
Ia mengangguk. "Jadi berhentilah menangis, oke?"
"Lalu bagaimana denganku? Papa bilang akan menitipkanku pada Bibi Nayla. Dan aku tidak suka padanya."
"Kenapa kau tidak menyukainya?"
"Karna dia tidak menyukaiku."
Sekarang Reon terdiam. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Kau bisa tinggal di kerajaanku jika kau mau. Dimana Yang Mulia Raja? Aku akan bicara pada—"
"Tunggu." Aku mengerutkan kening. "Maksudmu aku akan tinggal di kerajaanmu sampai papa pulang?"
"Setidaknya lebih baik dari pada kau harus tinggal di istana Ratu Nayla. Ada Viona yang akan menamanimu, juga pasukan kerajaan yang akan menjagamu."
Benar juga. Tapi...kenapa aku merasa tidak enak begini?
"Kau yakin?"
Aku mengangguk.
"Jika kau berubah pikiran, kerajaanku akan selalu terbuka untukmu."
Aku tersenyum, senyuman yang benar-benar tulus dari hati, walaupun aku tau mata sembap dan hidung merahku akan membuat senyuman itu tampak jelek. Ia ternyata baik hati, walaupun terkadang jahil.
"Terima kasih. Dan omong-omong ada perlu apa kau ke sini?"
Ia mengambil sesuatu dari dalam pakaiannya, mengeluarkan sebuah kotak kecil dengan ukiran bunga salju di seluruh sisinya. "Untukmu, sebagai ucapan terima kasih karena telah membuatkanku salaf luka bakar, juga sebagai permintaan maaf karena membuat tanganmu memerah seperti tomat di pesta perkenalan Putri Alleria."
Aku mengerutkan kening, mengambil kotak kecil itu dari tangannya. "Haruskah kau lakukan itu? Lagian tanganku hanya memerah, tidak sampai putus."
Isinya lulur mandi beraroma strawberry dengan campuran yogurt. Aku bisa tau dari aromanya.
"Kau tidak mau? Beginikah caramu menghargai pemberian seseorang?"
"Begitukah caramu minta maaf?"
Ia terdiam, melihat ke arah lain dengan wajah kesal.
Jujur perasaanku jadi sedikit lebih baik. Kalau saja makhluk ini tidak datang, mungkin aku masih menangis tersedu-sedu karena Edgar akan pergi berperang, juga karena aku harus dititipkan di istana Nayla yang sangat tidak menyukaiku.
Aku tidak ingin Rekta tinggal di sini. Ia harus berada di sisi Edgar saat berperang nanti. Tapi siapa yang akan menjagaku? Edgar bilang Mahessa juga tidaj memiliki kemampuan berpedang yang begitu hebat. Hanya otaknya yang cemerlang. Madam Amber juga hanya pintar membuat ramuan.
Tinggal di Kerajaan Alasca juga tidak mungkin aku lakukan. Mereka akan kerepotan dengan penyusup bayaran Kerajaan Agatha yang datang nyaris setiap minggu. Aku juga belum pernah mendengar ada tuan putri yang menginap di kerajaan lain sebelumnya. Aaah apa yang harus aku lakukan...
"Pangeran Reon?"
- O w O -