That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 56



Reon Amon Bael



Nama Panggilan : Reon


Umur : 26 thn


Tanggal Lahir : 1 September


Tinggi Badan : 192 cm


Berat Badan : 83 kg


Makanan Fav : Puding kopi


Minuman Fav : Minuman beralkohol


- O w O -


Viona Amon Bael



Nama Panggilan : Viona


Umur : 21 thn


Tanggal Lahir : 27 Mei


Tinggi Badan : 169 cm


Berat Badan : 43 kg


Makanan Fav : Cheesecake


Minuman Fav : Teh hijau


- O w O -


Ryan Amon Bael



Nama Panggilan : Ryan


Umur : 16 thn


Tanggal Lahir : 24 Februari


Tinggi Badan : 186 cm


Berat Badan : 73 kg


Makanan Fav : Daging ayam


Minuman Fav : Jus jeruk


- O w O -


"Kau sudah berjanji."


Reon membuka jubahnya, memakaikan benda berwarna hitam itu padaku. Ia menggenggam pergelangan tanganku, menarikku menuju ke balkon.


"Tunggu." Aku menarik tanganku, membuat langkah kami terhenti.


"Aku harus memberitahu salah satu pelayanku agar mereka tidak khawatir."


Ia kembali menarik tanganku. "Aku sudah meminta Pangeran Mahkota Arthur untuk bicara pada tangan kanan Yang Mulia Raja yang bernama Amberlene, bahwa jika tebakan kami benar, kami akan membawamu ke Kerajaan Alasca."


"Tunggu." Aku kembali membuat langkah kami terhenti.


"Apa lagi Tuan Putri Felicia?" tanya Reon dengan nada terdengar kesal.


"Aku harus membawa beberapa pakaian—"


"Tidak perlu. Akan aku berikan yang baru."


"Hey..."


Sekarang Reon hanya menatapku dengan wajah mengerikan, menunggu alasan aku menghentikannya.


"Bisa sedikit longgarkan genggamanmu? Ini lumayan sakit."


Ia langsung melepaskan tanganku, meninggalkan jejak merah di sana. Wajahnya tampak diselimuti perasaan bersalah.


"Tidak masalah, ini tidak akan membuatku mati, tidak usah khawatir. Lebih baik sekarang kita pergi, ayo." Sekarang aku yang menariknya menuju balkon. Tidak lupa aku kembali mengunci pintu balkon dengan sihir keamanan tingkat tinggi yang diajarkan Edgar padaku.


Reon terbang lebih dulu, aku mengekorinya. Suasana canggung mendadak tercipta di antara kami. Astaga harusnya aku tidak mengatakan itu. Tapi jika aku menahannya, tanganku bisa putus. Ia memiliki kekuatan yang besar, namun sepertinya ia belum bisa mengendalikannya.


Kami terbang menuju bagian belakang istana, tempat kuda kesayangan milik Reon berada. Di sana juga ada Daniel, Tristan, Ryan, dan satu lagi pangeran berambut panjang yang tidak aku kenal.


"Jadi tebakanmu benar, hmm?" tanya Daniel sembari berpangku tangan.


Reon yang baru saja mendarat membalasnya dengan anggukan. "Ada penyusup. Walaupun aku tidak tau siapa penyusup itu, tapi tetap saja membiarkan Tuan Putri Felicia sendirian adalah hal yang membahayakan."


Daniel Beelzebub, adik dari Cornella Beelzebub temanku. Ia pernah berpacaran dengan sepupuku Adelline. Tapi hubungan itu tidak berlangsung lama karena terungkap bahwa alasan Adelline berpacaran dengan Daniel adalah karena harta dan tahta, bukan karena cinta.


Kalian tanya apa aku mengenalnya? Tentu saja. Aku sering bertemu dengannya saat dulu papa berusaha membuatku dekat dengan bibi Nayla.


Tristan Beelzebub, adik dari Daniel dan Cornella. Saat ini ialah anak bungsu Keluarga Bangsawan Beelzebub. Tapi kemungkinan sebentar lagi ada yang akan menggantikan posisinya karena Ratu Kerajaan Arutimate sedang mengandung.


"Kau tidak diajari sihir perubah bentuk?" tanya Daniel.


Aku menggeleng, berusaha mencari posisi ternyaman untuk duduk di atas kuda. Kuda ini berwarna putih bersih seperti salju. Badannya besar, berotot, dan kekar. Reon berada di belakangku. Satu tangannya memegang kendali kuda, dan satu lagi memeluk tubuhku seakan aku adalah anak kecil yang akan jatuh jika tidak dipegangi.


Ughh, Rekta dalam bentuk anjing jauh lebih nyaman dari pada ini.


"Kenapa? Itu kan sihir yang mudah sekali."


"Kau tau sendiri kan pangeran, papaku itu menganggap enteng seluruh masalah. Ia tidak akan mengajarkan hal-hal semacam itu padaku."


Daniel tertawa singkat. "Mungkin Yang Mulia Raja ingin aku berada di sisimu untuk menjagamu."


Aku tertawa hambar. "Kau ingin mati?"


Ia malah tertawa lebih keras. "Ah benar juga. Ada yang akan membunuhku jika aku berani mendekatimu."


"Iya, papa akan mengiris dagingmu menjadi bagian-bagian kecil."


"Papamu? Atau pemilik Snowy?"


"Snowy?" aku mengerutkan kening.


"Tidak tidak, lupakan. Hahahahaha."


Ia masih tetap tertawa, dan itu sangat menggangguku.


- O w O -