
Pagi ini aku terbangun dan menyadari bahwa aku tidur satu ranjang dengan Edgar. Lelaki itu masih terlelap. Matanya terpejam dengan indah dan deru napasnya teratur. Edgar terlihat sangat tampan jika dilihat dari sini. Aku juga baru menyadari bahwa bulu matanya panjang. Yahh, selama ini aku hanya terfokus pada irisnya yang selalu menatap orang lain dengan dingin.
Semalam setelah mandi aku langsung terlelap di gendongan Edgar. Aku tidak tau apa yang terjadi setelah itu. Memiliki tubuh bayi membuatku sangat mudah lelah dan mengantuk. Berbeda dengan tubuhku di masa lalu yang telah terbiasa begadang demi game dan tugas kuliah.
Ahh, lapar.
Aku kembali melirik Edgar, mencoba membangunkan lelaki itu dengan menyentuh lengannya. Haeeii ayo bangun, aku lapar.
"Nggh..."
Berhasil! Dia mulai melakukan peregangan diiringi desahan pelan. Astaga ayahku seksi sekali. Bangun tidur disuguhi beginian, nggak tahan dedek, bang.
"Kau bangun lebih dulu, hm? Apa kau lapar?"
Ayahku peka sekali!
"Aamm mmm." (read : iya, aku lapar.)
"Baiklah, ayo kita makan. Lina pasti telah membuatkan makanan untukmu."
Edgar perlahan membawaku ke gendongannya. Uwaah, sepertinya Edgar mulai terbiasa. Gendongannya mulai terasa nyaman. Bahkan saat ia berjalan aku tidak lagi merasa terganggu.
Ahh tunggu, kita akan kemana? Hei tunggu! Aku biasanya makan di kamar, aku tidak mau makan di luar!!!
"Abaa baamm." (read : kembali ke kamar!)
Aku menggerakkan tangan dan kakiku tidak jelas, menolak dibawa keluar dari kamar. Tapi terlambat, karena kami sudah di ruang makan sekarang. Ahh, kaum rebahan seperti aku sangat tidak suka keluar dari kamar. Ayo bawa makanan itu dan kita makan di kamar saja.
"Ahh, Putri Felicia."
Siapa lagi lelaki ini?!! Wajahnya menghangat, terkesan aneh. Tangannya perlahan mendekat ke arah pipiku. Aihhh aku tidak suka ini.
"Lembut sekali," gumamnya sembari memainkan kedua pipi bulatku.
"Mahessa, ia merasa tidak nyaman." Edgar menghadiahi lelaki itu tatapan seram, namun lelaki itu tampak tidak mempedulikannya.
"Tidak masalah—"
"Singkirkan tanganmu atau hari ini akan menjadi hari terakhirmu untuk hidup."
Kali ini Mahessa memilih mundur sembari menyingkirkan tangannya dari pipiku. Wajahnya terlihat sedih. Pelayan di istana tempatku tinggal sebelumnya pernah berkata bahwa Edgar tidak pernah main-main dalam memberikan hukuman. Lebih baik mundur daripada kehilangan nyawa.
Lina datang membawa semangkuk bubur dan sebotol susu. Edgar membiarkanku digendong oleh Lina sembari diberi makan oleh wanita itu. Ahh rasanya manis di lidah dan sedikit menjijikan saat melalui kerongkongan. Aku berharap aku cepat tumbuh besar sehingga aku tidak usah memakan makanan dengan tekstur menjijikan seperti bubur lagi.
"Berikan laporan hari ini."
Terdengar Edgar memberikan perintah pada Mahessa, membuat lelaki yang tadinya berwajah sok imut seperti kucing itu kini berwajah serius. "Pelayan dan prajurit di Istana Vega telah sampai sejak 30 menit yang lalu."
"Ahh, aku memang menyuruh mereka datang. Masukkan mereka ke dalam hutan arwah selama sebulan. Entah apa yang mereka lakukan. Felicia nyaris mati tadi malam." Edgar malah ngomel sendiri.
"Kau tidak jadi membunuhnya, Ed? Dasar tsundere." Mahessa berkata dengan nada jahil, diiringi tawa singkat.
"Laporan lain." Edgar malah mengalihkan topik pembicaraan, seakan sangat menghindari fakta bahwa ia berencana membunuhku saat aku baru saja dilahirkan.
Mahessa tersenyum miring. "Kenapa tiba-tiba tidak jadi? Apa kau berencana untuk tidak percaya pada kata-kata Madam Amber?"
Ahh, Madam Amber, aku tau dia. Ia adalah salahsatu karakter penting di game Underworld. Madam Amber digambarkan seperti wanita muda dengan rambut silver dan pupil mata seperti reptil. Ia adalah iblis yang suka mencuri dengar pembicaraan antara dewa dan malaikat mengenai apa yang akan terjadi di masa depan. Karena itulah kata-kata Madam Amber sangat dipercaya oleh para iblis juga manusia.
Apa yang dikatakannya pada Edgar?
"Aku punya alternatif yang lebih bagus." Edgar mengambil cangkir berisi teh hitam di hadapannya dan mulai menyesap minuman itu. Mahessa mengerutkan keningnya, menatap Edgar dengan berbagai pertanyaan di otaknya. Edgar tidak menjelaskannya secara langsung. Ia hanya memberikan senyuman miring pada Mahessa, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah makanan yang menunggu untuk disentuh.
-~~~-