
* Felicia PoV *
Aku sedang bersantai di sofa sembari membaca buku saat Reon dengan tidak sopannya membuka pintu kamarku tanpa mengetuk terlebih dahulu. Napasnya terengah-engah, tampak seperti orang yang baru saja berlari puluhan kilo meter. Ia berdiri tepat di depanku, menyentuh kadua bahuku dengan wajah penuh rasa khawatir.
"Kau baik-baik saja, bukan?"
Aku mengerutkan kening. "Apa aku terlihat sakit?"
"Baiklah, berarti kau baik-baik saja," ucapnya sembari menyeka keringat dari dahinya.
Ada yang tidak beres di sini...
"Ada apa?"
Ia melirikku. "Yang Mulia Raja Claude ada di sini, di kerajaanmu. Ia pasti berniat menculikmu."
Aku membelalakkan mata, menurut saat ia menarikku menuju jendela. Tapi aku segera menarik tanganku, menatapnya dengan curiga. "Dari mana kau tau hal itu?"
"Imanuel, sepupumu. Para pangeran berencana melakukan perburuan tadi, dan ia bilang ia berangkat dengan ayahnya. Mereka berpisah di dekat hutan."
Aku mengerjap beberapa kali, berusaha memahami perkataannya.
"Tapi tidak terjadi apa-apa di sini."
"Belum."
"Astaga Pangeran Mahkota Reon, kau kira papaku akan meninggalkanku di sini tanpa pertahanan? Tidak, ia meninggalkan beberapa orang kepercayaannya. Jangan khawatir," ucapku sembari mengibaskan tangan.
Reon mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. "Astaga kenapa wanita ini begitu tidak ingin meninggalkan istananya barang hanya sebentar?"
Aku hanya memutar bola mata.
"Begini saja. Aku akan di sini hingga malam nanti. Jika terjadi sesuatu, berjanjilah kau tidak akan menolak untuk tinggal sementara di kerajaanku."
Aku berpangku tangan. "Aku bertanya-tanya kenapa kau begitu perhatian padaku?"
Sekarang ia terdiam. Aku memang sudah tau jawabannya, bahwa ia menyukaiku. Tapi aku bertanya-tanya bagaimana ia bisa menyukai aku yang baru bertemu dengannya beberapa kali? Ayolah ini bukan Drama Korea dimana sang aktor utama akan menyukai si wanita karna ia terlihat berbeda, karna ia belum pernah bertemu dengan wanita seperti ia sebelumnya.
"Astaga, ternyata kata-kata seperti itu juga digunakan oleh para iblis. Benar-benar tidak kreatif," aku bergumam.
"Apa katamu?"
Aku menggeleng. "Lupakan. Aku akan menurutimu, oke? Kau boleh membawaku jika Paman sialan itu memang benar-benar ada di sini."
Sekarang ia tersenyum miring, seperti bersyukur akan sesuatu.
"Sekarang biarkan aku membaca buku. Aku sedang ada di bagian serunya tadi." Aku kembali duduk di sofa, membuka buku novel iblis berjudul "Clarissa". Ceritanya sungguh mirip dengan kisah Cinderella, tapi bedanya kisah ini berakhir menyedihkan karena pada dasarnya iblis bangsawan tidak boleh menikahi iblis kalangan bawah. Kemurnian darah iblis bangsawan akan tercemar.
Reon duduk di sebelahku, melirik sejenak ke arah novel yang aku baca. "Clarissa yang menyedihkan."
Aku meliriknya. "Kau pernah membaca novel ini?"
"Hanya halaman paling awal dan paling akhir."
"Kau sungguh tidak menghargai penulisnya, Pangeran," komentarku sembari mengalihkan pandanganku kembali ke arah buku.
"Aku bisa menebak bagaimana jalan ceritanya hanya dengan membaca halaman awal dan akhirnya, untuk apa membaca semuanya?"
"Kau tidak akan merasakan bagaimana perasaan Clarissa yang tidak terlahir dari keluarga bangsawan, yang mencintai calon pewaris tahta kerajaan. Tidak akan tau bagaimana perasaan Pangeran Leo yang mencintai rakyat biasa. Kau tidak menikmati ceritanya."
Reon malah tertawa, seperti mengejek.
"Apa ada yang lucu dari kata-kataku?" aku menatapnya sinis.
"Tidak, hanya—"
"Tuan Putri Felicia, mohon perketat sihir keamanan di kamar Putri. Ada penyusup yang masuk ke istana."
Demi Lucifer...
- O w O -