That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 53



"Pangeran Mahkota Reon?"


Kami berdua serentak melihat ke arah pintu, menemukan Edgar yang menatap kami dengan wajah mengerikan. Reon sama sekali tidak terpengaruh dengan wajah menakutkan Edgar. Tidak muncul ekspresi ketakutan di wajahnya.


Ia menunduk, meletakkan tangannya tepat di depan ulu hati. "Hormatku padamu, Yang Mulia."


Edgar mengangkat tangan, membuat Reon kini berdiri dengan tegap. Ia tersenyum.


Edgar berlalu, memilih untuk duduk di sofa. Aku turut berdiri, menyuruh para pelayan membereskan meja makan. Dengan cepat meja bundar penuh makanan serta dua kursi di dekatnya telah berpindah lokasi. Tidak lupa, mereka menutup pintu kamarku dan menyisakan kami bertiga di dalam ruangan.


"Duduk," ucap Edgar.


"Baiklah." Aku mengangguk, berjalan mendekat dan duduk tepat di sampingnya.


"Kau juga duduk." Edgar melirik Reon.


Reon turut mengangguk. "Baiklah, Yang Mulia," ucapnya sembari bergerak dan duduk di sofa yang terletak di depanku. Kami dipisahkan oleh sebuah meja berbentuk persegi panjang beralaskan kain lembut berwarna merah.


"Yang Mulia, saya mendengar dari Tuan Putri Felicia bahwa anda akan memimpin peperangan." Reon membuka percakapan.


"Apa tujuanmu datang ke sini?" Edgar malah bertanya hal yang lain.


Muncul sedikit rasa takut di wajah Reon, tapi nampaknya ia berhasil mengatasi hal itu dan membalas dengan senyuman. "Adik saya Viona sangat suka meracik lulur dengan tangannya sendiri. Karena tidak enak badan, ia tidak bisa mengantar lulur buatannya sendiri. Jadi ia meminta saya untuk mengantarnya.


Aku menyodorkan kotak berukuran sepuluh kali sepuluh senti yang aku pegang sedari tadi. Edgar mengambilnya dari tanganku, membuka lulur itu dan memeriksa isinya. Ia akan memastikan bahwa tidak ada bahan-bahan aneh di dalam lulur itu.


Dan sepertinya memang tidak ada yang aneh-aneh, karena ia mengembalikan lagi kotak lulur itu ke tanganku.


"Baiklah, Felicia telah menerima hadiahnya. Sekarang kau boleh pergi."


Reon sama sekali tidak beranjak. "Tuan Putri Felicia sangat khawatir dan cemas karena ini adalah pengalaman pertamanya ditinggalkan untuk berperang."


Edgar melirikku, kemudian kembali melirik Reon.


"Saya bermaksud untuk menawarkan Tuan Putri Felicia untuk tinggal sementara di kerajaan saya, dan meminta izin pada Yang Mulia untuk hal ini."


Edgar terdiam. Kini bukan hanya sekedar lirikan singkat yang ia berikan. Ia benar-benar menatapku dengan dalam. Ia berfikir, aku tau itu. Ia memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi jika ia menyetujuinya. Ia juga memikirkan apa yang akan terjadi jika ia menolak.


"Apa jaminan bahwa kau tidak bekerja sama dengan Romeo?"


Sekarang Reon yang terdiam.


"Kau mengundangnya saat pesta perkenalanmu. Ia meracuni makanan yang disajikan untuk Felicia. Kau ingat kejadian itu, bukan?"


Reon mengangguk. "Saya sangat mengingatnya, Yang Mulia."


"Apa yang membuatmu yakin aku akan menyetujui hal itu?"


Reon seperti ditekan. Aura Edgar benar-benar mendominasi Reon. Tapi ia tetap berusaha tenang, menyusun kata-kata paling pas untuk diucapkan pada Edgar.


"Ia tidak suka tinggal di kerajaan Ratu Nayla, kerajaan ini juga akan mengalami penurunan keamanan saat para petinggi pergi untuk berperang. Kerajaanku akan membuatnya nyaman dengan kehadiran adikku Viona, juga memiliki keamanan yang lebih kuat, yang bisa melindunginya. Aku memang tidak bisa memberikan bukti bahwa kerajaanku tidak bekerja sama dengan kerajaan Yang Mulia Raja Romeo, tetapi juga tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kerajaanku dan kerajaannya bekerja sama."


Selama beberapa detik tidak ada yang bicara. Hanya ada suara detakan jam dan angin musim gugur uang bertiup cukup kencang.


"Maafkan aku, Pangeran Mahkota. Tapi jawabanku adalah tidak. Aku lebih memilih untuk meninggalkan beberapa iblis kepercayaanku untuk menjaganya dalam senyap. Aku menghargai tawaranmu. Terima kasih."


- O w O -