That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 58



"Tinggal sementara di Kerajaan Alasca?!!"


Aku mengusap kupingku. "Putri Aluna, teriakanmu cukup membuat telingaku berdenging."


"Uhm, maafkan Luna."


Hari ini Putri Alleria Vermillion Gregory yang baru saja diperkenalkan secara resmi, mengadakan jamuan teh untuk pertama kali. Aku awalnya tidak berniat untuk ikut karena akan sangat berbahaya jika aku pergi. Tidak ada yang tau apa yang menungguku di luar sana. Tapi Viona memohon hingga akhirnya membuatku luluh. Ia membawa kedua saudara serta dua pengawal pribadi yang sangat hebat dalam seni berpedang.


"Luna juga ingin menginap di sana. Rasanya akan sangat bahagia bisa bertemu dengan Pangeran Ryan setiap hari, berada di bawah atap yang sama dengannya, hihihi."


Aluna dan fantasi liarnya...


"Bagaimana hubunganmu dengannya? Ada perkembangan?" tanya Natasya.


Aluna menggeleng dengan wajah suram. "Apa Luna ini kurang cantik ya?"


"Tidak kak Luna, kau sempurna," ucap Alleria berusaha menghiburnya.


"Bagaimana denganmu? Kau punya seseorang yang disuka?"


Pertanyaan dari Natasya sukses membuat wajah Alleria memerah. "Aku...aku masih sangat muda untuk itu..."


"Lalu kenapa wajahmu memerah?" Natasya malah ketagihan menggoda anak itu. Dari respon yang ia berikan, sudah jelas terlihat bahwa ia menyukai seseorang.


"Aaku...aku tidak menyukai siapapun!" Sebelum Natasya sempat bicara, Alleria dengan cepat berdiri dan meninggalkan meja makan sembari berteriak, "Aku akan mengambil tambahan makanan ke dapur! Permisi!"


"Astaga lucu sekali anak itu," Viona yang duduk tepat di sebelahku menggeleng singkat. Ia menuangkan teh hangat ke gelasnya. Asap beraroma wangi mengepul di atasnya.


"Luna akan menyusulnya, permisi," ucap Aluna sembari berdiri dan turut meninggalkan meja.


"Akan aku tuangkan teh untukmu." Viona menuangkan teh di gelasku yang masih kosong.


Aku tersenyum. "Terima kasih."


Dan teh itu tidak mengeluarkan aura apapun. Ini aman.


- O w O -


* Author P o V *


Harusnya Aluna tetap bersama para putri.


Menyusul Alleria adiknya hanyalah alasan belaka. Sebenarnya, Aluna bertujuan untuk menemui Ryan. Aluna bisa menebak Ryan dan kakaknya Reon pasti sedang berada di tempat latihan bersenjata bersama kakaknya Arthur.


Benar saja. Mereka bertiga ada di ruangan latihan memanah. Masing-masing mereka menggenggam sebuah busur kayu. Luna tersenyum, hanya berdiri di balik pintu. Ia takut menjadi pengganggu karena sepertinya mereka sedang terlibat dalam suatu kompetisi.


"Harta, tahta, Tuan Putri Felicia. Aku pasti akan memiliki semua itu."


"Kakak, aku tidak butuh harta dan tahta, aku hanya butuh Tuan Putri Felicia!"


Senyuman di wajahnya perlahan memudar, hingga sepenuhnya menghilang. Ia hapal betul dengan suara itu. Apa katanya? Hanya butuh Tuan Putri Felicia? Apa artinya dia menyukai wanita berambut hitam legam itu?


"Akan kita selesaikan secara jantan. Ambil panahmu. Kita lihat siapa yang lebih pantas untuknya."


"Ayolah, tidak bisakah kau mengalah satu hal ini pada adikmu?"


"Kalahkan aku, aku akan mengalah setelahnya. Kau dan Putri Aluna lebih cocok, kau tau? Hei, Arthur, kau tidak berniat memaksanya menyukai adikmu? Kakak macam apa kau?"


"Terserahlah, aku tidak akan memaksa karena cinta adalah hak setiap orang. Tidak ada yang bisa memaksanya."


Bahkan sang kakak tidak mendukungnya, memilih menjadi pihak netral. Selama ini ia tau, ia benar-benar tau bahwa sebenarnya Ryan tidak memiliki perasaan serupa dengannya. Tapi Aluna terus berharap akan cinta lelaki itu. Ia percaya suatu saat nanti Ryan akan mencintainya jika ia terus berusaha.


Dan kini, di dalam hatinya muncul rasa sedih dan benci yang membara.


- O w O -