That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 61



Arthur Vermillion Gregory



Nama panggilan : Arthur


Usia : 90 tahun


Tanggal lahir : 17 Januari


Tinggi badan : 188 cm


Berat badan : 79 kg


Makanan Fav : Daging ayam


Minuman Fav : Minuman beralkohol


Relasi :


- Caitel Gregory (ayah)


- Melissa Vermillion (ibu)


- Alicia Vermillion Gregory (adik)


- Aluna Vermillion Gregory (adik)


- Alleria Vermillion Gregory (adik)


- Ares Vermillion Gregory (adik) (karna umurnya masih dua tahun, jadi aku nggak kasih visual dulu ya)


- O w O -


Alicia Vermillion Gregory



Nama panggilan : Liz


Umur : 43 tahun


Tanggal lahir : 1 November


Tinggi badan : 167 cm


Berat badan : 45 kg


Makanan fav : Pie susu


Minuman fav : kopi


- O w O -


Aluna Vermillion Gregory



Nama panggilan : Luna


Umur : 43 tahun


Tanggal lahir : 1 November


Tinggi badan : 167 cm


Berat badan : 45 kg


Makanan fav : Daging ayam


Minuman fav : Susu strawberry


- O w O -


Alleria Vermillion Gregory



Nama panggilan : Ria


Umur : 15 tahun


Tinggi badan : 159 cm


Berat badan : 35 kg


Makanan fav : Cokelat


Minuman fav : Susu cokelat


- O w O -


Kerajaan Serubia menyerah tanpa syarat.


Edgar dan kelima panglima tiba-tiba saja ada di kamarku pagi ini. Mereka sengaja datang untuk menjemputku. Aku berteriak bahagia, memeluk Edgar dengan erat. Astaga aku rindu sekali dengan aroma ini. Ia ternyata baik-baik saja.


"Apa papa terluka?"


"Sedikit, tapi langsung sembuh saat kau memelukku."


Aku membulatkan mata, langsung melepas pelukanku. Tapi ia menahanku agar terus berada di dekapannya.


"Biarkan begini sebentar. Aku begitu merindukanmu."


"Yap, aku tau wajahku selalu membuat orang-orang rindu."


Edgar melepas pelukannya. Tangannya bergerak, mengusap lembut kepalaku. "Jelek."


Aku reflek memukul lengannya, membulatkan pipi. "Jahat!"


Ia hanya merespon dengan tawa kecil. "Ayo pulang."


- O w O -


"Ada apa?"


Viona menatapku dengan mata berkaca-kaca. Tampaknya ia tidak rela aku meninggalkannya setelah beberapa minggu tinggal di sini. "Tidak, aku hanya sudah terbiasa dengan kehadiranmu. Dan aku akan sendirian lagi jika kau pergi."


Aku tersenyum, memberinya sebuah pelukan hangat. "Kau bisa berkunjung kapanpun kau mau. Gerbang Acacia selalu terbuka untukmu."


Sekarang ia tersenyum sembari memegang kedua bahuku. "Baiklah, aku akan berkunjung tiap kali aku merasa sepi. Jangan terkejut jika aku datang mendadak tanpa memberitahu."


"Kau juga boleh menginap jika kau mau."


Ia melepaskan bahuku, mengibaskan tangannya. "Ayo sana, naik keretanya. Kau pasti merindukan kamarmu."


Aku mengangguk, berbalik badan dan menaiki kereta. Selena—pelayan pribadiku—duduk di bangku depan, tepat di samping kusir. Kelima panglima menaiki kudanya sendiri, dan Edgar tentu saja bersamaku di atas kereta kuda.


Kereta kuda mulai bergerak, membawa kami keluar dari kawasan Kerajaan Alasca.


"Jadi bagaimana bisa kau menginap di sana?"


Aku menyandarkan tubuh pada Edgar. "Beberapa hari setelah papa pergi, para pangeran berencana berburu kembali di hutan dekat istana kita. Pangeran Imanuel ikut bersama mereka."


"Lalu?"


"Pangeran Imanuel pergi bersama Paman Claude. Para pangeran langsung ke istana untuk memastikan bahwa Claude tidak akan melakukan hal aneh-aneh. Dan tiba-tiba ada iblis masuk ke istana. Pangeran Mahkota Reon yang khawatir membawaku ke istananya. Begitulah."


Edgar terdiam sejenak, kemudian mengangguk kecil. Entah apa yang ada dalam pikirannya. "Lalu bagaimana kau bisa bertemu gadis budak itu?"


"Selena? Ohh, aku baru saja pulang dari acara jamuan teh Putri Alleria. Putri Viona mengajakku ke toko perhiasan. Aku bertemu dengannya di sana. Keadaannya sangat buruk, terutama kaki kirinya."


"Oh, benarkah?"


Aku mengangguk. "Pemiliknya yang sebelumnya mengikat kaki kiri Selena dengan rantai. Ikatannya terlalu kuat hingga kakinya cidera. Kejadiannya sudah beberapa minggu yang lalu, tapi cidera itu masih ada. Kakinya belum sepenuhnya sembuh."


"Kau kasihan padanya?"


Aku menunduk, perlahan mengangguk. "Maafkan aku."


Karena harusnya aku tidak memiliki rasa kasihan.


"Hei, kenapa kau minta maaf? Tidak masalah. Kau menuruni sifat ibumu. Kau memang membutuhkan pelayan pribadi. Bagaimana kepribadiannya? Apa kau menyukainya?"


Aku mengangguk. "Ia selalu membantuku."


Edgar turut mengangguk kecil. "Ceritakan lebih banyak. Apa saja yang terjadi selama aku tidak di sampingmu?"


- O w O -