That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 66



* Felicia PoV *


Setelah dansa berakhir, Reon memberikan kode agar aku mengikutinya. Aku mengangguk, berjalan di belakangnya hingga kami sampai di sebuah kolam ikan koi di samping istana.


Ia membalikkan badannya hingga sekarang kami saling berhadapan. "Kau tidak ingin mengucapkan sesuatu untukku?"


Aku mengerutkan kening. "Kau yang mengajakku ke sini, Pangeran Mahkota. Kau yang harusnya mengucapkan sesuatu terlebih dahulu."


"Oh begitukah?"


Aku menghembuskan napas. "Apa yang kau inginkan?"


"Apa yang biasanya kau lakukan setelah ditolong oleh iblis lain?"


Aku menatapnya dengan tatapan datar. "Memberikan nyawaku padanya?"


Dia ingin aku berterima kasih, tapi terlalu berbelit-belit. Astaga makhluk ini.


"Humm, tidak buruk."


Ia maju beberapa langkah, kemudian berlutut. Tangan kirinya masuk ke dalam setelan pakaian yang ia gunakan. Astaga, apa yang akan ia lakukan? Ia tidak mungkin melamarku kan?


"Tanganmu."


Tanpa bicara, aku langsung mengulurkan tangan.


Tangan kanannya langsung memegang tanganku. Kali ini ia tidak mencengkram dengan keras seperti yang biasa ia lakukan. Tangan kirinya memasangkan sesuatu di pergelangan tanganku. Itu adalah gelang, gelang yang aku gunakan untuk membeli Selena.


"Kenapa kau tidak meminta bantuanku? 80 koin emas tidak seberapa untukku."


"Aku tidak suka merepotkan orang lain."


Ia sekarang berdiri. "Jika kau butuh bantuan, jangan sungkan memintanya padaku."


Aku mengerutkan kening. "Sejak kapan kau berubah jadi sosok yang begitu peduli pada orang lain?"


Ia tidak menjawab, berlalu pergi meninggalkanku untuk kembali ke ruang tempat berpesta.


- O w O -


"Bagaimana rasanya berdansa dengan kakakku? Kau boleh memilikinya jika kau mau."


Aku baru saja bergabung saat Viona berkata demikian. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. "Sudah aku bilang, aku belum tertarik untuk itu."


Mata berbinar yang sempat ditunjukkan Viona langsung hilang, berganti dengan wajah cemberut.


"Wah, apakah cincin itu terbuat dari batu khatulistiwa?" tanya Alleria sembari menyentuh tangan kiriku untuk melihat cincin yang melingkar di jari tengahku.


"Yap. Ah, bagaimana dengan batu khatulistiwa milik Putri Aluna? Sudah ditemukan?"


Alleria mengangguk. "Ada di pot anggrek kucingku. Mungkin batu itu terjatuh, lalu salah satu pelayan menganggapnya kerikil biasa dan meletakkannya di sana."


Aku mengangguk kecil, mulai merasakan ada yang tidak beres di sini.


- O w O -


"Segelas susu cokelat untuk Tuan Putri Felicia."


Aku menoleh, menatap Selena yang tersenyum manis ke arahku. "Kau ingin membuatku gendut?"


Ia menunduk.


Ia akhirnya tersenyum, meletakkan susu itu di atas meja rias. Ia meraih sisir hijau itu dan mulai menyisir rambut hitamku yang masih basah.


"Tuan Putri sedang memikirkan apa?"


Selena itu tipe gadis yang ceria dan memiliki rasa ingin tau yang tinggi. Saat aku belajar di perpustakaan pribadiku, ia ikut menemaniku membaca buku. Bahkan ia juga meminjam beberapa buku untuk ia baca saat waktu senggang.


Ia sama sekali tidak bisa menggunakan ilmu sihir. Ini yang membuatnya terbuang dan menjadi budak. Padahal indranya memiliki kepekaan tinggi. Ia juga lumayan cerdas. Tapi aku belum bisa menaruh kepercayaan padanya, mengingat pesan Edgar bahwa ada banyak sekali pengkhianat di sekitarku, dan aku tidak boleh begitu saja mempercayai makhluk asing.


Selena masih tergolong asing karena ia baru melayaniku sekitar sebulan.


"Tuan Putri bisa membicarakannya denganku jika Tuan Putri tidak keberatan. Aku pandai menjaga rahasia."


"Kau pandai menjaga rahasia?"


Ia mengangguk, aku bisa melihatnya lewat cermin yang ada di depanku. "Tentu saja, Selena setia sampai mati padamu."


"Tapi papaku, Yang Mulia Raja Edgar, pernah dikhianati oleh makhluk yang ia anggap seperti ibunya sendiri," balasku sembari menyesap susu cokelat yang ia buatkan untukku.


Ia mengerucutkan bibir. "Artinya Tuan Putri belum sepenuhnya percaya pada kesetiaanku?"


"Belum. Bagaimana kau bisa setia pada orang yang suka menyuruh dan tidak bisa bicara dengan lembut seperti aku?"


Ia tersenyum. "Tapi makhluk yang suka menyuruh dan tidak bisa bicara lembut itu telah menyelamatkanku sebulan yang lalu. Ia juga mengizinkanku membaca buku, juga meminum susu coklat buatanku walaupun itu bisa membuatnya gendut."


Aku menghembuskan napas panjang. "Kau pandai sekali berkata-kata."


"Terima kasih, Tuan Putri." Ia tertawa dengan bangga.


"Itu bukan pujian."


Dan satu kalimat itu membuat tawa bahagianya seketika lenyap.


"Aku merasa salah satu temanku sedang berusaha menempatkanku dalam situasi sulit."


"Tuan Putri dijebak?"


Aku diam sejenak. "Kau ingat hari saat aku menemukanmu?"


Ia mengangguk. "Tidak akan pernah aku lupakan sampai aku mati."


"Saat itu kami terpaksa pulang karena mendadak sebuah barang berharga milik temanku hilang."


"Barang macam apa itu, Tuan Putri?"


"Batu khatulistiwa. Batu yang sangat langka dan mahal. Bahkan gajimu selama 5 tahun belum cukup untuk membelinya."


"Kalau begitu Tuan Putri naikkan saja gajiku," ucapnya dengan wajah tanpa dosa.


"Kau ingin dipenggal?"


Ia menggeleng. "Tidak Tuan Putri, aku hanya bercanda. Lalu apa hubungannya batu itu dengan Tuan Putri yang merasa sedang dijebak?"


"Tepat sesaat sebelum ia berteriak batunya hilang, mendadak ada kerikil kecil di dalam kantong gaunku. Aku membuangnya, meletakkannya di dalam sebuah pot tanaman anggrek kucing milik adiknya."


Keningnya berkerut. "Sepertinya aku mulai paham."


Aku mengangguk. "Saat pesta perayaan kelahiran Ares Vermillion Gregory, adiknya berkata bahwa batu itu ditemukan di pot tanaman anggrek kucing miliknya."


- O w O -