That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 29



Pagi ini sepertinya mood Edgar sedang sangat buruk.


Ia sama sekali tidak menyentuh rotinya, hanya meminum secangkir teh sembari membaca sebuah buku. Ini pertama kalinya Edgar membawa bukunya ke meja makan. Biasanya ia selalu meninggalkan buku-buku dan segala surat pentingnya di atas meja kerja. Ada apa dengan makhluk iniii?


"Papa, kenapa papa tidak memakan makanannya?"


Ia menoleh, menutup bukunya dan meletakkan benda itu di atas meja. "Aku kenyang."


Jawaban yang...uhhh menyebalkan sekali.


"Papa tumben sekali membawa buku ke meja makan. Apakah itu buku yang penting?"


Entah memakai sihir apa, buku itu seketika hilang dari atas meja. "Tidak begitu penting."


Aku bertaruh, pasti itu buku penting.


"Baiklah. Omong-omong Putri Viona mengundangku untuk minum teh di istananya. Apa aku boleh pergi, pa?"


Ia tidak langsung menjawab, malah menatap kedua mataku dengan tajam. Sepertinya aku meminta izin di waktu yang kurang tepat.


"Ahh, tentu saja papa boleh melarangku. Aku tidak akan memaksa untuk pergi jika memang papa tidak memberi izin."


"Tidak, pergilah. Aku tidak akan melarangmu."


Aku langsung berdiri, menunjukkan wajah bahagia. Padahal aku sudah yakin bahwa Edgar tidak akan mengizinkanku pergi karena kakek gila yang sedang mengincar nyawaku. "Benarkah? Apa ada syaratnya?"


"Humm..." ia berpikir sejenak, setelah itu berkata, "Bawa Rekta bersamamu. Jangan lupa memakai kalung mawar yang pernah aku berikan padamu."


"Yes! Baiklah, aku akan membawa Rekta dan memakai kalung itu." Aku langsung berlari, memeluknya sembari tersenyum. Selain untuk mengucapkan terima kasih, ini diperlukan agar mood Edgar sedikit lebih baik. "Terima kasih, papa. Aku sayang papa."


Ia hanya diam, tidak membalas. Yah, biasanya juga begitu sih. Dia hanya diam, tidak membalas ucapan manis yang aku katakan untuknya. Hanya mengelus kepalaku dengan lembut dan tersenyum samar.


"Kau memeluk terlalu lama."


"Tunggu! 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30. Baiklah." Aku melepaskan pelukanku, kemudian memberikan kecupan singkat di pipinya. "Aku pernah menonton film. Katanya dengan memeluk seseorang lebih dari 30 detik, ia akan merasa lebih baik."


Edgar mengerutkan keningnya. "Apa itu film."


Bodohnya diriku...


"Ahhh, itu...film itu...maksudnya...uhh, sebuah hiburan."


Edgar tidak bertanya lebih jauh. Ia mulai mengoleskan selai coklat pada rotinya dan mulai makan. Syukurlah, moodnya membaik. Apa ya yang membuat moodnya menjadi buruk? Apakah terjadi sesuatu yang mengancam kerajaan? Tapi jika itu memang terjadi, ia tidak akan mengizinkanku keluar dari lingkungan istana.


Apapun yang terjadi, aku berharap ia segera keluar dari mood jeleknya yang merepotkan itu.


- O w O -


Aku lahir di bulan empat, disaat angin musim semi membuat hampir seluruh bunga di taman menjadi mekar. Aroma harum dari tiap-tiap bunga bagai menyatu. Taman ini sudah seperti disiram oleh ratusan liter pengharum ruangan.


Aku duduk di salahsatu bangku yang terletak di bawah pohon besar. Pelajaran hari ini berakhir lebih cepat daripada biasanya. Madam Amber ingin berkunjung ke Istana Athelion, menemui Arthur untuk membicarakan suatu hal yang tidak boleh aku ketahui. Yang pasti itu sesuatu yang penting, karena ia tidak akan melewatkan waktu untuk mengajariku karena hal sepele.


Papa pergi, Mahessa pergi, Madam Amber juga pergi, para panglima sibuk melatih prajurit baru.


Ahh, aku lupa kalau aku memiliki dia.


"Rekta, aku bosan, ayo berbincang tentang sesuatu."


Yap, pengawal pribadiku.


Namun tak ada jawaban. Hanya ada suara angin.


"Rekta, aku tau kau ada di dekatku. Aku bosan, ayo mengobrol tentang sesuatu."


Masih tidak ada jawaban. Kemana makhluk itu? Bukankah Edgar sudah memerintahkannya untuk selalu berada di sisiku? Ahh, sepertinya ia harus dipaksa untuk keluar.


"Uhhh sakit, aaah!!!" Aku berpura-pura kesakitan, memegang perutku sembari menunduk.


Seketika terdengar sebuah langkah kaki yang begitu cepat menghampiriku.


"Tuan Putri, apa yang terjadi dengan perutmu?"


Kena kau.


"Tidak apa-apa," ucapku sembari tersenyum, kemudian melanjutkan, "Aku ingin kau menemaniku. Aku bosan."


"Tapi Putri—"


Aku menutup mulutnya, menatapnya garang. "Ini bagian dari tugas. Kau tidak boleh membiarkanku bosan karena selalu sendirian."


Ia hanya diam, memilih untuk duduk di sampingku dan menghela napas panjang. "Baiklah, aku juga tidak keberatan."


"Kalau kau tidak keberatan, kenapa kau sering sekali menghindar saat aku ingin mengajakmu bicara?"


Ia hanya menggaruk tengkuknya, melihat ke arah lain. "Aku tidak begitu nyaman berdekatan dengan seseorang."


"Jadi kau tidak nyaman berdekatan denganku? Apa yang membuatmu tidak nyaman? Apa aroma tubuhku tidak enak untuk dicium?"


"Ahh, bukan begitu Tuan Putri—"


"Aku hanya ingin mengatakan terima kasih karena telah mengajariku berdansa."


Sekarang ia terdiam, menunduk dengan wajah bersalah. "Maafkan aku, Tuan Putri. Aku hanya tidak begitu nyaman berdekatan dengan seseorang saat aku berwujud manusia."


"Kenapa?"


"Entahlah, mungkin karena terbiasa dalam wujud anjing."


- O w O -