
"Ed! Lylia dan empat pelayan lain mati di taman istana, dan ditemukan surat ini di tangannya."
Edgar menggendongku, menyandarkan kepalaku di dadanya. Tangannya bergerak mengelus kepalaku dengan lembut, seakan memberitahu bahwa aku akan baik-baik saja. Kematian Lilya tidak akan berdampak pada keamananku.
Madam Amber memberikan surat itu pada Edgar. Matanya seketika bercahaya. Seluruh ruangan ditutupi oleh aura hitam. Entah apa isi surat itu. Aku bisa menebak isinya adalah ancaman dan kata-kata merendahkan.
"Umumkan di seluruh istana, pesta ulang tahun Felice dibatalkan."
Perkataan Edgar membuat Madam Amber tersentak kaget. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Kau tidak bisa melakukan itu, Yang Mulia. Kau tidak bisa membatalkan acara yang akan dilangsungkan esok hari. Semuanya telah dipersiapkan oleh para pelayan dan kini persiapan itu sia-sia?"
Madam Amber bukan iblis. Ia adalah gorgon, manusia setengah ular. Ia masih memiliki sifat baik manusia. Ia masih memikirkan semua pelayan yang telah berususah payah mempersiapkan pesta untuk esok hari.
"Aku bisa melakukannya, Amber. Aku rajanya, mereka pelayanku. Jika pesta itu tetap dilaksanakan, keamanan seluruh tamu akan terancam. Terutama Felicia."
Ekspresi Edgar tampak dingin. Namun aku bisa melihat kemarahan di matanya. Ia tidak bisa mengambil resiko jika sasarannya adalah tamu.
"Aku telah meminta bantuan." Madam Amber tersenyum, melirik ke arah pintu. Muncul seorang lelaki berambut cokelat dari sana. Irisnya berwarna merah, memancarkan cahaya yang terlihat cukup menyeramkan. Ia tampak seperti remaja berumur 17 tahun, namun aku yakin ia lebih tua dari pada itu.
Lelaki itu tersenyum, kemudian menunduk. "Aku Arthur Vermillion Gregory, anak pertama Raja Caitel Gregory dan Ratu Melisa Vermillion. Sebuah kehormatan karena bisa bertemu dengan salah satu dari empat penguasa besar neraka."
Edgar mengabaikannya, memilih untuk menatap Madam Amber untuk meminta penjelasan.
"Kita harus bekerja sama dengan kerajaan Athelion. Kau tau? Musuh dari musuhmu adalah temanmu!"
Setelah mendengar penjelasan dari Madam Amber, Edgar meghembuskan napas panjang. Sejauh yang aku tau, Edgar bukan tipe pria keras kepala yang tidak akan mendengarkan siapapun. Ia selalu memikirkan pendapat orang lain. Seperti saat ini. Edgar memang diam, namun bukan berarti ia menolak argumen itu. Ia berfikir. Berfikir tentang kemungkinan yang dapat terjadi, baik dari sisi positif maupun sisi negatif.
"Panggil tiga panglima, aku ingin membahas suatu rencana."
-~~~-
Mereka membahas rencana itu di sebuah ruangan bawah tanah. Ruangan itu terletak tepat di bawah kamar Edgar. Pintu ruangan itu cukup sulit untuk ditemukan. Kalian harus menggeser beberapa batu dan membuat lemari senjata milik Edgar bergeser beberapa senti. Setelah itu kalian harus menemukan sebuah batu yang berfungsi sebagai tombol untuk membuat dinding bergeser. Batu itu cukup sulit ditemukan karena posisinya terus berubah-ubah.
Kalian bertanya apa aku ikut ke dalam sana atau tidak? Tidak, aku tidak ikut masuk. Edgar meninggalkanku di kamarnya bersama anjing hitam yang pernah tidak sengaja aku injak. Ia duduk di sebelahku, seperti melarangku untuk beranjak dari posisiku sekarang. Ekor tebalnya bergerak-gerak. Jujur aku sangat bernapsu untuk menyentuhnya.
"Bocan...papa macih aama?" (read : bosan, papa masih lama?)
Atau bisa berubah menjadi manusia?
"Aku tidak tau, tuan putri. Namun sepertinya Yang Mulia masih lama. Mereka baru saja masuk 15 menit yang lalu."
Nahh kan! Anjingnya bisa bicara! Aku mulai terbiasa dengan ini.
Aku menggembungkan pipi, menunjukkan ekspresi kesal karena jawaban yang diberikan si anjing. Baiklah, lebih baik mengobrol santai sembari menghabiskan waktu.
"Namamu chapa?" (read : namamu siapa?)
Aku mulai benci menjadi bayi. Semoga dia dapat mengerti ucapanku.
Anjing itu diam sejenak. Sepertinya ia menganalisa kata-kataku yang masih kurang jelas. "Rekta. Rekta Marchosias."
Oke, dia menganalisa dengan baik.
"Matamu catit?" (read : matamu sakit?)
Aku penasaran apa yang terjadi dengan mata kirinya. Bagian itu selalu ia tutupi dengan kain.
Rekta menggeleng pelan. "Aku hanya menutupi sebuah rahasia. Aku tidak sakit."
"Sebuah rahasia?"
Ekor tebalnya mengusap pelan wajahku. Terasa lembut dan geli di satu waktu. "Tuan putri memiliki rasa penasaran yang tinggi, ya. Terkadang memiliki rasa penasaran yang tinggi tidak berefek baik loh, tuan putri," ucapnya sembari tersenyum. Dan itu membuat rasa penasaranku semakin tinggi.
Aku hanya melihatnya dengan wajah polos, berharap ia akan memperlihatkan rahasia itu padaku. Wajahnya tampak enggan. Matanya seringkali melirik ke arah lain. Namun akhirnya ia luluh, menghembuskan napas panjang, kemudian berkata, "Baiklah. Lagian kau tidak akan ingat setelah kau beranjak dewasa nanti."
Kaki kanannya—mungkin lebih tepat disebut tangan—perlahan bergerak, menyingkirkan kain yang menutupi mata itu. Mataku membesar, ternyata...
-~~~-