
- Author PoV -
Pintu menuju ruangan rahasia selalu berubah setiap waktu. Hanya Edgar yang bisa menemukan pintu itu dan membukanya. Bagaimana tidak, ia sendiri yang memasang sihir pintu berpindah itu. Jadi memang hanya dia yang bisa menemukannya.
Kali ini pintu itu berada tepat di belakang lemari senjatanya. Lemari itu tidak bisa digeser dengan sembarang cara. Ada semacam tuas yang mengendalikan pergerakannya. Tidak sampai di sana, pintu masuk ke ruangan rahasia Edgar juga memiliki semacam sandi agar pintu itu terbuka.
Memang dirancang khusus agar hanya Edgar yang bisa membukanya.
"Kau di sini saja," ucap Edgar sembari meletakkan Felicia di atas ranjang bersama seekor anjing hitam bertubuh besar.
Felicia mengangguk, menyaksikan ayahnya menghilang di balik lemari senjata yang menutup dengan otomatis.
Edgar menuruni satu demi satu anak tangga menuju ke ruangan sana. Terdapat kristal berbentuk tengkorak yang memancarkan cahaya tertanam di dinding. Di belakangnya, terdapat seorang wanita dan tiga laki-laki yang terpesona dengan ruang rahasia Edgar.
Akan aku perkenalkan satu demi satu. Si wanita adalah Madam Amber, kalian tidak asing dengan wanita ini. Ia adalah gorgon yang menyelamatkan Felicia saat tidak sengaja memakan racun.
Yang kedua ada Arthur Vermillion Gregory, putra mahkota dari Kerajaan Athelion. Selain karena ia adalah teman dekat Madam Amber, kerajaan yang akan dipimpin Arthur di masa depan telah cukup lama bersiteru dengan Kerajaan Agatha. Tidak ada alasan untuk menolak kerja sama karena musuh dari musuhmu adalah sahabatmu.
Yang ketiga adalah Sacha E. Vassago, satu dari lima petinggi pasukan Kerajaan Acacia. Ia adalah lelaki paling tampan, paling dingin, juga paling hebat diantara yang lain. Rambutnya berwarna pirang, senada dengan matanya yang berwarna kuning cerah.
Yang keempat adalah Arcy Greamory, juga salah satu petinggi pasukan Kerajaan Acacia. Ia dikenal sebagai lelaki bermulut pedas dan suka sekali mencela. Kemampuan bertarungnya berada dua tingkat di bawah Sacha, namun ia adalah yang paling licik diantara yang lain. Rambutnya berwarna merah tua, dan matanya berwarna kuning cerah.
"Melihat dengan mudahnya ia meracuni makanan, artinya ia mengetahui dengan baik denah jalan tikus yang menuju ke dapur." Edgar menunjuk tiga jalan yang menuju ke dapur. Satu dari bawah tanah, satu dari atap, dan satu dari dinding sebelah kanan yang tertutup oleh tong raksasa berisi anggur.
Arcy mengangkat tangannya. "Bagaimana jika kita asumsikan bahwa ada mata-mata di sini?"
Madam Amber menjentikkan jari. "Setuju."
Edgar melirik sekilas ke arah Arcy. "Aku belum selesai bicara, Arcy."
Arcy terdiam, begitupun yang lain.
Edgar menunjuk jalan tikus yang pintunya berada di bagian loteng dapur. Dan jika diikuti, jalan keluarnya berada di taman belakang istana, tempat Lylia ditemukan mati. "Orang dalam selalu menjadi kunci utama dalam mengakses hal apa saja. Relasi, mata-mata, terlebih lagi orang terdekat."
Matanya memicing, melirik satu per satu makhluk di ruangan. "Aku mencurigai kalian juga tentunya, karna aku yakin ia memiliki kaki tangan di istana ini. Dan kaki tangannya pastilah orang terdekatku."
Madam Amber dan keempat lelaki lainnya mengangguk, memaklumi kecurigaan yang dimiliki Edgar.
"Aku akan menguji kalian satu per satu untuk memastikan kalian bukan kaki tangannya."
-~~~-