That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 23



Edgar tidak pernah main-main dalam perkataannya.


Waktu berlalu begitu cepat. Aku telah membaca hampir semua buku yang ada di perpustakaan milikku. Perpustakaan itu diberikan Edgar untukku sebagai hadiah ulang tahunku yang ke sepuluh. Aku juga telah belajar bagaimana bersikap sebagai tuan putri yang manis, anggun, namun tidak tampak lemah di mata iblis lain. Sesuai dengan janjiku, aku menjadi putri yang manis dan cerdas.


Dan Edgar memang tidak mengajariku apapun tentang seni bela diri. Jangankan seni bela diri, menyentuh pedang saja sama sekali tidak diizinkan. Dan hingga saat ini aku tidak tau apa yang menyebabkannya begitu melarangku menyentuh benda itu.


Empat hari lagi umurku tepat menginjak 15 tahun. Seluruh persiapan pesta ulang tahun sekaligus perkenalanku secara resmi pada kalangan iblis telah dimulai. Seluruh furnitur di ruangan tengah istana telah dipindahkan ke tempat lain. Lampu-lampu kristal ditempatkan di setiap sisi dinding, mengeluarkan cahaya berwarna kuning lembut.


"Ahh, maafkan aku."


"Tidak apa-apa, Putri. Lanjutkanlah."


Padahal pesta perkenalan itu akan dilaksanakan empat hari lagi. Tapi aku masih belum lancar berdansa. Aku benar-benar tidak ingin membuat Edgar malu. Tapi semakin aku berusaha belajar entah kenapa ini semakin sulit.


"Baiklah Putri, ini sudah cukup baik dari pada kemaren."


Sacha E. Vassago, satu dari lima panglima kerajaan, berbaring lemas di atas lantai. Ia sudah hampir sebulan mengajariku berdansa dengan benar. Namun aku seperti tidak ada perubahan. Padahal pada pelajaran lain cukup mudah untuk mempelajarinya. Kenapa dansa ini begitu sulit?


Aku turut merebahkan diri di sebelahnya. "Apa kau sudah menyerah mengajariku?"


"Tentu saja tidak," jawabnya singkat sembari menyeka keringat yang mengalir di dahinya. Astaga hot sekali bung.


"Aku jadi sedikit ragu untuk mengajak papa berdansa. Aku akan menyakitinya dan membuatnya malu jika nanti aku tidak berhasil."


Sacha melirikku. "Percayalah, Putri. Yang Mulia sungguh sayang padamu. Apapun yang kau lakukan, asalkan bersamanya, ia akan merasa bahagia."


"Boleh hari ini kita selesai lebih cepat? Aku ingin mengumpulkan keberanian untuk meminta papa berdansa bersamaku di hari ulang tahunku." Nada suaraku terdengar begitu menyedihkan.


"Baiklah," ucapnya sembari berdiri dan keluar dari ruangan.


Aku berbaring sejenak, melihat lurus ke arah lampu kristal yang terletak di langit-langit. Apa yang harus aku katakan? Papa mau berdansa denganku di pesta perkenalanku nanti? Tapi aku belum terlalu fasih, papa harus sabar saat aku tidak sengaja menginjak kaki papa nanti. Hummmm...tidak buruk.


Aku tau ia tidak akan menolak. Pasti, dia tidak akan menolak, tapi...aaahhh tidak bisa begini terus.


"Putri Felice, kenapa kau berbaring di lantai?"


Aku melirik, menemukan Rekta yang sedang duduk di dekat pintu. Tampaknya Sacha tidak menutup pintunya saat ia keluar tadi, sehingga Rekta dapat masuk dengan mudah.


"Berpikir. Aku tidak tau apa yang menyebabkanku begitu sulit untuk mempelajari ini."


Rekta kini berdiri, berjalan pelan ke dekatku. "Ingin aku ajari?"


"Bagaimana mungkin aku akan diajari berdansa oleh seekor anjing, Rekta?"


"Kata-katamu begitu kasar, putri."


Tubuh anjing Rekta perlahan membesar. Bulu-bulu di tubuhnya menghilang, bagai masuk ke dalam kulitnya. Posisi tubuhnya yang tadi membungkuk kini berdiri tegak. Kedua kaki belakangnya berubah struktur, menyerupai kaki manusia. Kedua kaki depannya juga berubah menjadi tangan. Wajahnya juga berubah, menjadi lelaki yang begitu tampan.


Setampan itu!


Ia mengulurkan tangannya. "Berdansalah denganku, Putri Felicia."


"Tunggu!!!" Aku mengerjap sejenak. "Tunggu dulu, sejak kapan kau bisa berubah menjadi manusia?"


"Sejak aku dilahirkan."


"Tapi...tapi...selama ini...aku kira kau hanya anjing yang disihir ayah sehingga kau bisa bicara..."


"Oh, jadi Tuan Putri tidak tau bahwa aku bisa berubah menjadi manusia?"


Aku menggeleng, masih dengan wajah yang menunjukkan sebuah ekspresi kagum dan kaget.


"Dan Tuan Putri juga tidak tau bahwa aku telah diperintahkan oleh Yang Mulia menjadi pengawal pribadimu sejak kau berusia enam bulan?"


Aku menggeleng lagi.


"Aku kira Yang Mulia memberitahumu."


"Aku butuh berpikir, sebentar."


Rekta tertawa sejenak. Matanya menyipit sempurna saat ia tertawa. Astaga manis sekali.


"Maafkan aku, Tuan Putri. Aku hanya tidak ingin membuatmu tidak nyaman jika aku memperlihatkan wujud manusiaku padamu. Kau nyaman bukan, saat aku berada di sekitarmu dalam wujud anjing yang lucu?"


Aku mengangguk. Memang benar. Aku memang dekat dengan Mahessa, juga Arcy, Sacha, Shinji, dan Brandon. Tapi tidak sedekat aku pada Rekta. Tapi entah bagaimana sikapku padanya setelah ini. Perubahan wujudnya membuatku cukup kaget.


"Kenapa kau baru menunjukkannya sekarang?"


"Karna aku ingin mengajari Tuan Putri berdansa."


"Hanya karena itu?"


Ia mengangguk dengan wajah polos.


Baiklah, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Jadi, apakah Tuan Putri mau berdansa denganku?" Tangannya kembali terulur, menunggu untuk disambut.


"Baiklah..."


- O w O -