That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 35



"Yang ingin mundur, silahkan. Akan aku maafkan kalian. Turunkan senjata, dan lari."


Mereka berdua belas masih berdiri, mengelilingi kami dengan wajah garang. Beberapa berkeringat, tangannya bergetar. Mereka paham mereka akan kalah, mereka tau itu. Tapi ada satu alasan yang membuat mereka tidak mau mundur. Entah apa. Aku tidak tau.


"Baiklah, maju!"


Semua serentak maju, mulai menyerang dengan asal-asalan. Rekta menunduk, membuatku mengikutinya. Serangan iblis-iblis itu benar-benar tidak karuan, sehingga mereka melukai temannya sendiri. Beberapa iblis mundur, melepaskan pedang mereka dari tangannya.


Dua iblis melayangkan pedangnya dari arah depan. Segera, Rekta menahan kedua pedang itu dengan miliknya. Ia tampak cukup kerepotan karena iblis yang kini melawannya memiliki mata berwarna kuning. Mereka keturunan iblis pejuang.


Ia menghentakkan pedangnya sehingga kedua iblis itu terjatuh ke belakang. Dengan gerakan cepat, ia mengayunkan pedangnya ke belakang dan membuat dua iblis yang diam-diam hendak melukainya dari belakang seketika mati dengan keadaan cukup mengenaskan. Kepalanya terputus dari badan.


Rekta bukan lawan yang sepadan untuk mereka.


"Kyaa! Rekta!"


Seorang iblis yang menggunakan tombak hendak menusukku, namun dengan cepat kaki kanan Rekta bereaksi dan reflek menendang benda tajam itu hingga terlempar jauh. Ia kembali melayangkan pedang tajamnya, membuat sebuah luka lebar di perut iblis itu. Ia tersungkur di tanah, sekarat.


Seorang iblis berbadan besar melayangkan pedangnya, yang disambut baik oleh pedang milik Rekta. Terdengar bunyi yang memekakkan telinga saat kedua benda itu berbenturan. Tampaknya orang ini cukup kuat. Ia mampu menahan layangan pedang Rekta, bahkan lebih dari tiga kali. Hingga akhirnya Rekta muak dan menendang kepala iblis itu hingga terjatuh.


Rekta kembali melayangkan pedangnya. Awalnya aku kira kedua iblis itu akan mati di tangannya, namun ternyata salah satu diantara mereka lebih pintar. Ia melompat ke belakang sehingga hanya temannya yang mati, dengan luka menganga di dada. Aku bisa melihat dua jantungnya. Darah mengucur deras dari sana.


Dua iblis keturunan pejuang yang sebelumnya tersungkur di tanah kembali bangun, menggenggam pedangnya dengan kedua tangan. Rekta hendak menyerangnya, namun ia lebih memilih untuk mengayunkan pedangnya pada dua iblis yang menyerangnya dengan senjata semacam pedang, namun melengkung. Gerakan mereka cukup sinkron, menyerang Rekta secara beruntun. Ditambah lagi dengan dua iblis yang tadi hendak diserangnya.


"Argh..."


Rekta cukup kerepotan sehingga seorang iblis berhasil memberinya luka di lengan kirinya. Tampaknya itu membuat Rekta sedikit marah. Gerakannya dua kali lebih cepat dari pada sebelumnya. Dua iblis berhasil ia pukul mundur. Dengan gerakan tangan vertikal sedikit turun ke bawah, ia membuat tangan kedua iblis itu putus. Mereka berteriak, berlutut di tanah dengan wajah kesakitan.


Satu iblis lagi maju dengan gerakan yang gegabah. Rekta hanya mengarahkan pedangnya ke depan. Benda tajam itu mendarat tepat di perutnya. Darah mengalir dari pedangnya Rekta. Saat pedang itu dicabut, tubuh iblis itu langsung tersungkur di tanah.


Sekarang hanya tinggal dua iblis. Yang satu berbadan kecil, memakai pedang yang melengkung. Yang satu berbadan besar, iblis yang mampu menahan gerakan pedang Rekta tadi.


Sebuah ledakan besar muncul dari belakangnya, membuat kedua iblis itu berbalik, menemukan pemandangan yang lebih mengerikan.


- O w O -