That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 32



Aku selalu penasaran. Kereta ini dibawa oleh empat black unicorn. Mereka memiliki sayap. Kenapa mereka tidak membawa kereta ini terbang? Itu akan lebih menghemat waktu. Dan lagi tidak akan ada guncangan karena roda kereta yang tidak sengaja melewati batu kerikil dan jalan kurang rata.


Sedari tadi Rekta fokus melihat ke luar jendela, memperhatikan pohon-pohon yang berjejer rapi dan berbagai hewan yang melintas. Entah apa menariknya, tapi ia terlihat begitu fokus.


"Bagaimana keadaanmu?"


Rekta menoleh, kini terfokus untuk bicara denganku. "Berkat pengobatan dari Tuan Putri, aku sekarang merasa lebih baik."


Aku tersenyum. "Syukurlah."


Ia kembali memperhatikan ke arah luar, fokus memperhatikan pemandangan yang tampaknya jauh lebih menarik daripada bicara denganku.


"Hei, kau memperhatikan apa?"


"Romeo itu sungguh licik, Tuan Putri. Ia bisa saja memasang jebakan atau semacamnya yang bisa membuatmu celaka. Itu kebiasaan keluarga Belphegor yang pemalas. Mereka tidan mau turun langsung ke medan pertempuran, lebih menyukai membuat suatu alat yang bisa menghancurkan atau mencelakai musuhnya atau menyuruh orang-orang bodoh yang mau dibayar dengan uang dan wanita."


Baiklah, aku paham sekarang. Bukan hanya di dunia ini, dunia manusia pun juga begitu. Orang-orang malas biasanya adalah orang yang jenius. Mereka menyelesaikan masalah mereka dengan cara unik sehingga mereka tidak perlu bergerak banyak dan menghabiskan tenaga.


"Hei, Romeo pasti menyiapkan jebakan hanya jika ia tau bahwa hari ini aku akan pergi, bukan?"


Rekta mengangguk. "Benar sekali."


"Yang artinya jika ada jebakan atau penyerangan, artinya masih ada antek-antek Romeo yang menetap di istana."


Rekta melihat ke arahku, sedikit tersenyum. "Tuan Putri Felicia sungguh cerdas. Memang itulah keadaannya. Jika tidak ada penyerangan, artinya Romeo tidak mendapatkan informasi apapun, dan istana bersih."


Aku tidak lagi menanggapinya, membiarkan Rekta fokus dengan tugasnya. Dan syukurnya, tidak ada masalah apapun selama perjalanan tadi. Artinya, tidak ada lagi antek-antek Kerajaan Agatha yang menyamar.


Kerajaan ini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Di gerbang kerajaan ada tiga pasang bendera berwarna kuning yang berkibar ditiup angin. Istana mereka dominan bercat kuning, dan pakaian para pelayannya juga dihiasi oleh corak awan berwarna kuning.


"Selamat datang, Tuan Putri Felicia."


Para pelayan serentak menunduk saat aku turun dari kereta. Satu dari mereka maju, tersenyum dengan ramah kepadaku.


"Putri Viona telah menunggu Tuan Putri di taman istana. Mari saya antarkan."


"Terima kasih," ucapku sembari membalas senyumannya, kemudian mengikutinya menuju ke taman istana.


Berbeda dengan taman milikku, taman milik Viona dihiasi oleh bunga-bunga beraneka warna. Mereka mengeluarkan aroma yang nyaman di hidung. Melihatnya juga membuat mata menjadi segar. Pemandangan ini jarang aku temukan karena di sekitar istana hanya ada bunga yang berwarna merah.


Sadar akan kedatanganku, Putri Viona langsung berdiri dan tersenyum manis. Ternyata sudah ada tiga gadis lain yang sudah datang. Dan aku mengenal mereka semua.


"Silahkan duduk, aku akan memperkenalkanmu dengan teman-temanku."


"Terima kasih." Aku beranjak duduk tepat di samping seorang gadis berambut cokelat yang aku kenal sebagai Miranda Asmodeus, Tuan Putri kerajaan Andalas.


"Baiklah, sekarang kita tinggal menunggu si kembar."


Aah, aku paham. Yang mereka maksud pasti Alicia dan Aluna.


"Memiliki saudara memang sedikit merepotkan, yah," balas Miranda dengan wajah lesu. Ia memiliki seorang adik yang cukup bebal. Amanda namanya, masih berumur 10 tahun. Wajar jika ia sedikit mengeluh.


"Apa Nathan dan Lucas tidak membantumu untuk mengurus Amanda?" tanya Cornella Beelzebub, gadis berambut merah muda yang mudah sekali ditemukan di keramaian. Nathan itu kakak laki-laki Amanda omong-omong.


Miranda menggeleng kuat. "Mereka hanya peduli pada urusan kerajaan dan latihan pedangnya."


"Kedengarannya cukup menyenangkan." aku turut memberi komentar, membuat mereka serentak melihatku.


"Kau anak tunggal, yah. Pasti terasa sepi tinggal di istana sebesar itu tanpa saudara." Natasya menunjukkan wajah bersimpati, kemudian melanjutkan, "Kau boleh memungut Kevin jika kau mau. Aku benar-benar tidak sanggup menjadi adiknya."


Semua serentak tertawa, membuatku sedikit bertanya-tanya. Ada apa dengan si Kevin ini?


"Kau pasti bertanya-tanya ada apa dengan kakak bangsatku, hmm?" tanya Natasya memastikan.


Aku hanya membalas dengan anggukan singkat.


"Dia bodoh," ucap Viona, diiringi dengan tawa singkat.


"Dia bodoh."


"Benar-benar bodoh."


Cornella dan Miranda ikut mengiringi.


"Kalian menyebalkan, tapi aku tidak bisa membantahnya." Natasya melirik tajam ke arah Viona, Miranda, dan Cornella.


Sekarang ia memusatkan perhatiannya padaku, menghembuskan napas berat. "Kevin jatuh cinta. Cinta yang begitu dalam pada dirinya sendiri."


Aku mengerutkan kening. "Lalu, apa yang salah dari itu?"


"Ia pernah berencana mengadakan pernikahan dengan dirinya sendiri. Astaga aku benci menjelaskan hal ini."


Viona, Miranda, dan Cornella kembali tertawa. Baiklah aku sudah cukup paham. Kevin ini cinta pada dirinya sendiri, dalam artian cinta mati.


"Kau tau, Felice? Kami sempat menemukan lelaki itu minum sendirian di taman. Kami menghampirinya. Lalu Miranda bertanya..." Viona melirik Miranda.


"Apa yang kau lakukan sendirian di sini?" ucap Miranda, memeragakan apa yang ia lakukan saat itu.


"Lalu ia menjawab, "Sendirian? Tidak tidak tidak, aku bersama orang lain. Orang itu adalah diriku sendiri.""


Mereka bertiga tertawa lebih keras. Benar-benar seperti percakapan antara perempuan biasa. Aku kira pertemuan ini akan membahas hal-hal formal seperti cuaca, keadaan kerajaan, atau semacamnya.


Syukurlah, aku merasa bisa beradaptasi dengan cepat.


- O w O -