That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 70



"Bagaimana menurut kalian?"


Viona berputar tepat di depanku dan Natasya. Kami berdua bertepuk tangan dan mengacungkan jempol. Gaun hitam yang dipakainya sungguh indah. Ditambah dengan hiasan rambut berwarna hitam yang tampak sinkron dengan gaunnya.


"Sempurna," ucapku sembari mengacungkan jempol.


Ia tersenyum malu-malu, melepas kembali gaun pernikahannya dan menyimpannya di dalam lemari. "Sekarang aku ingin membelikan kalian pakaian pendamping yang cocok dengan gaunku. Aku punya kenalan seorang penjual gaun yang indah."


- O w O -


Aku menduga lokasi iblis kenalan Viona ada di pasar. Ternyata aku salah. Iblis itu membangun sebuah rumah mewah tingkat lima di tengah hutan. Walaupun terletak di tengah hutan, toko ini tetap ramai oleh iblis-iblis yang ingin membeli gaun.


"Putri Viona yang cantik jelita, oh aku sungguh terhormat karena bunga paling indah di Kerajaan Alasca datang ke toko kecilku. Bahkan kau membawa bunga-bunga yang juga indah tiada tanding."


Laki-laki dengan suara lembut itu bernama Aryu. Badan besar dan wajah sangarnya akan membuatmu salah paham di pertemuan pertama.


"Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Putri cantik jelita?"


Dan iblis ini terus terusan memuji kecantikan Viona.


"Aku butuh dua gaun hitam yang cocok dengan kedua temanku. Mereka akan menjadi pengiringku."


Ia menutup mulutnya, menunjukkan ekspresi kaget. "Pastilah bunga-bunga cantik ini adalah iblis penting. Boleh aku tau siapa nama kalian, bunga-bunga?"


Ia memanggil wanita dengan sebutan "bunga". Puitis sekali.


"Natasya Leviathan, putri kedua Kerajaan Allerion." Natasya menunduk sejenak.


"Ohh, aku sangat diberkahi. Putri dari kerajaan yang jauh." Aryu balas menunduk, memberi hormat.


"Felicia Sair El Lucifer, putri tunggal Kerajaan Acacia."


Ia kembali menutup mulutnya, menunjukkan ekspresi kaget luar biasa. Lebih kaget dari pada tadi. "Oh astaga demi ibu Lilith, bunga paling indah diantara semua bunga terindah. Anak dari Yang Mulia Raja Edgar telah tumbuh dewasa. Aku hanya mendengar dari mulut ke mulut tentang betapa cantiknya rupamu. Aku sangat bahagia karena bisa melihat langsung betapa cantiknya dirimu."


Aku tersenyum miring. "Terima kasih. Aku tau itu."


Kata-kata yang keluar dari bibirnya mengingatkanku dengan seorang laki-laki yang pernah dekat denganku di kehidupan sebelumnya. Kata-kata yang sungguh manis, namun memuakkan.


"Nona Adelline?"


Aku menoleh ke arah Natasya. Ia terpaku pada sosok wanita berambut cokelat tua yang kami kenal sebagai Adelline. Entah kebetulan macam apa ini.


"Oh, kebetulan yang menyenangkan. Bagaimana kabar kalian?" tanyanya dengan senyuman yang terlihat menyebalkan.


Aku maupun Natasya tidak menjawab. Kami kompak mengerlingkan mata dan berjalan menuju sebuah gaun berwarna hitam yang berada cukup dekat dengan kami.


"Uryu, tidak ada gaun yang membuatku tertarik di sini. Kau masih memiliki stok gaun-gaun indah lainnya yang bisa membuatku semakin terlihat cantik?"


"Sepertinya Nona belum melihat gaun-gaun indah yang ada di sebelah sana." Uryu menunjuk bagian kanan ruangan. "Semua gaun di sana memiliki kualitas yang sangat bagus."


"Baiklah." Adelline berjalan ke sisi yang ditunjuk oleh Uryu.


Natasya menyikutku. "Kita bisa tenang sekarang."


Aku mengangguk singkat. "Aku akan menamparnya lagi jika wanita sialan itu mencari masalah."


Natasya berbisik. "Kau kelihatan keren malam itu."


Aku tersenyum. "Terima kasih."


"Lihat ini. Indah ya."


Aku mengangguk.


Viona turut melirik, kemudian mengangguk. "Baiklah kita ambil yang itu. Bagaimana denganmu, Felice?"


"Belum ada yang membuatku tertarik."


Natasya tertawa kecil. "Pemilih sekali. Aku penasaran dengan tipe idealmu dalam memilih laki-laki."


"Harus seperti papaku."


- O w O -