That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 24



Aku baru sadar. Ada beberapa bagian tubuh Rekta yang tidak berubah sempurna menjadi manusia. Seperti telinganya, yang masih seperti telinga anjing. Di lengannya masih terdapat bulu-bulu halus berwarna hitam pekat. Ekornya sama sekali tidak berubah. Tetap besar dan lebut saat disentuh. Taring atas dan bawahnya juga tidak begitu berubah.


"Bagaimana?" tanyanya sembari tersenyum.


Aku telah diajari sekitar satu jam olehnya. Dan ini sebuah kemajuan besar karena aku hanya menginjak kakinya sekali. Sekarang gerakanku sudah lancar, walaupun kepalaku masih harus menunduk untuk melihat kakiku bergerak.


"Aku bisa!" o(〃^▽^〃)o


"Sekarang, cobalah untuk menatap mataku." ia berhenti menggerakkan kakinya, mengangkat daguku hingga sekarang kami bertatapan. Astaga pemandangan macam apa ini? Dia tampak begitu tampan dari sini. Ini buruk untuk jantungku.


Kakinya mulai bergerak, membuatku reflek menunduk. Namun tangannya kembali mengangkat daguku hingga kami kembali bertatapan.


"Dilarang melihat ke bawah. Lihat mataku."


Aku mengangguk singkat. "Baiklah."


Kaki kami mulai bergerak. Tidak begitu sinkron, namun ini awalan yang cukup baik menurutku.


"Ingatlah untuk tidak melihat ke bawah saat berdansa nanti. Tataplah kedua mata Yang Mulia, berikan ia sebuah senyuman yang paling manis yang Tuan Putri bisa."


Aku mengangguk, meringis pelan saat ujung sepatuku tidak sengaja menginjak kakinya. Dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ini tidak seberapa dibandingkan dengan pijakan kakiku di kaki Sacha sebulan belakangan ini.


Setelah selesai, kami saling berhadapan dan memberi hormat satu sama lain.


Ini sebuah kemajuan besar. Rekta adalah guru dansa yang sangat baik. Ia berhasil membuat kemajuan besar pada skill dansaku hanya dalam waktu satu jam. Aku tak bisa menahan senyumku. Rasa percaya diriku kembali penuh. Aku siap mengajak Edgar untuk menemaniku berdansa.


"Aku akan bicara dengan papa besok, aku telah cukup berani untuk mengatakannya!" ( • ̀ω•́ )/!


Rekta tersenyum. "Semangatlah, Tuan Putri!"


Aku mengangguk, berjalan mantap keluar dari ruangan menuju ke kamar. Saatnya untuk mandi dan tidur.


- O w O -


Ruang kerja itu tidak tertutup. Aku mengintip ke dalamnya, menemukan Edgar yang sedang membaca beberapa gulungan surat. Aku melangkah masuk, membawa teh hangat, kue kering, dan roti untuknya.


"Papa~" O(≧▽≦)O


Mendengar panggilanku, ia mengalihkan pandangannya dan kini sepenuhnya memperhatikanku. "Ada apa?"


Aku meletakkan teh makanan itu di atas mejanya. "Aku ingin membicarakan sesuatu," ucapku sembari menggenggam tangan kirinya yang besar dengan kedua tanganku.


"Bicaralah," ucapnya sembari menggeser bangkunya ke belakang, dan menarikku hingga sekarang aku berada di pangkuannya.


"Apa papa mau menjadi teman dansaku di pesta perkenalan nanti?"


"Tentu saja, apapun untukmu."


Edgar mengerutkan keningnya. "Apa?"


"Jika aku tidak berdansa dengan baik, aku harap papa tidak akan merasa malu dan marah—"


Ia menempelkan jari telunjuknya di bibirku, membuatku seketika terdiam. "Hilangkan pikiran itu dari otakmu. Apapun kesalahan yang kau lakukan tidak akan membuatku malu. Ini adalah pertama kalinya kau berdansa, wajar saja jika ada satu atau dua kesalahan kecil yang terjadi."


Ia berdiri, membuatku turut berdiri. Ia menarik tanganku agar berada di pundaknya. Setelah itu, tangannya ia posisikan untuk berada di pinggangku. Tanganku yang lain digenggamnya dengan erat.


Tanpa memberi aba-aba, kakinya langsung bergerak, membuatku reflek menunduk. Entah kenapa kebiasaan ini masih belum bisa hilang. Aku masih begitu takut untuk berdansa tanpa melihat ke bawah.


"Lihatlah mataku, jangan menunduk."


Aku menurut, menatap kedua matanya. Tidak seperti Rekta, Edgar malah berwajah datar, sama sekali tidak menunjukkan emosinya. Aku mencoba tersenyum, namun sesaat kemudian meringis karena sepatuku nyaris menginjak kakinya.


"Jangan khawatir. Sepatumu tidak akan menyakitiku. Kau bahkan bisa menghancurkan kakiku jika kau mau."


Aku membulatkan pipi. "Tidak begitu juga, papa." ≥3≤)/


"Kalau begitu jangan khawatir." Edgar menarik pinggangku hingga kini tubuhku menempel dengan tubuhnya. Rasanya begitu hangat dan nyaman. Beberapa saat kemudian, aku kembali meringis karena tidak sengaja menginjak kakinya.


"Lihat? Malah kau yang merasa sakit, bukan aku."


Aku mengangguk, kembali berdansa dengan normal hingga selesai. Kami saling berhadapan, saling memberi hormat di akhir. Edgar begitu sabar. Aku tau pijakanku tidak sakit, tapi aku tau jika diinjak terus-terusan itu bisa membuatnya tidak nyaman.


"Felice akan belajar lagi..."


Edgar kembali menarikku untuk duduk di pangkuannya. "Kau sudah berlatih cukup keras. Istirahatlah sebentar."


Aku mengangguk, memilih untuk menyandarkan kepalaku di dadanya. Aku memejamkan mata, mendengar suara detak jantung Edgar dalam diam. Manusia hanya memiliki satu jantung. Suaranya terdengar begitu sepi. Tapi iblis memiliki tujuh jantung. Jika kalian mendengarnya dengan seksama, detak ketujuh jantung itu menghasilkan irama yang begitu menenangkan.


Uhh...setidaknya begitu menurutku.


"Kau sudah sarapan?"


Aku menggeleng. "Belum."


Edgar menatapku tajam. "Kau mencoba untuk diet?"


"Tentu saja tidak, papa. Aku akan sarapan bersamamu. Aku membawa makanan itu untuk kita berdua."


"Baguslah."


- O w O -