That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 11



Lina datang membawa sepiring biskuit bayi dan sebotol susu. Tangan Edgar bergerak. Muncul api hitam di telapak tangannya. Seketika piring biskuit dan botol susu di atas nampan terangkat ke udara, bergerak melayang menuju Edgar. Aku tidak terlalu pandai menjelaskan. Kalian pernah menonton film Harry Potter? Piring biskuit dan botol susu itu seperti dikenai sihir Wingardium Leviosa.


Sebuah biskuit melayang ke arahku. Aku memegangnya dengan kedua tangan, memperhatikan biskuit itu sejenak. Pasti efisien sekali jika bisa menguasai sihir. Aku tidak usah beranjak dari kasur saat ingin mengambil sesuatu.


"Aamm."


Biskuit itu berhasil menyapa indera pengecapku. Rasanya manis, dan mudah sekali lumer oleh air ludah. Tidak jauh berbeda memang dengan biskuit bayi yang ada di dunia manusia. Aku pernah mencicipi biskuit bayi milik adik temanku.


Tapi ada yang aneh, apa ini? Rasanya kepalaku begitu ringan. Pandanganku tiba-tiba menjadi kabur, sejenak kemudian semua menghitam dan kesadaranku hilang.


"Felicia!"


-~~~-


"Matanya mulai berkedip."


"Berhasil! Pengobatannya berhasil!"


"Minggir!"


"Tunggu sebentar, Yang Mulia. Tuan putri perlu penyesuaian. Tuan Putri Felicia?"


Astaga berisik sekali. Ada apa ini?


Hal pertama yang kulihat saat mataku terbuka adalah wajah seorang wanita cantik yang memiliki mata seperti ular dan rambut silver yang mengkilap karena memantulkan cahaya lilin yang menyala di kedua sisi ranjang. Siapa wanita ini? Dimana Edgar?


Tangannya yang besar mengusap pelan pipiku, kemudian elusan itu berpindah ke kepala. Tangannya begitu lembut saat menyentuhku. Ia terlihat begitu putus asa.


"Paa...?"


Wajahnya perlahan mendekat hingga kening kami saling bersentuhan. Ia memejamkan matanya, melepaskan segala rasa khawatir yang mengerubungi hatinya. Tanganku bergerak, menyentuh pipi tirusnya yang begitu halus. Ahh rasanya lemas sekali. Tenagaku seperti terkuras habis. Bahkan hanya untuk mengangkat tangan saja rasanya butuh tenaga yang besar.


Tanganku kembali pada posisi semula, tidak mampu terangkat lebih lama. Edgar menyentuh tanganku, mengangkat kembali tanganku dan menempelkannya di pipinya.


"Kau begitu lemah hingga tidak bisa mengangkat tanganmu lebih lama. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi. Aku akan menghancurkan makhluk itu hingga berkeping-keping."


Hanya ada tiga makhluk lain di sana, yaitu Mahessa, si wanita berambut silver, dan seorang pria berambut hitam yang sebelah matanya tertutup. Mungkin mereka adalah makhluk-makhluk yang paling dipercayai oleh Edgar hingga ia dapat menunjukkan sisi lemahnya di hadapan mereka.


Edgar yang begitu arogan, yang begitu kasar, yang begitu kejam, memiliki sebuah kelemahan, yaitu putri kecilnya. Hatinya yang keras, bahkan lebih keras dari baja dapat melunak seperti jeli jika itu menyangkut tentang putrinya.


Perasaanku campur aduk, antara bahagia dan sedih. Aku bahagia karena ia begitu menyayangiku, hingga menunjukkan wajah khawatir dan berbagai ekspresi yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.


Sedih, karena keberadaanku hanya akan menjadi beban baginya. Aku adalah kelemahannya. Saat aku sakit, ia juga akan tersakiti.


Edgar—ahh ralat—papa, aku minta maaf karena aku hanya menjadi beban bagimu. Tapi aku berjanji jika aku sudah cukup besar, aku akan belajar ilmu bela diri dengan giat agar aku bisa menjaga diriku sendiri dengan baik dan tidak menjadi beban bagimu.


Aku janji.


-~~~-