
Setelah penggeledahan, batu langka milik Aluna tidak kunjung ditemukan. Ia tidak terlihat sedih. Hanya kemarahan yang tergambar di wajahnya. Karena kejadian ini, mereka memutuskan untuk mengakhiri acara dan mempersilahkan para putri untuk pulang.
Kami sedang berada di atas kereta kuda sekarang. Kedua saudara Viona bergerak menggunakan kudanya masing-masing. Reon berada di bagian kanan kereta, tepat di sampingku. Ryan ada di bagian kiri, dekat dengan Viona.
Aku menoleh ke jendela, memperhatikan keadaan di luar yang terdengar sangat ramai. Ternyata kami sedang melewati pasar. Semua orang serentak menunduk saat kami lewat. Bahkan ada di antara mereka yang bersujud.
"Boleh kita berhenti di sini sebentar?"
Viona menoleh. "Ide bagus. Akan aku kenalkan kau pada Nyonya Sisi."
"Siapa itu?"
"Pembuat perhiasan kesukaanku."
Aku menoleh pada Viona. "Tapi asal kau tau saja aku tidak membawa sepeser uangpun. Aku hanya berniat melihat-lihat sejenak."
Viona mengibaskan tangannya. "Astaga Tuan Putri, kau bisa menggunakan uangku dulu. Kau bisa menggantinya jika Yang Mulia Raja telah kembali dari medan perang."
Aah...Edgar. Padahal baru beberapa minggu. Aku sangat merindukannya. Apakah dia terluka? Aku harap ia tidak kenapa-napa.
Kereta kudanya telah berhenti. Sepertinya kami telah mendapatkan tempat parkir. Viona keluar lebih dulu, aku menyusul setelahnya. Suasana ramai pasar seketika menghilang saat kami lewat. Para rakyat sangat menghormati mereka bertiga. Terutama Reon.
Kami masuk ke dalam sebuah bangunan kayu dua lantai dengan cat ungu gelap. Pemiliknya adalah seorang wanita berambut ungu pendek dengan tahilalat di pipi kanannya. Wajahnya memang terlihat seperti masih berumur 20 tahun, tapi aku percaya umurnya pasti jauh lebih tua dari itu.
"Ini Tuan Putri Felicia Sair El Lucifer, tentunya Nyonya tau kan ia Tuan Putri dari kerajaan mana?"
Wanita itu tampak kaget. Ia langsung menunduk. "Sungguh sebuah kehormatan bagiku karena Tuan Putri dari kerajaan sebesar Acacia menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko kecilku ini."
"Tidak perlu berlebihan begitu. Siapa namamu, nyonya?"
Sekarang ia menegakkan kepala. "Deasisi, Tuan Putri bisa memanggilku Sisi."
- O w O -
Setelah berkenalan, ia mengajakku untuk naik ke lantai dua, di mana hanya perhiasan dengan bahan langka yang ada di sini. Aku sempat tertarik dengan sebuah hiasan kepala berbahan permata berwarna ungu gelap yang dihiasi permata berwarna pink. Ada tiga mutiara berwarna pink yang menggantung di hiasan itu.
Mengingat aku sedang tidak bawa uang, dan aku tidak ingin merepotkan, sepertinya aku harus menahan hasratku dulu. Aku akan ke sini lain kali. Viona sendiri juga hanya melihat-lihat. Tidak ada yang membuatnya tertarik.
"Apa yang terjadi di sini?"
Seorang laki-laki maju, berlutut di hadapan Reon. Tangannya memegang erat sebuah rantai. Rantai tersebut terhubung dengan pergelangan kaki perempuan yang ikut berlutut tepat di belakangnya.
Perdagangan budak...
"Pangeran Mahkota, aku sangat membutuhkan uang. Aku ingin menjual budakku. Tapi lelaki itu terus memaksaku melepaskan budakku tanpa membayar."
Seorang laki-laki maju, turut berlutut. "Pangeran Mahkota, aku mohon maafkan aku. Aku hanya bermaksud untuk menyuruh lelaki itu melepaskan kaitan di kaki budaknya."
Aku turut memasuki kerumunan, melihat dengan jelas keadaan kaki budak tersebut. Ikatannya terlalu kencang. Kakinya berdarah...
"Berapa kau menjualnya?"
Lelaki itu menoleh padaku. "Delapan puluh koin emas, nona muda. Ia masih sangat muda. Ia juga kuat. Ia bisa melakukan banyak pekerjaan."
Aku melepas salah satu gelangku. Huffh, untungnya ada beberapa perhiasan yang aku bawa. "Gelang ini jika kau jual harganya seratus koin emas. Dan pas sekali ada toko perhiasan di dekat sini."
Matanya tampak berbinar. Tampaknya ia tertarik.
"Ambil gelang ini. Berikan budakmu padaku."
Ia mengangguk dengan cepat. Rantai di kaki wanita budak itu telah ia lepaskan. Aku bisa melihat wajah Viona dan Ryan yang tampak ingin protes atas apa yang aku lakukan. Berbeda dengan kedua saudaranya, Reon malah tersenyum miring. Tapi aku tidak begitu peduli.
Aku berjalan pelan ke arah wanita yang baru saja bebas itu. "Kau bebas sekarang. Pergilah ke manapun kau mau. Kakimu tidak lagi terikat."
Ia menatapku. "Bolehkah...bolehkah aku mengikutimu nona? Aku akan menjadi pelayan pribadimu. Akan aku bersihkan rumahmu. Aku juga membaca banyak buku."
Aku diam sejenak. Sejaun ini aku memang belum punya pelayan pribadi. Humm, sepertinya aku memang membutuhkannya.
"Baiklah."
- O w O -