
Ruangan tengah istana dihias dengan berlian yang memancarkan cahaya biru yang sangat indah. Tersedia berbagai makanan manis dan minuman. Banyak sekali iblis-iblis yang datang meramaikan acara ulang tahun Edgar. Wajar saja jika musuh menjadikan acara ini sebagai celah untuk menyerang Edgar.
Atau untuk menculikku :)
Banyak iblis wanita yang menggunakan pakaian tanpa lengan dan punggung terbuka. Astaga padahal ini musim dingin. Salju sudah mulai turun. Apa mereka memiliki semacam sihir untuk menangkal dingin dan menjaga tubuh mereka tetap hangat?
Aku sendiri menggunakan dress panjang yang hangat, dan sejak tadi berada di pangkuan Edgar. Kami sudah seperti ayah dan anak yang sangat serasi dengan pakaian serba hitam merah yang sangat menawan. Ternyata pakaian yang dikenakan Edgar juga didesain oleh Brianna.
Sejak tadi banyak sekali iblis-iblis yang mengucapkan selamat ulang tahun serta harapan kemakmuran untuk Acacia ke depannya. Mereka mengucapkannya dengan kata-kata yang nyaris sama. Dan ini membuatku sangat bosan. Harusnya Edgar lebih peka. Aku sudah memberi isyarat bahwa aku bosan jika hanya duduk di pangkuannya dan menemaninya di singgasana. Tapi lelaki itu malah diam dan menatapku dengan tatapan yang biasanya.
Es serut.
Dingin, tapi manis.
Alunan musik tiba-tiba berganti menjadi alunan yang memberikan kesan lembut dan romantis. Iblis-iblis yang tadinya tengah berbincang sembari menikmati minuman, kini saling berpasangan dan menggerakkan badan dengan indah sesuai dengan iringan lagu. Terdengar helaan napas berat dari bibir Edgar. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki ini. Namun aku yakin itu bukanlah sesuatu yang membahagiakan.
"Paaa...?"
Aku menggenggam sejumput rambutnya dan memainkannya di kedua jariku. Khawatir aku akan memakannya, Edgar langsung menyingkirkan rambut itu dari tanganku.
"Tidak boleh, bukan untuk dimakan," ucapnya dengan nada dingin.
Aku menampilkan ekspresi cemberut sembali menghisap kedua jempolku. Setelah beberapa detik memperhatikanku menghisap jempol dengan khidmat, akhirnya Edgar sadar bahwa aku si anak semata wayangnya sedang kelaparan.
"Membingungkan sekali. Biasanya bayi akan menangis kencang saat lapar. Tapi kau malah memberikan isyarat-isyarat rumit yang sulit kupahami." Edgar melirik ke sekitar, mencari keberadaan pelayan yang bisa membuatkan makanan untukku.
"Carolina!"
Kebetulan Lina lewat membawa minuman-minuman beraneka warna. Mendengar Edgar memanggil namanya, perempuan itu lantas meletakkan semua minuman yang dibawanya di atas meja. Kakinya melangkah cepat menuju ke hadapan Edgar.
"Ya, Yang Mulia?" Lina berlutut, menundukkan kepala untuk menghormati sang raja.
"Bawakan sesuatu untuk Felicia, dia lapar."
Beberapa iblis tampak kaget melihat perlakuan manis Edgar padaku. Sosoknya yang dikenal sebagai raja iblis yang kejam dan kasar ternyata bisa berlaku seperti seorang ayah pada umumnya.
"Dimengerti, Yang Mulia." Lina dengan cepat beranjak dari hadapan Edgar, menghilang diantara kerumunan iblis yang sedang bercengkerama.
Aku memandang lurus ke atas, tepat ke arah Edgar. Tampaknya bukan hanya aku yang bosan. Edgar juga bosan. Terlihat jelas di tatapan matanya dan deru napasnya. Sadar aku memperhatikannya, lelaki itu balas melihat ke arahku.
"Kenapa? Kau bisa menunggu sebentar, kan?" tanyanya memastikan.
Aku memberikan anggukan singkat, kemudian tersenyum manis.
Ia ikut tersenyum, kemudian berkata, "Dasar jelek."
Aku benar-benar ingin...memutilasi makhluk ini.
-~~~-