That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 36



* Felicia PoV *


Aku berbalik, menemukan pemandangan yang jauh lebih mengerikan. Edgar menggenggam sebuah pedang yang diselimuti sihir berwarna merah. Dari tubuhnya keluar aura berwarna hitam pekat. Tangan kirinya teracung ke depan, mengeluarkan semacam asap, persis seperti ujung pistol yang baru saja menembakkan sebuah peluru. Iris merahnya bercahaya, menatap ke arah seorang lelaki dengan dingin bercampur marah.


Lelaki itu, Claude Van Der Belphegor.


Claude terlempar, menghantam sebuah pohon yang berjarak sekitar 8 meter dari Edgar. Tubuhnya jatuh bebas ke tanah, terguling beberapa kali sebelum akhirnya kembali bangkit. Tampak ada luka bakar di tubuhnya.


Ahh, aku baru sadar pinggang Edgar berdarah. Astaga apa yang harus aku lakukan? Aku hanya menjadi beban untuk mereka.


"Rekta..."


"Ssst, semua akan baik-baik saja. Tuan Putri aman bersamaku. Yang Mulia hanya terluka sedikit. Ini masih belum seberapa dengan luka yang ia dapatkan saat perang antar kerajaan."


Aku nyaris menangis. Rasanya begitu menyakitkan saat menyadari dirimu hanya menjadi beban orang lain. Padahal aku mampu untuk mempelajari ilmu pedang. Aku memiliki ketertarikan untuk itu. Tapi Edgar tidak mengizinkanku mempelajarinya. Menyentuh senjata saja tidak boleh. Entah apa yang terjadi sehingga ia begitu marah.


"Lemah katamu, huh? Itu hanya sebagian kecil dari kekuatan sihirku. Ingin merasakan sesuatu yang lebih?"


Edgar tampak begitu mengerikan. Ia perlahan berjalan mendekat, melewati api sisa ledakan yang membakar rumput-rumput di tanah. Tangan kanannya naik, lurus ke atas. Di atas telapak tangannya mulai terbentuk bola sihir berwarna hitam pekat. Aku bisa melihat ada sesuatu dari mayat-mayat iblis rendahan di sekitarku yang terbang menuju bola sihir itu.


Wajah Claude terlihat sedikit cemas. Sihirnya memang tidak buruk. Tapi jika dibandingkan dengan kemampuan sihir Edgar, ia hanya remahan biskuit penuh debu dan Edgar adalah cheesecake penuh krim kocok dan buah strawberry.


Intinya, jika soal sihir, Edgar adalah yang paling kuat di seluruh penjuru neraka.


Katanya begitu, tapi entahlah.


Claude memilih untuk membentuk tiga lapis sihir pelindung—fungsinya semacam dengan tameng. Kurang dari sedetik, ia mendadak hilang. Melihat sang majikan yang mendadak hilang, dua iblis kelas rendah yang masih hidup memilih untuk menurunkan senjata dan lari ke hutan. Rekta tidak mengejarnya, memilih untuk tetap memegang tanganku dengan erat.


Bola sihir di tangan Edgar perlahan mengecil. Saat ukurannya kira-kira sudah sebesar bola basket, ia melempar bola sihirnya ke arah tameng yang diciptakan oleh Claude. Dan ketiga lapis tameng itu hancur berkeping-keping.


Edgar tampak memungut sesuatu. Bentuknya seperti kalung dengan mata berbentuk bintang segi enam. Ahh tunggu sebentar. Ahhh oke aku paham. Teleportasi jarak jauh dengan bintang segi enam.


Teleportasi biasa perpindahannya hanya berjarak maksimal 10 meter. Tapi dengan bintang segi enam, kita bisa berteleportasi sejauh apapun yang kita mau. Syaratnya hanya dua. Pertama, harus ada gambar bintang segi enam sebagai titik masuk. Kedua, pastikan ada titik keluar, dan di titik keluar harus ada enam lilin yang menyala di setiap sudut bintang.


Tapi syukurlah ini telah berakhir.


"Papa..."


Edgar melirik ke arahku. Lirikannya sungguh menakutkan, dengan mata menyala dan ekspresi jengkel. Ia menyimpan bintang segi enam tadi di balik jubah hitamnya, kemudian berjalan cepat ke arahku. Dapat aku lihat aura hitam yang keluar dari tubuhnya perlahan hilang dan irisnya tak lagi bercahaya. Pedang yang ia genggam hilang ditelan sebuah portal berdiameter kira-kira 30 cm.


Ia berhenti tepat di depanku, berlutut. "Lepaskan tanganmu, Rekta. Jangan coba-coba mencari kesempatan."


Rekta gelagapan, dengan cepat ia melepaskan tanganku dan mundur beberapa langkah.


Edgar sekarang diam, melihat setiap inci tubuhku dari bawah hingga ke atas. Ingin sekali rasanya aku memukul kepala orang ini dan berteriak bahwa yang harus diperhatikan adalah dia. Luka di pinggangnya terus mengeluarkan darah. Tampaknya itu bukan luka biasa.


"Pa, aku tidak apa-apa. Bisa kita pulang sekarang? Papa dan Rekta terluka."


Edgar tertawa kecil. "Ini belum seberapa dengan yang kami dapatkan setelah berperang. Kau tidak perlu khawatir."


Aku mengerucutkan bibir. "Apa tidak boleh aku mengkhawatirkanmu?"


"Tidak."


Baiklah, jawaban yang menyebalkan.


"Baiklah, kita pulang sekarang."


Aku mengerutkan kening. Kereta kuda—ralat—black unicorn telah hancur. Black unicorn juga telah mati terkena efek pertarungan antara Edgar dan Claude. "Bagaimana kita akan pulang?"


"Rekta."


- O w O -