
"Edgar cukup berani, ya, mengizinkanmu pergi hanya dengan satu pengawalnya."
Seorang laki-laki berambut hijau tua muncul dari balik pohon. Aku reflek menggenggam kalung mawar yang Edgar berikan, memejamkan mata sembari mengirimkan sinyal bahwa aku sedang berada dalam bahaya. Rekta reflek menyeretku ke belakangnya, seperti memberi rasa aman. Seperti mengatakan bahwa mereka harus melangkahi mayatnya dulu sebelum bisa menyentuhku.
"Kalau begini pasukan yang aku bawa tidak akan berguna banyak. Kau Rekta, bukan? Anjing kecil yang pernah diselamatkan Edgar di tepi hutan?"
Rekta tidak menjawab. Ia hanya memberi wajah garang pada lelaki itu. Pedang tajamnya telah ia keluarkan, digenggam di tangan kanan.
Lelaki yang sangat tidak asing.
Claude Van Der Belphegor, pamanku tercinta. Orang yang telah merusak mood Edgar di pesta ulang tahunku. Apa ia tidak merasa bahwa tendangan yang didaratkan Edgar di wajahnya adalah sebuah peringatan untuk tidak menggangguku lagi?
Aku beralih menggenggam pisau kecil yang tersimpan di balik jubahku. Jantungku berdebar dengan kencang. Astaga aku mohon, perbanyaklah bicara agar Edgar bisa sampai lebih cepat. Perbanyaklah membacot.
"Aku akan duduk di sini," ucapnya sembari terbang dan beranjak duduk di atas kereta kuda milikku. "Habisi anjing manis itu, dan jangan sampai Putri Felice terluka. Romeo akan memenggal kepalaku jika ia terluka."
Tiga belas laki-laki dewasa dengan penampilan urakan mengelilingi kami. Masing-masing mereka memegang senjata tajam. Mereka tersenyum, sedikit tertawa dengan nada yang cukup mengerikan. Iblis kelas bawah, dan hanya ada tiga diantara mereka yang memiliki mata kuning.
"Hyaah!!!"
Mereka serentak menyerang, diiringi teriakan semangat. Namun sebelum mereka sempat melayangkan pedangnya, perhatian mereka seketika teralihkan oleh suara berdentum dari arah kereta. Itu perbuatan Edgar. Ia menghantam Claude untuk kedua kalinya. Kali ini tampaknya Edgar menggunakan kekuatan penuh. Kereta kuda miliknya bahkan hancur hanya karena angin yang tercipta.
Langit yang semula berwarna orange kini berubah menjadi hitam pekat. Iris merah Edgar memgeluarkan cahaya terang yang amat mengerikan. Tapi percayalah, semengerikan apapun ekspresi wajahnya, jika kalian berada di posisiku, kalian akan merasa sangat bahagia.
Claude jatuh tersungkur di tanah. Aura hitam mulai keluar dari tubuhnya. Ia bangun, duduk di atas rumput lembab yang kotor. Sebuah senyuman ia lempar pada Edgar. "Ed, jangan menyerang tiba-tiba begitu."
Edgar mengabaikannya, terfokus pada tiga belas iblis kelas rendah yang mengepungku dan Rekta.
"Pergi, dan jangan kembali."
"Kalian hanya berdua, kami empat belas. Jangan berfikir kau telah menang!"
Mendengar ucapan berani dari mulut lelaki itu, Rekta reflek bergerak dan menusuk perut lelaki itu. Pergerakan Rekta yang begitu cepat membuatnya tidak sempat memberikan perlawanan. Satu musuh tumbang, dengan luka tusuk di perutnya.
"Kau fikir siapa yang kau ajak bicara, hah?!" teriak Rekta pada iblis yang tengah sekarat itu.
Aku lengah, tidak menyadari bahwa seorang iblis dengan tubuh kurus kerempeng di belakangku bergerak, memelukku dari belakang. Sebuah belati ia arahkan ke leherku. "Kalian bergerak, gadis ini akan terluka!"
Baiklah, orang ini bodoh sekali.
Edgar itu iblis paling atas dari yang teratas. Ia bisa membunuh tanpa menyentuh.
Edgar menatap dengan garang. Ia perlahan terbang mendekat. "Bunuh, lukai dia. Ayo tusuk perutnya, iris lehernya, lakukan apa yang kau mau."
Oke, papa b*ngsat. Aku tidak akan memaafkanmu.
Jantungku kembali berdetak kencang. Padahal sebelumnya sudah cukup lega karena kedatangan Edgar. Aku bisa merasakan tangan iblis kerempeng ini bergerak, berusaha menusukkan pisau di tangannya ke leherku. Aku reflek memejamkan mata, menunggu rasa sakit yang akan tercipta.
Namun setelah beberapa detik menunggu, aku tidak merasakan rasa sakit apapun. Aku perlahan membuka mata, menyaksikan tubuh kurus itu tersungkur di tanah. Ia kejang-kejang, seperti baru saja tersengat listrik jutaan volt.
Aku baru ingat. Edgar memasang sihir pelindung tingkat tinggi di tubuhku. Yang bisa menghancurkannya hanya iblis bangsawan tingkat tinggi. Baiklah, aku memaafkanmu.
Rekta bergerak, menarikku agar berada dalam perlindungannya. Edgar berbalik, manatap Claude dengan garang. Lelaki berambut hijau itu tersenyum miring, menatap balik dengan iris hijau menyala.
Sepertinya akan terjadi sebuah pertarungan.
- O w O -