That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 63



Hari ini para putri piknik di sungai dekat Kerajaan Athelion, kerajaan Pangeran Mahkota Arthur. Pemandangan di hutan ini sangat indah. Air sungainya jernih, membuat kita bisa melihat ikan dan batu-batuan di dasar sungai. Aku juga sempat menemukan tupai-tupai di atas pohon. Tapi yang paling menarik perhatian diantara semua itu adalah hutan yang ada di seberang sungai.


Hutan di bagian sini sangat subur, ditumbuhi oleh rumput dan pohon berdaun lebat. Hutan yang ada di sana tanahnya gersang. Pohon yang tumbuh sama sekali tidak berdaun.


"Apa yang menyebabkan perbedaan signifikan antara hutan ini dan hutan di seberang sungai?" tanyaku.


"Sirkuit sihir," jawab Alleria. Ia melanjutkan, "Di sana adalah tempat para malaikat melakukan penyucian ruh manusia sebelum mereka dikirim ke nirwana. Karena malaikat sering menggunakan sihirnya, sirkuit sihir di tempat itu terganggu dan pohon-pohon mati."


"Wah aku baru tau ada tempat yang seperti ini."


Jujur, aku tertarik untuk masuk ke sana. Apakah malaikat yang dulu memberikanku kesempatan untuk menikmati hidup ada di sana ya?


"Putri Viona, aku membeli ini untuk pangeran Ryan," ucap Aluna sembari meletakkan sebuah kotak berbentuk persegi panjang tepat di hadapan Viona. "Bisakah kau memberikannya pada Pangeran Ryan nanti?"


Viona mengerutkan kening. "Kau tidak ingin memberikan ini langsung padanya? Kau pasti tau Ryan dan Kak Reon yang mengantarku ke sini, dan sekarang mereka sedang bersama Pangeran Mahkota Arthur sekarang."


Aluna menggeleng. "Aku makan terlalu banyak makanan manis belakangan. Aku merasa pipiku bertambah bulat. Aku tidak percaya diri untuk menemuinya."


Viona memutar bola matanya. "Dramatis sekali, tapi aku tidak melihat ada yang berubah dari pipimu maupun tubuhmu."


"Benarkah? Apakah tubuhku masih terlihat seksi?" tanya Aluna sembari berdiri dan berpose miring, memperlihatkan lekuk tubuh bagian belakangnya.


Natasya mengangguk. "Aku juga tidak melihat perbedaannya. Tubuhmu sempurna."


Aluna kembali duduk, menarik kembali kotak yang diletakkannya di hadapan Viona. "Baiklah, akan aku serahkan sendiri jika aku memang tidak banyak berubah, hihi."


"Huffh, makhluk ini." Viona dan para putri yang lain sama-sama menggelengkan kepala.


"Tuan Putri Felicia, apa kau tidak memiliki perasaan suka pada seseorang?" tanya Alicia tiba-tiba.


Aku mengerutkan kening. "Papaku?"


"Tidak, bukan, maksudku seperti cinta pada lawan jenis."


Alicia mengangguk ringan. "Yah, kau anak tunggal. Yang Mulia pasti mencari yang paling sempurna diantara yang sempurna."


Aku turut mengangguk.


Tidak lama setelah itu, salah satu prajurit Kerajaan Athelion datang. Ia berlutut tepat di hadapan Alicia. Ia memberitau sebuah informasi yang membuat kami harus menghentikan acara secara mendadak dan bersama-sama pergi ke Kerajaan Athelion.


- O w O -


Ratu Melissa Vermillion akan segera melahirkan.


Kami semua menunggu di depan pintu kamar. Alicia dan Aluna menggenggam tangan satu sama lain. Alleria sendiri berada di pelukan Arthur, mengatur detak jantungnya yang tidak karuan karena cemas. Arthur membantu dengan mengusap lembut kepala adik kecilnya.


"Aku jadi ingin memiliki adik," ucap Natasya.


"Kau sudah punya banyak." Aku berbisik.


Ia menggeleng. "Mereka bukan adikku."


Aku tertawa kecil, memaklumi alasan Natasya berkata demikian. Adalah hal yang wajar saat seorang raja memiliki lebih dari satu istri. Namun yang diakui sebagai ratu hanya wanita keturunan bangsawan. Yang lain? Hanya sebagai pemuas nafsu Sang Raja.


Ayah Natasya, Yang Mulia Raja Antony, memiliki lebih dari sepuluh istri simpanan. Di antara mereka ada yang telah melahirkan anak dari Sang Raja. Tapi karena mereka berasal dari kalangan biasa, anaknya tidak bisa tinggal di istana dan menyandang gelar kehormatan. Balasannya hanya jaminan bahwa hidup mereka tidak akan pernah berkekurangan.


Syukurlah Edgar tidak seperti itu.


Akhirnya saat-saat paling menegangkan telah berlalu. Yang Mulia Raja Caitel keluar dari ruangan. Wajahnya tampak lega. Senyumannya begitu hangat.


"Laki-laki."


- O w O -