That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 62



"Ini kamarmu."


Aku membuka sebuah kamar pelayan yang berada lumayan dekat dengan kamarku. Isinya ada tiga ranjang, tiga lemari , dua buah sofa panjang, dan sebuah meja rias. Kamar ini dulunya kamar kepala pelayan lelaki. Tapi kepala pelayan yang sekarang perempuan semua, jadi kamar ini tidak lagi terpakai.


"Tuan Putri, kamar ini benar-benar boleh saya tempati?" Ia tampak begitu kaget. Ia berdiri tepat di tengah ruangan, berputar untuk melihat keseluruhan kamarnya.


Aku mengangguk. "Yap, tapi seperti yang kau lihat suatu hari nanti kau akan mendapat dua teman sekamar."


Matanya berkaca-kaca. Ia seketika berlutut, menundukkan kepalanya. "Saya, Selena Ivanova, bersumpah setia seumur hidupku padamu, Tuan Putri Felicia. Hidup dan matiku hanya untuk Tuan Putri Felicia."


Aku tersenyum. "Berdiri. Pakaianmu sedang dibawakan. Jika nanti pakaianmu telah datang, segera mandi. Kau masih memakai pakaian pelayan Alasca."


Ia mengangguk. "Dimengerti, Tuan Putri."


Aku berbalik, bermaksud untuk kembali ke kamar.


"Uh, tunggu sebentar Tuan Putri."


Aku menoleh. "Ada apa?"


"Saya ingin memberitahu sesuatu pada Tuan Putri."


Aku kembali berbalik sehingga sekarang aku dan Selena saling berhadapan.


"Sebenarnya saya iblis shapeshifter. Saya ras yang berbeda dengan Tuan Putri."


Aku hanya mengangguk kecil. "Aku tidak keberatan. Salah satu orang kepercayaanku juga iblis shapeshifter."


Rekta Cerberus Marchosias.


- O w O -


* Author PoV *


Alicia sedang berada di depan pintu kamar Aluna, membawa sepiring bubur gandum dengan topping buah berry dan susu strawberry kesukan si empunya kamar. Sebelum masuk, tidak lupa ia mengetuk dahulu pintu kamar sang adik.


"Luna? Boleh aku masuk?"


Tidak ada jawaban dari Aluna. Namun pintu kamar yang tadinya tertutup kini terbuka. Artinya, Alicia boleh masuk. Setelah masuk, tidak lupa ia kembali menutup pintu kamar sang adik.


Kamarnya gelap. Tirai jendelanya tidak dibuka, membuat cahaya matahari tidak bisa masuk ke dalam kamar. Luna sendiri sedang berbaring di ranjangnya, membelakangi pintu masuk.


"Ada apa kakak?"


Alicia mendekatinya, duduk tepat di belakang Aluna. Ia meletakkan makanan yang ia bawa di atas ranjang, tepat di sampingnya. "Aku hanya khawatir. Beberapa minggu belakangan kau jarang sekali makan. Barangkali kau akan bercerita sesuatu jika aku sendiri yang ke sini."


Luna tidak bergerak.


"Aku ini kembaranmu. Kita dulu berbagi tempat di rahim ibu. Tidakkah kau ingin berbagi denganku?"


Luna sekarang duduk, membalikkan badannya hingga sekarang ia dan sang kakak saling berhadapan. "Kakak...aku...apa yang harus aku lakukan? Pangeran Ryan segalanya untukku. Dia tidak menyukaiku. Bagimana ini...hiks."


Akhirnya setetes cairan bening yang hangat membasahi pipi Aluna. Kalau boleh memilih, ia akan lebih memilih untuk mencintai orang yang juga mencintainya. Tapi kenyataan malah membuatnya mencintai orang yang tidak mencintainya.


"Percayalah, Luna. Tidak ada usaha yang tidak memberikan hasil."


"Kakak, kau tidak mengerti. Pangeran Ryan mencintai Tuan Putri Felicia. Aku tidak memiliki tempat di hatinya."


Alicia terbungkam, membiarkan Aluna menjelaskan perkataannya lebih lanjut.


"Aku mendengar sendiri percakapan antara Kak Arthur, Pangeran Ryan, dan Pangeran Mahkota Reon. Pangeran Ryan dan Pangeran Mahkota Reon sama-sama mencintainya. Aku bahkan mencoba menjebak Tuan Putri Felicia dengan memasukkan Batu Khatulistiwa ke dalam pakaiannya. Tapi entah kenapa batu itu tidak ditemukan di badannya."


Alicia tampak tidak percaya dengan apa yang dilakukan adiknya, tapi ia akan terus mendukungnya apapun yang Aluna inginkan. "Ini mudah, adikku. Kau tinggal mendukung Pangeran Mahkota Reon agar Pangeran Ryan menyerah. Dan jika ia memilih Pangeran Ryan, kita akan melakukan beberapa rencana kecil agar Pangeran Ryan menjauhinya."


- O w O -