That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 49



Reon mengerutkan keningnya. "Apa? Aku menyelamatkanmu loh."


"Tapi kau juga yang membuatku nyaris jatuh."


"Tapi aku menyelamatkanmu."


Aku menarik napas panjang, berusaha meredam emosi. Tidak ada gunanya berdebat. "Baiklah, terima kasih. Sekarang bisa lepaskan tanganku? Cengkramanmu lumayan menyakitkan."


Ia melepaskan genggamannya, mendadak terdiam.


"Aku ingin mengambil minuman. Permisi," ucapku sembari tersenyum sejenak dan pergi meninggalkannya.


Ia tidak menjawab. Setelah menjahiliku dia malah diam begitu. Dasar aneh.


Dan sialnya, minuman itu telah hilang sekarang.


- O w O -


* Author PoV *


Viona melambai pada si kembar, juga pada Felicia, Natasya, dan Miranda yang akan kembali ke istana mereka masing-masing. Seperti biasa, acara minum teh akan diadakan minggu depan di istana ini. Sudah jadi sebuah tradisi saat seorang putri telah resmi diperkenalkan, ia harus mengadakan acara kecil untuk mempererat hubungan pertemanannya dengan putri lain.


Mata indahnya terasa berat. Entah karena sekarang sudah malam atau minuman beralkohol yang tadi ia minum. Atau mungkin keduanya. Ia mencoba mencari posisi nyaman, kemudian memejamkan mata.


Bukannya tertidur, ia malah jadi berfikir yang macam-macam. Ryan, sang adik. Ia menekankan pada Viona bahwa ia sama sekali tidak menyukai Aluna dan tidak akan pernah. Ryan bilang ia akan terus fokus merubah dirinya menjadi lelaki yang baik. Idolanya adalah Yang Mulia Edgar Sair El Lucifer. Sumber motivasinya? Putri Felicia Sair El Lucifer.


Sudah jelas bahwa adik bungsunya mencintai gadis bersurai hitam itu. Viona juga akan menyukainya jika ia terlahir sebagai laki-laki. Selain karena Felicia adalah putri tunggal kerajaan terkuat di neraka, Felicia juga memiliki otak yang cemerlang. Senyumannya begitu manis.


Mendengar pengakuan Felice yang sedang tidak ingin memiliki pasangan membuatnya sedikit takut. Perasaan Ryan tidak akan terbalaskan. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan Felice karena itu hak nya untuk memilih. Ryan maupun dirinya tidak bisa memaksa.


Tok tok tok


"Viona?"


Suara ketukan di jendela serta panggilan sang kakak membuatnya kembali membuka mata. Ia sangat hapal suara itu.


"Ada apa? Kakak lelah? Kakak bisa berbagi tempat denganku jika kakak lelah," ucap Viona dengan suara lemah.


Reon menggeleng, mengatur laju kudanya agar bisa bersebelahan dengan kereta kuda Viona. "Aku hanya ingin melakukan eksperimen kecil."


"Yap," balas Reon sembari ngangguk. "Aku ingin menggenggam tanganmu, dan tolong beritahu aku apa yang kau rasakan."


Viona mengerutkan keningnya. "Kakak, apa kau mabuk?"


Reon menggeleng. "Tidak, aku sadar. Cepat mana tanganmu."


Gadis itu menurut, mengulurkan tangannya ke luar jendela.


Reon diam sejenak, berusaha mengingat seberapa kuat ia menggenggam lengan Felicia beberapa jam lalu. Setelah dirasa tepat, ia menggenggam lengan Viona dengan kekuatan yang ia perkirakan sama persis dengan tadi. Namun baru beberapa saat setelah ia menggenggam lengan Viona, gadis itu berteriak dan menghempaskan tangan Reon.


"Au!!! Kakak, kau benar-benar sadar atau tidak?" Viona langsung mengusap lengannya yang sedikit memerah.


Reon tidak mempedulikannya, balik bertanya. "Apa yang kau rasakan?"


"Tentu saja rasanya sakit!" teriak Viona kesal.


"Kalau ditaksir dengan angka, berapa nilai rasa sakit dari genggamanku tadi?"


"Kakak menyebut itu mengganggam? Itu mencengkram kakak, kau harus mengganti kata-katamu," protes Viona.


"Terserahlah, berapa nilainya?"


"Sembilan puluh lima dari seratus. Luar biasa sekali."


Reon mengangguk kecil. "Baiklah, kembalilah tidur."


Viona menggerutu, memilih untuk kembali mencari posisi nyaman di dalam kereta dan memejamkan mata. Kakaknya aneh sekali.


Reon memacu kudanya agar ia kembali ke posisi depan. Perutnya mendadak sakit, dililit perasaan bersalahnya pada Felice. Viona saja tidak bisa menahannya lebih dari satu detik. Dan nilai rasa sakitnya sembilan puluh lima dari seratus.


Bagaimana dengan yang dirasakan Felicia? Reon menggenggam—ralat—mencengkram tangannya lebih dari lima detik tadi. Astaga pantas saja tangan mungilnya langsung memerah seperti tomat.


Reon merasa harus memberikan sesuatu padanya sebagai permintaan maaf.


- O w O -