That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 8



Bosan.


Tidak ada mainan, apalagi smartphone.


Sebenarnya aku ini hidup di zaman apa?!!


"Ed, Putri Felice sepertinya bosan. Lakukanlah sesuatu untuknya."


Mahessa peka sekali! Aku mulai menyukaimu!


Edgar yang sedari tadi fokus pada kertas berisi tulisan-tulisan yang tidak aku mengerti mulai mengalihkan pandangannya. Ia melirik ke arahku, memperhatikan apa yang sedang aku lakukan di dalam box bayi membosankan tanpa mainan dan teman bicara. Aku berpura-pura tidak melihatnya, malah mengemut jemari tanganku sembari melihat ke arah lain.


"Begitu?" balasnya singkat, dan kembali terfokus pada kertas di hadapannya.


Jahat sekali!!! Dia hanya menjawab "begitu?"?!!


"Ayah yang jahat sekali." Mahessa meletakkan surat gulungnya ke dalam jubah, kemudian memindahkanku ke dalam gendongannya. Terasa begitu nyaman saat ia menggendongku. Tampaknya Mahessa sudah berpengalaman dalam hal ini.


Baiklah, karna kau begitu baik, aku akan menghadiahkan sebuah senyuman manis untukmu.


Wajah Mahessa mendadak berubah seperti orang bodoh. Kalian bisa membayangkannya kan? Wajah orang terpana dengan mata segaris dan bibir berbentuk huruf w. Di belakangnya terdapat tone berwarna pink yang dipenuhi cahaya. "Aahhh, senyuman Putri Felice begitu manis."


"Aaabaaa aamm." (read : aku memang sangat lucu, itu fakta)


"Ututu tayang, pasti kau sangat bosan berada di ruangan seluas ini tanpa ada yang mengajakmu mengobrol. Punya ayah sok sibuk memang berat, hmm? Tapi sekarang sudah tidak masalah. Paman akan mengajakmu mengobrol dan bermain hari ini.


Ajakan dengan nada penuh sindiran itu tampaknya cukup mempengaruhi kejiwaan Edgar. Ia kembali mengalihkan tatapannya dari berkas penting kerajaan, menghadiahi Mahessa sebuah lirikan tajam. Yang dilirik hanya tersenyum manis seperti orang bodoh.


"Mengobrol dengan bayi? Jangan bertindak bodoh, Mahessa. Bayi tidak dapat menjawab kata-katamu, mengerti saja tidak," balas Edgar dengan nada super dingin.


Mahessa menghembuskan napas panjang, kemudian memusatkan perhatiannya padaku. Kedua matanya yang berwarna pink lembut terpaku pada kedua mataku. "Kau tau, Ed?" Mahessa diam sejenak, kemudian mendaratkan bibirnya di keningku, menghadiahkan sebuah kecupan penuh kasih sayang untukku. Rasanya sedikit menyebalkan saat seorang lelaki yang tidak kukenal mencium keningku dengan tidak sopan. Tapi jauh di dalam hatiku, aku merasa sangat senang.


Mahessa melanjutkan kata-katanya, "Bayi mengerti saat mereka diajak mengobrol. Mereka hanya belum bisa menjawab dengan benar. Perkembangan otaknya akan sempurna, dan akan tumbuh menjadi anak yang pintar. Dengan sering diajak bicara, bayi dapat menyerap banyak kosakata dan belajar bicara lebih cepat."


Mahessa menjelaskan panjang lebar, berharap Edgar mengerti apa yang ia maksud. Sebagai raja kerajaan besar ia memang wajib mengurus berbagai masalah di kerajaan. Tapi Edgar memiliki aku sekarang. Dia menyandang status baru sebagai seorang ayah. Harusnya ia bisa membagi waktu.


"Bagitu?"


DAN DARI PENJELASAN PANJANG MAHESSA, SETAN ITU CUMA JAWAB "bigiti?".


"Hei! Apa kau tidak takut Putri Felice akan salah mengenaliku sebagai ayahnya? Kemungkinan besar itu akan terjadi loh, jika aku lebih sering bersamanya."


Aku tidak mungkin salah mengenali kalian. Itu hanya terjadi pada bayi biasa. Dan aku bukan bayi biasa. Ingat itu!


"Terserahlah, aku akan bersamanya sore hari nanti."


Edgar bicara seakan ia tidak peduli. Itu terdengar menyebalkan sekaligus menyedihkan. Jahat sekali. Orang ini harus dikerjai sedikit.


"Baiklah, ayah yang sibuk," balas Mahessa dengan nada malas. Walaupun telah berusia lebih dari seribu tahun, Edgar masih memiliki sifat keras kepala seperti anak kecil.


Aku menarik pelan pakaian yang dikenakan Mahessa, membuat wajah malasnya berganti menjadi wajah sok imut minta ditabok teflon pubg. "Kenapa tayang? Kau ingin jalan-jalan keluar?"


"Mmm baba." (read : Papa)


Wajah Mahessa menunjukkan ekspresi kaget yang sangat menggemaskan. Begitu juga dengan Edgar. Jiwanya seperti terguncang saat mendengar panggilan "papa" yang keluar dari bibirku. Dan yang lebih menyakitkan, panggilan itu bukan untuknya, tapi untuk tangan kanannya. Untuk orang kepercayaannya.


"Baabaa!!!" (read : Papa!)


Ruangan Edgar seketika dipenuhi oleh aura kebencian yang begitu pekat. Mata merah Edgar tampak menyala-nyala. Angin mulai berhembus cukup kencang, menerbangkan kertas-kertas penting yang semula tergeletak di atas meja.


Gawat, candaanku berlebihan. Mahessa, maafkan aku jika nyawamu hanya sampai di sini.


"Ed—"


Sebelum Mahessa dapat menyelesaikan kata-katanya, Edgar telah memotong. "Letakkan dia di tempat tidurnya."


Suara Edgar terdengar sangat mengerikan. Sedikit serak dan menggema. Tanpa bicara apa-apa, Mahessa membaringkanku di dalam box bayi dan segera mundur untuk menyelamatkan nyawanya.


Edgar perlahan mendekat. Wajah mengerikannya jujur membuatku sedikit takut. Namun jika aku ketakutan, itu hanya akan membuat Mahessa semakin bersalah. Perlahan ia mulai mengangkatku dan memindahkanku ke dalam gendongannya. Tidak ada yang berubah. Wajahnya masih tetap terlihat mengerikan.


Aku menghadiahkannya sebuah senyuman, diiringi tawa singkat nan lucu. Tanganku bergerak, menjangkau sejumput rambut panjangnya yang beterbangan karena angin. Tampaknya ini sedikit berhasil. Aura hitam pekat di dalam ruangan berangsur memudar. Wajahnya tampan telah kembali seperti semula.


"Jangan dimakan," ucap Edgar sembari menyingkirkan rambutnya dari tanganku. Tampaknya ia telah kembali seperti semula. Baguslah, aku kira akan terjadi pertumpahan darah di ruangan ini.


"Abaabaa mmm." (Read : Papa, jangan marah)


-~~~-