That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 15,5



Keningnya berkerut, sibuk memikirkan alasan sang Raja mencurigai ibu angkat yang telah bersamanya dari kecil hingga sekarang. "Aku tidak bisa memikirkannya. Apa alasanmu mencurigai Lina? Dia telah bersama denganmu sejak kau kecil, Ed."


Edgar menghembuskan napas panjang nan berat. "Aku harus mencurigai semua orang, Arcy. Tanpa terkecuali. Bahkan aku juga menaruh kecurigaan padamu."


Arcy terdiam. Benar juga. Tadi ia sempat diberikan beberapa pertanyaan untuk memastikan bahwa Arcy bukanlah si mata-mata. Padahal Arcy dan Edgar telah berteman sejak kecil. Dan Edgar masih tetap mencurigai Arcy.


"Kau sudah memikirkan rencana untuknya?"


Edgar menggeleng. "Kau punya saran?"


Arcy berpangku tangan, memejamkan matanya sembari memikirkan Lina. Wanita itu berumur sekitar tiga ribuan. Wajahnya lembut, tampak seperti wanita berumur tiga puluhan di dunia manusia. Tubuhnya cukup berisi, tapi bukan gendut. Rambutnya berwarna cokelat tua, cukup panjang dan merepotkan sehingga wanita itu harus mengikatnya ketika melakukan pekerjaan rumah.


Ia adalah wanita yang sangat lembut, juga keibuan. Selama di sini dialah yang merawat Felice bersama dengan Edgar, namun hanya sampai ketika Madam Amber tinggal di istana. Sekarang Felice dirawat oleh wanita ular itu.


"Bagaimana jika menyuruh Madam Amber dan Lina memasak makanan juga?"


"Maksudmu?"


"Memakai strategi yang sama. Minta Madam Amber memasak sesuatu untuk Putri Felicia, katakan pada Lina bahwa Putri Felicia hanya akan makanan makanan yang dibuat oleh Madam Amber. Jika makanan itu beracun, Lina bersalah. Beres." Arcy menjelaskan seakan itu adalah hal kecil, padahal bagi Edgar ini adalah masalah besar.


Dulu ayahnya pernah mengatakan bahwa ia tidak boleh percaya pada siapapun. Mereka adalah iblis, ras yang begitu licik dan penuh pengkhianatan. Edgar tidak bisa mempercayai siapapun.


Namun perkataan itu tidak begitu dijalankannya. Kenyataannya Edgar sangat percaya pada lima panglima yang diangkatnya, Madam Amber, Lina, juga Felice putri kecilnya. Apa yang akan ia lakukan jika Lina benar-benar memasukkan racun ke dalam makanan itu?


"Baiklah."


-~~~-


"Papa!"


"Nahh, papanya keluar, pengasuhnya dilupakan."


Felicia yang sedang bermanja-manja pada Madam Amber berteriak bahagia. Ia langsung merentangkan kedua tangannya, meminta untuk digendong oleh sang ayah. Dengan kekuatan sihir, tubuh mungil Felice perlahan diselimuti aura hitam dan melayang ke udara. Perlahan, ia bergerak menuju Edgar dan mendarat dengan mulus di gendongannya.


"Rambut papa juga halus, Felice suka."


Tangan mungilnya menggenggam rambut panjang milik Edgar. Kata-kata yang keluar dari mulut mungil Felice sudah terdengar dengan jelas. Umurnya baru menginjak satu tahun padahal. Pertumbuhan iblis memang jauh lebih cepat dari pada pertumbuhan manusia.


"Yang penting jangan dimakan."


Walaupun bicara dengan nada yang begitu dingin, tersirat rasa khawatir pada kata-kata itu. Felicia yang masih kecil pun telah terbiasa. Ayahnya adalah sosok yang perhatian, namun ia tidak bisa menunjukkan perhatiannya dengan baik.


"Papa kenapa lama sekali?"


Tangan besar Edgar mengelus pelan kepala Felice. Tanduk kecil mulai tumbuh di atas kepalanya. "Ini demi keselamatanmu. Aku tidak ingin pesta ulang tahunmu rusak karena kakek sialan itu."


-~~~-