That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 21



Sesuatu yang mengerikan telah terjadi.


"Dia adalah cucuku, aku berhak untuk merawatnya."


"Aku tidak ingin Felicia menderita seperti ibunya."


Seluruh ruangan telah diselimuti oleh aura hitam yang begitu pekat. Aura hitam itu berasal dari dua pemimpin kerajaan yang saling beradu mulut membicarakan tentang hak untuk merawatku. Sebenarnya mereka sama-sama punya hak, tapi karena suatu alasan Edgar sangat tidak ingin menyerahkanku pada Romeo.


Awalnya kami hanya beranjak duduk di sebuah kursi yang khusus diletakkan untukku dan Edgar. Ia bertanya apakah aku lapar atau tidak. Jelas saja aku lapar. Aku sama sekali belum makan siang dan ini sudah sore.


"Bawakan makanan manis," perintah Edgar pada seorang pelayan wanita yang berdiri tidak jauh darinya.


"Dimengerti, Yang Mulia." Pelayan itu menunduk, beranjak dengan cepat dari posisinya. Beberapa saat kemudian ia datang, membawakan sepiring kue yang dilumuri dengan krim kocok dan buah strawberry. Namun Edgar tidak langsung memberikan makanan itu padaku. Ia memeriksa terlebih dahulu detail dari kue dengan krim kocok yang dibawakan si pelayan untukku.


Sedetik kemudian, aura hitam menyelimuti tubuhnya. Ia berdiri sembari menggendongku. Pelayan yang tadi membawakan kue ini tiba-tiba tercekik oleh sebuah kekuatan mistis. Lehernya seakan dijerat oleh rantai yang kemudian ditarik paksa ke hadapan Edgar.


Pelayan itu meronta, berteriak kesakitan karena setiap ia mencoba melepaskan diri, ikatan di lehernya malah bertambah erat. Pesta mendadak terhenti. Sekarang semua perhatian tertuju pada Edgar dan kekejamannya.


"Siapa yang menyuruhmu melakukan itu?"


"Aku tidak melakukan apapun! Aku tidak tau apapun!"


"Pembangkang!"


Pelayan itu mulai sesak napas. Kekuatan sihir di lehernya telah mencekik dengan sangat kuat hingga membuat saluran pernapasannya menyempit. Laju pernapasannya begitu cepat, masih berusaha untuk menghirup oksigen sebisa mungkin.


"Aku yang memasukkan racun ke dalam krim kocok di kue itu, Edgar. Lepaskan pelayan itu."


Seorang laki-laki berambut hijau tua muncul, tersenyum dengan wajah yang mengerikan.


Aura hitam yang menyelimuti tubuh Edgar bertambah pekat. Edgar mengakhiri siksaannya pada si pelayan dengan memutuskan leher wanita itu. Kepalanya tergeletak di atas meja, sementara itu tubuhnya tertelungkup di atas lantai. Darah bersimbah memenuhi lantai. Memang tampak begitu sadis, namun bagi Edgar itu adalah sebuah "pengampunan" karena pelayan itu tidak akan merasakan lagi bagaimana sakitnya disiksa.


"Kau berkata seakan kau membesarkan Brezenska dengan baik, Romeo."


Langkah Romeo terhenti. Jarak antara ia dan Edgar hanya sekitar tiga meter. Aura hitam mulai muncul menyelimuti tubuh Romeo. Tampaknya ia cukup sensitif dengan hal-hal yang menyangkut ibuku. "Berhenti membahas dia yang telah kembali pada Lilith, Ed. Aku lebih berhak merawat Felicia dari pada kau."


"Aku ayah yang sangat baik, jauh lebih baik dari pada kau. Felicia akan tetap bersamaku."


"Dia adalah cucuku, aku berhak untuk merawatnya."


"Aku tidak ingin Felicia menderita seperti ibunya."


Keduanya saling menatap dengan dingin. Aura hitam yang tercipta tadi tubuh mereka tampak seperti berlawanan, bagaikan air dan minyak yang tidak bisa bersatu. Padahal warnanya sama-sama hitam. Keadaan emosional membuat kedua aura itu tidak bisa menyatu.


"Jika kau terus memaksa, aku tidak akan segan untuk membunuhmu, Romeo. Kekuatanmu dan seluruh panglima di istanamu bukan lawan yang begitu sulit untukku. Sadari posisimu. Kau tidak pantas merawat Felicia."


Edgar Sair El Lucifer, Raja Agung Kerajaan Acacia, menyandang nama Lucifer, dan mewakili dosa kesombongan juga keangkuhan. Aku baru kali ini melihatnya begitu sombong dan angkuh.


Romeo tertawa kecil. "Sombong sekali. Ingat kata-kataku, Ed. Suatu saat nanti aku akan membuat Felicia membencimu dan berbalik padaku. Suatu saat nanti ia akan menjadi milikku. Dan jika aku tidak bisa memilikinya, kau juga tidak bisa."


"Coba saja kalau bisa." Kali ini aku yang bicara, menatapnya dengan tajam dan dingin. "Kau hanyalah sebutir debu kecil yang sangat mudah untuk disingkirkan oleh Papa. Ancamanmu tidak berarti apa-apa untuk papa, juga untukku. Aku tidak akan pernah membenci papa apapun yang terjadi. Ingat itu, kakek tua!"


Romeo membelalakkan matanya, kaget dengan respon yang aku berikan.


Telunjuk kiriku yang mungil terarah pada pintu keluar. "Hanya memberi tahu. Pintu keluar ada di sana."


Kali ini ia hanya tersenyum miring. Wajahnya mengerikan sekali. Ia berbalik, berjalan perlahan menuju ke pintu keluar. Keluar sebuah sayap besar dari balik jubahnya.


"Kau akan menjadi cucu yang menyenangkan."


- O w O -