That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 48



Aku dan Natasya membicarakan banyak hal, mulai dari saudaranya yang kembali bertingkah aneh, sampai hal yang kecil dan benar-benar tidak penting seperti kuku tangannya yang belum dipotong. Aku merasa sangat cocok dengannya. Pembawaannya santai, tidak begitu formal saat bicara. Aku jadi tidak begitu sulit bicara karena harus memperhatikan perkataanku. Toh dia sendiri juga asal ceplos.


"Kalian sudah seperti sepasang kekasih." Viona mendekat, meraih segelas minuman dari atas meja.


Aku melirik Natasya. "Kau berminat mencari seorang kekasih?"


Natasya menggeleng. "Tidak, aku sedang fokus memantaskan diri menjadi seorang ratu. Bagaimana denganmu?"


Aku turut menggeleng. "Papa akan menyiksa makhluk malang itu dan membuatnya sadar bahwa ia terlalu hina untukku yang begitu istimewa."


"Astaga, Yang Mulia Edgar benar-benar akan melakukan itu?" tanya Viona dengan wajah penasaran bercampur takut.


Aku mengangguk. "Papa pernah bertanya hal ini padaku, dan papa bilang akan menyiapkan tes kecil untuk makhluk itu."


Sekarang wajah Viona berubah ngeri. "Tes kecil?"


Aku mengangguk. "Kalian bisa menebak kan tes kecil yang papaku maksud itu tes macam apa?"


Natasya dan Viona mengangguk.


"Kau adalah putri tunggalnya, dan Yang Mulia Ratu juga telah kembali ke sisi Lilith. Bukan hal aneh Yang Mulia Raja melakukan hal itu."


Kami bertiga serentak menoleh, menemukan Reon yang sedang menikmati segelas minuman berwarna kuning seperti minyak. Aku bisa mencium aroma alkohol dari sana.


"Yap, aku juga paham akan hal itu," balasku sembari tersenyum kecil.


Aku bisa melihat wajah Viona yang mendadak sangar. Ia melotot pada Reon, menyuruhnya pergi lewat pandangan mata. Reon seakan tidak peduli, malah meletakkan gelas minumannya di atas meja dan mengambil lagi segelas minuman beralkohol yang berbeda dengan sebelumnya.


Natasya mengerjap beberapa kali, meletakkan jemarinya di dagu. "Hey, kalau dilihat-lihat gaunmu dan setelan Pangeran Reon memiliki warna senada. Kalian janjian akan mengenakan pakaian dengan warna senada?"



(Felicia Sair El Lucifer)



(Reon Amon Bael)


Aku tertawa kecil. "Tidak, Putri Natasya. Ini hanya kebetulan. Tidak begitu terlihat seperti pasangan, kan?"


"Hmm, benar juga. Pakaian kalian serasi sekali. Apa kalian janjian seperti dua sejoli di sana?" tanya Viona sembari melirik Cornella dan Arthur yang sedang berbincang berdua.


"Tidak, kalian tau bahwa aku memang sering menggunakan gaun berwarna merah, bukan? Jadi ini hanya kebetulan."


Aku melirik Reon, memintanya memberikan sebuah klarifikasi atau apalah. Namun ia hanya diam, tidak peduli dengan apa yang terjadi.


"Inikah tujuanmu pergi ke Kerajaan Acacia minggu lalu?" tanya Viona pada sang kakak.


Reon masih tetap diam, memilih untuk mengusap puncak kepala Viona dan pergi.


Aku menggeleng cepat. "Tidak tidak, aku terlalu cepat untuk itu."


Lampu tengah ruangan mendadak dimatikan, meninggalkan lampu-lampu dengan cahaya kuning redup yang tertanam di dinding serta lilin-lilin kecil yang terletak di setiap sudut ruangan. Musik yang dimainkan berubah menjadi pelan, sangat cocok dengan ruangan yang kini remang-remang. Beberapa pasangan telah bergerak ke tengah ruangan, berdansa mengikuti alunan musik yang indah.


Aku dan Natasya serentak menepi. Kami yang belum memiliki pasangan tidak punya tempat di sana.


"Hei, kau ingin tau satu rahasia?"


Aku menoleh pada Natasya. "Apa?"


"Pangeran Ryan tidak menyukai Putri Aluna," ucap Natasya sembari memandang lurus ke depan.


Aku mengikuti arah pandangnya, menemukan Aluna dan Ryan yang sedang berdansa di tengah ruangan. "Siapapun yang melihatnya pasti tau hal itu."


"Senyuman itu tidak tulus."


Aku mengangguk. "Aku jadi sedikit kasihan sekarang."


"Harusnya Pangeran Ryan memberitahu Aluna perasaannya yang sebenarnya. Tapi ia terlalu baik. Ia hanya diam dan membiarkan Putri Aluna seenaknya."


Aku menatap Natasya, menyentuh pundaknya. "Jangan memikirkan masalah orang lain. Kau harus fokus memantaskan diri menjadi seorang ratu."


Natasya balik menatapku, kemudian tersenyum. "Sepertinya hanya akan jadi angan-angan. Sebelumnya belum ada ratu yang memimpin pemerintahan. Aku tidak akan pernah menjadi Putri Mahkota."


Aku menggeleng. "Belum pernah ada ratu yang memimpin pemerintahan?"


Natasya menggeleng, kemudian menunduk.


"Baiklah, aku yang akan memulainya suatu hari nanti. Aku putri tunggal dan papa tidak tertarik untuk menikah lagi. Jadi kau harus terus semangat dan menemaniku menjadi ratu yang berkuasa."


Ia menatapku, mulai tersenyum.


"Jangan putus asa. Semua akan selesai saat kau memilih menyerah. Selalu ada kemungkinan jika kau mau berusaha."


"Kau membuatku ingin menangis, Putri. Tapi aku tidak akan menangis karna itu bisa merusak riasanku."


Aku tertawa kecil, kembali memandang ke tengah ruangan untuk melihat para pasangan iblis berdansa dengan mesra. Ada Putri Aluna dengan Pangeran Ryan, Putri Viona dengan pangeran Nathan, Putri Alleria si bintang utama pesta ini dengan Arthur sang kakak, juga Raja Caitel dengan Ratu Melisa, pemimpin Kerajaan Athelion.


Gelas di tanganku telah kosong. Aku berjalan ke arah meja dan meletakkan gelas kosong itu di atasnya. Aku berencana mengambil minuman lagi, minuman yang sama dengan yang aku nikmati sebelumnya. Namun di sini hanya ada minuman beralkohol, membuatku harus sedikit berkeliling untuk mencarinya.


"Ahh, itu dia."


Saat aku mulai melangkah, tiba-tiba saja seseorang mengulurkan kakinya tepat di depan kakiku. Aku tersandung, kehilangan keseimbangan. Namun dengan cepat ia meraih tanganku sehingga aku kembali mendapatkan keseimbanganku dan tidak jadi terjatuh.


"Pangeran Reon, sejujurnya itu tidak lucu."


- O w O -