
Semalam, aku langsung tidur tanpa mengucapkan apa-apa pada Edgar. Padahal sudah menjadi rutinitas untukku mengunjunginya setiap pagi saat sarapan dan malam sebelum tidur. Mungkin tau ada yang tidak beres denganku. Tumben sekali ia mengajakku jalan-jalan di taman.
"Viona bilang tidak akan lama lagi. Dan ia khawatir ia tidak akan bisa sering-sering bertemu denganku saat ia telah menjadi istri Pangeran Mahkota Nathan."
Ia berhenti melangkah, memetik sebuah apel yang tumbuh di pohon dan memberikannya padaku. "Kalian sedekat itu?"
Aku mengangguk.
"Tetap jangan percaya sepenuhnya padanya. Kau tidak tau apa yang bisa dilakukan seekor anjing yang setia saat merasa tertekan."
Aku berjalan di sampingnya, menggigit sebutir apel yang tadi ia berikan padaku. "Aku mengerti, papa. Aku akan selalu berhati-hati."
"Jadi apa yang mengganggumu kemaren malam?"
Aku mengibaskan tangan. "Aku hanya mengantuk, papa. Bukan masalah besar."
"Kau berpikir untuk menikah dengan seseorang?"
Aku mengerutkan kening. "Kenapa papa berpikir begitu?"
"Karna kau dan Pangeran Mahkota Kerajaan Alasca tampak begitu dekat. Kalian punya hubungan khusus?"
Aku menggeleng. "Tidak. Kami hanya berteman, tidak ada hubungan spesial."
"Begitu rupanya," balas Edgar sembari duduk di sebuah bangku yang tidak jauh dari kami.
Aku turut duduk di sebelahnya. "Bagaimana papa bisa bertahan saat semua makhluk di sekitar papa terlihat mencurigakan?"
Ia mengerutkan kening. "Kenapa kau bertanya begitu?"
Ia menyentuh kepalaku, mengusapnya lembut. "Pikirkan segala sesuatu dengan otakmu. Siapa yang paling diuntungkan jika terjadi suatu masalah, siapa yang paling dekat denganmu sehingga yang lain merasa cemburu, apa yang baru saja kau peroleh sehingga yang lain merasa iri. Dan jangan sekalipun kau libatkan perasaanmu di dalamnya."
- O w O -
Apa yang dikatakan oleh Edgar membuatku sadar sesuatu. Iblis yang paling beruntung saat aku dipermalukan, yang belakangan terlihat mencurigakan, yang memiliki alasan paling masuk akal, tidak lain tidak bukan adalah Aluna.
Ini masih sebatas dugaan, tapi faktanya Pangeran Ryan menyukaiku. Aku peka dengan perasaannya. Ia beberapa kali memberi kode yang begitu jelas. Mungkin Aluna menyadarinya dan mencoba menjebakku untuk membuatku malu dan akhirnya Ryan tidak menyukaiku lagi. Masuk akal bukan?
Ini diperkuat dengan fakta bahwa Alicia hampir membuatku malu dengan menarikku ke tengah ruangan dansa. Padahal ia tau aku tidak pandai berdansa. Aku juga tidak punya partner. Jika saja Reon tidak bergerak cepat, aku akan kehilangan muka.
Natasya? Apa yang didapatnya setelah mempermalukanku di antara banyak orang? Ia sedang sibuk memantaskan diri untuk menjadi pemimpin kerajaan. Aku juga selalu mendukungnya. Ia juga pasti menganggapku penting. Bagaimana tidak? Aku memiliki pengaruh cukup kuat di masa depan. Ia membutuhkanku.
Cornella? Ia tidak mungkun berpikir aku merebut Arthur darinya. Aku bahkan lupa entah kapan terakhir kali aku mengobrol dengan Arthur.
Dan Viona? Aku dan Nathan bahkan tidak pernah mengobrol sama sekali. Ia menerimaku di istananya dengan senang hati saat papa berperang. Apa yang patut aku curigai dari dia?
"Tuan Putri, keningmu berkerut. Apa yang sedang kau pikirkan?"
Aku menggeleng singkat. "Hanya berpikir hadiah apa yang harus aku berikan pada Putri Viona di hari pernikahannya."
Selena Ivanova. Walaupun kemungkinan ia berkhianat sangat kecil, tapi kemungkinan kecil tersebut akan menjadi ancaman jika aku mengabaikannya.
"Bagaimana jika Tuan Putri memberikan Putri Viona wewangian atau lulur mandi? Tuan Putri sangat pintar meracik sesuatu."
"Hmm...boleh juga."
- O w O -