That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 38



Hai readers >_<


Maafkan aku karna updatenya lama TvT)


Karna aku lagi UAS, dan hari ini Alhamdulillah semua siksaan serta antek-anteknya udah selesai >w<)


Happy reading <3


- O w O -


Tidak ingin mengganggu, aku memutuskan untuk mundur dan duduk di sofanya. Pikiranku melayang, bertanya-tanya tentang sosok Brezenska yang sebenarnya. Kalian tentu saja ingat saat pertama kali aku menginjakkan kaki di istana ini, Edgar bilang bahwa aku tidak seperti Brezenska yang rakus akan harta. Dia mengatakan hal itu dengan wajah penuh kebencian.


Lantas, apa yang baru saja aku lihat? Ia dengan wajah begitu frustasi mengeluh pada lukisan iblis yang telah kembali ke sisi Lilith. Ia begitu merindukan sosok itu. Siapapun yang melihatnya pasti tau bahwa Edgar sangat mencintainya.


Aku tidak pernah bertanya apapun tentang Brezenska pada Edgar. Aku memilih untuk diam, menunggu saat yang tepat. Saat dimana Edgar sedang mood untuk bercerita tentang Brezenska.


"Kenapa kau di sini?"


Aku mengalihkan pandangan, melihat ke sumber suara. Astaga, apa saja yang dilakukan makhluk ini sedari tadi? Ia sama sekali belum menukar pakaiannya. Darah di pinggangnya bahkan sudah hampir kering.


"Apa salah jika aku ingin makan malam berdua di kamar papa?"


Aku berdiri, menariknya untuk duduk di sampingku. Ia hanya menurut, tidak memberikan penolakan apapun.


"Papa, buka bajunya. Aku membawa obat luka yang pernah aku buat bersama Madam Amber."


"Baiklah," balasnya sembari membuka satu demi satu pakaian yang menempel di tubuhnya. Dan...oh astaga untung saja aku masih waras, masih ingat bahwa lelaki ini adalah papaku. Kalau tidak, sudah aku terkam makhluk ini.


Astaga lihat ototnya. Mmmhh hot!


Pertama, aku membersihkan luka itu dengan handuk basah. Ada darah-darah kering berwarna kecokelatan di sekitar lukanya. Madam Amber pernah bilang bahwa iblis bangsawan selalu mengalirkan sihir pada pedangnya. Dan sihir itu akan membuat pedang lebih kuat dan beracun. Racun dari sihir akan membuat luka yang dihasilkan sulit untuk sembuh walaupun iblis memiliki kekuatan regenerasi yang cukup luarbiasa.


"Papa, boleh aku bertanya sesuatu?"


Aku diam sejenak, menyusun kata-kata paling pas untuk membawa Edgar masuk ke dalam mood bercerita. "Kapan pertama kali papa ikut dalam sebuah perang?"


"Hmm, kalau tidak salah saat umurku menginjak 114 tahun. Berperang dengan Kerajaan Centiron. Kau tau?"


"Tau, itu kerajaan tempat Brandon C Dantalion berasal, kan?"


Brandon C Dantalion itu salahsatu panglima kerajaan omong-omong.


"Yap, benar sekali. Saat itu juga aku bertemu dengan Brandon. Katakanlah...lelaki itu seorang pangeran yang keberadaannya tak dianggap."


Aku mengangguk paham. Brandon memang memiliki iris berwarna pink. Tapi matanya sering kali tertutup oleh rambut. Mungkin ia juga sengaja menyembunyikan identitasnya? Entahlah, tidak tau. Sepertinya aku harus mulai pendekatan dengan lelaki itu.


"Lalu dia berpihak kepada papa dan membantu kerajaan kita?"


Edgar mengangguk. "Katakanlah begitu. Centiron menyerah, kemudian menyerahkan Brandon untuk mengabdi pada Acacia. Di Centiron, Brandon sama sekali tidak dianggap keberadaannya. Dan di sini? Ia dihormati, dihargai, kepandaiannya dalam berpedang membuatnya diangkat menjadi salahsatu panglima. Ia merasakan kebahagiaan walaupun bukan sebagai seorang pangeran."


Aku mengangguk paham. "Lalu bagaimana dengan Shinji? Maksudku bagaimana papa bisa bertemu dengannya?"


"Shinji Eligos itu prajurit yang unik. Ia selalu malu-malu saat bicara dengan iblis lain. Tapi di medan perang? Ia tak malu-malu untuk menghancurkan pasukan lawan. Aku tidak begitu menyadari keberadaannya sebelumnya, hingga akhirnya panglima terdahulu yang bernama William Gusion memintaku untuk menunjuk lelaki itu sebagai penerusnya."


Luka di pinggang Edgar telah selesai aku obati. Sekarang ia mengambil sepiring sup daging dan menyuapiku. Aku bersandar ke tubuhnya.


"Sacha E Vassago, laki-laki paling ambisius yang pernah aku kenal. Ia selalu berjuang dengan keras untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan. Ia pantang menyerah, selalu berusaha walaupun kemungkinannya berhasil sangat tipis. Kau harus meniru itu dari Sacha."


Aku mengangguk.


"Sebagai informasi tambahan, Sacha telah memiliki tiga istri."


Sip, ternyata si setan ini buaya darat.


- O w O -