
Di chapter lalu banyak banget kesalahan nama yang aku buat TwT) Maafin aku ya readersku tercintah ToT) Kali ini aku bakal lebih teliti lagi, baca dengan seksama siapa yang lagi ngebully dan siapa yang lagi dibully ToT)/
Happy reading <3
- O w O -
Alicia dan Aluna datang setelah Viona, Miranda, dan Cornella berhenti tertawa. Viona mempersilahkan mereka berdua duduk dan menikmati hidangan manis yang telah ia sediakan.
"Apa perjalananmu lancar?" tanya Viona setelah mereka berdua duduk.
Alicia tersenyum. "Lancar, tidak ada masalah selama perjalanan. Hanya saja Luna terlalu lama memilih gaun yang akan dia gunakan. Jadi kami datang sedikit lambat."
Aluna menggembungkan pipinya. "Kakak, ini penting untukku!"
"Baiklah, aku paham. Aku sangat paham," ucap Viona sembari tersenyum maklum. Yang lain juga melakukannya.
Aku melihat Miranda, menatapnya dengan wajah penuh tanya. Ia mendekatkan bibirnya ke telingaku, kemudian berbisik, "Aluna itu jatuh cinta pada Pangeran Ryan."
"O-ooh, begitu ya? Baiklah aku paham."
Jujur aku sedikit kaget mendengarnya. Untung saja aku bisa menyembunyikan ekspresi kagetku dengan mengangkat cangkir teh dengan corak bunga di hadapanku dan menuangkan isinya ke dalam mulut.
"Ah, pujaan hatimu lewat." Natasya menunjuk ke arah kanannya. Semua—termasuk aku—mengikuti arah jarinya menunjuk dan menemukan Pangeran Ryan bersama Pangeran Reon sedang berjalan. Masing-masing mereka membawa sebilah pedang di tangannya. Tampaknya mereka baru saja latihan berpedang.
"Astaga makhluk itu tampan sekali. Bersumpahlah Viona, kau tidak akan memberikannya pada siapapun kecuali diriku," ucap Aluna sembari memandangi Ryan seperti singa yang melihat sebongkah daging segar.
"Itu terserah padanya. Aku tidak akan mengatur masalah percintaannya," balas Viona, membuat Aluna menatapnya dengan sinis.
"Kau terdengar seperti tidak merestuiku dengannya."
"Hei, ayolah. Aku bukan kakak posesif yang suka mengatur kehidupan adiknya. Aku akan mendukungnya apapun keputusannya, siapapun orang yang dicintainya, apapun alasannya." Wajah Viona melunak, menatapku sembari tersenyum. Aku tidak begitu mengerti kenapa ia menatapku.
Tidak tidak tidak. Ia tidak menatapku. Ia menatap Aluna yang duduk tepat di sampingku.
"Baiklah, aku akan berusaha mengambil hatinya. Aku akan sangat marah jika ada gadis lain yang merebutnya," ucap Aluna sembari mengepalkan kedua tangannya.
- O w O -
"Sebuah kehormatan karena putri tunggal dari Kerajaan yang paling dihormati menyempatkan diri untuk datang," balasnya dengan senyuman manis di wajah.
"Jangan lupa kirimkan surat seminggu sebelum acaranya diadakan." Natasya yang berdiri di sampingku mengingatkan.
Acara minum teh selanjutnya akan diadakan di istanaku, di taman tempat Edgar dan aku biasa menghabiskan waktu berdua. Tapi entahlah, mungkin aku akan merancang sebuah taman baru. Terlalu tidak rela rasanya untuk menggunakan tempat spesial itu untuk berkumpul bersama teman.
"Aku tidak akan lupa," balasku diiringi anggukan kecil.
Aku berbalik, memegang tangan Rekta agar bisa naik dengan mudah ke dalam kereta kuda. Rekta ikut masuk ke dalam kereta dan menutup pintu. Kaki-kaki keempat black unicorn mulai bergerak. Aku melihat ke arah Viona dari jendela, melambaikan tangan pada gadis itu. Ia membalas lambaianku sembari tersenyum.
Indra pengelihatanku tidak sengaja menangkap sosok laki-laki berambut putih yang pengintip dari balik pintu. Tidak salah lagi, itu adalah Ryan. Entah apa yang ia inginkan sehingga laki-laki itu hanya mengintip, tidak menyapa apalagi mengobrol.
- O w O -
Kami telah menempuh jarak sekitar setengah jalan. Namun mendadak ada pohon raksasa yang tumbang dan menghalangi jalan kami. Sebenarnya mudah saja untuk melewati pohon ini. Black unicorn memiliki sayap, kereta kuda berisi seorang laki-laki dan gadis remaja bukan masalah untuk mereka berempat.
Namun Rekta memutuskan untuk berhenti, khawatir dengan hal yang akan kami lalui setelahnya. Aku mengekor di belakangnya, menggenggam erat tangan kirinya. Ia sibuk melihat ke sekitar. Melihat bekas patahan pohon, daun-daunan yang bertebaran, ranting-ranting, dan tumbuhan di sekitar.
Ia mengambil segenggam rumput dari tanah, melemparnya lurus ke depan. Seketika terlihat benang-benang tipis berwarna putih yang sulit sekali terlihat oleh mata. Ada banyak sekali benang, terikat dari satu pohon ke pohon yang lain.
Jebakan.
Istana masih kotor, ada pengkhianat.
Iseng, Rekta memutuskan benang terdekat yang berada satu meter di depan matanya. Ia reflek menggendongku, melompat ke belakang. Kami menahan napas, dengan cemas menunggu reaksi yang timbul.
Namun setelah menunggu beberapa detik, tidak ada hal-hal aneh terjadi. Kami berdua serentak menghembuskan napas lega. Ia menurunkanku dari gendongannya.
"Edgar cukup berani, ya, mengizinkanmu pergi hanya dengan satu pengawalnya."
Tamat sudah.
- O w O -