That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 59



* Felicia PoV *


Aluna dan Alleria telah kembali. Mereka membawa dua piring kue tart dengan krim vanila dan sebuah cherry berwarna ungu di atasnya. Alleria terlihat lebih tenang. Ia sudah bisa kembali tersenyum dan tampak lebih santai walaupun masih suka menunduk. Namun berbeda dengan Aluna yang berwajah datar, seperti telah melihat sesuatu yang tidak ingin dilihatnya. Wajahnya yang biasa diisi oleh keceriaan dan senyuman hilang entah kemana.


"Omong-omong adikku Alleria punya ketertarikan yang sama denganmu Tuan Putri Felicia. Ia suka sekali bahan bahan herbal."


"Oh benarkah?" tanyaku sembari melihat ke arahnya.


Ia membalas dengan anggukan kecil.


"Kau punya tanaman herbal langka?"


Ia kembali mengangguk. "Aku punya rumah kaca yang berisi tanaman-tanaman herbal. Beberapa diantaranya sangat langka."


"Wah aku sangat tertarik untuk ke sana."


Sekarang ia melihat ke arahku. "Tuan Putri...ingin melihatnya?"


Aku mengangguk. "Yap, mungkin saja di antara tanaman herbal langka milikmu ada tanaman yang belum pernah aku lihat."


"Kedengarannya menarik, boleh aku ikut?" tanya Natasya.


Ia sekarang berdiri. "Kalau begitu ayo semua ikut aku."


- O w O -


Rumah kaca itu berukuran sekitar 15 × 10 meter dengan atap berbentuk seperti setengah silinder. Tepat di tengah ruangan ada sebuah air mancur yang dikelilingi enam patung ikan koi. Ada tiga lemari besar di sudut ruangan. Tidak hanya ada tanaman herbal di sini, tetapi juga bunga-bunga langka dan burung bercorak indah. Tentunya itu adalah burung yang spesial karena mayoritas burung di neraka bulunya berwarna hitam.


"Namanya Miori. Kak Arthur yang menghadiahkannya padaku," ucap Alleria saat memperkenalkan burung cantiknya kepada kami. Burung itu menyerupai love bird yang ada di bumi, dengan bulu berwarna merah dengan corak hijau dan bintik hitam di ujung bulunya.


"Aku jadi tertarik memiliki hewan peliharaan." Natasya bergumam, merasa teracuni saat Alleria memperlihatkan burungnya.


"Kau tidak ingat apa yang terjadi pada kucingmu?" tanya Cornella, membuat gadis itu sekarang diam, menggembungkan pipi.


Natasya itu tipe gadis yang mudah terpengaruh oleh orang lain. Saat ia melihat orang lain memiliki perhiasan langka, ia juga ingin memilikinya. Saat orang lain memiliki hewan peliharaan, ia iuga akan berhasrat memelihara hewan yang sama. Tapi setelah beberapa lama ia akan mengabaikan hewannya dan tertarik pada sesuatu yang baru.


Beberapa waktu yang lalu Miranda memelihara seekor kucing. Nora namanya, kucing dengan bulu lebat berwarna orange dan kaki pendek yang sangat menggemaskan. Melihatnya, membuat Natasya jadi berhasrat memelihara kucing yang sama dengan Miranda.


Awalnya ia memang merawat kucing itu dengan baik. Ia selalu memperhatikan makannya, dan banyak lagi. Tapi setelah beberapa minggu, ia mulai tertarik pada hal baru dan mengabaikan kucing itu demi yang lain. Sekarang kucing itu terlantar dan akhirnya dirawat oleh salah satu pelayan di kerajaannya.


Aku berniat berjalan ke arah lemari Alleria. Namun bagian bawah pakaian yang aku kenakan mendadak tersangkut di duri salah satu tumbuhan mirip lidah buaya di dekatku. Untung saja duri tajam itu tidak menembusnya. Tapi...apa ini? Kenapa mendadak ada kerikil di kantongku? Heumm, tidak masalah. Tinggal letakkan di salah satu pot dan masalah selesai.


"Tuan putri tidak tertarik memelihara hewan?" tanya Alleria.


Aku menoleh, berfikir sejenak sebelum menjawab. Apakah Rekta dalam wujud anjing bisa disebut sebagai peliharaan?


"Aku memelihara seekor anjing hitam."


"Oh, benarkah?" tanya Natasya yang tiba-tiba muncul di belakangku.


Aku tersenyum miring. "Yap. Anjingku lucu sekali. Bulunya lebat, penurut, dan sangat pintar. Ia bahkan bisa mandi sendiri, makan sendiri, juga melindungiku dari bahaya."


Cornella menghembuskan napas. "Tuan Putri Felicia, kenapa kau jahat sekali? Seekor anjing tidak bersalah akan menjadi korban atas kata-katamu tadi."


Aku tertawa kecil, memandang wajah pasrah Cornella saat Natasya memandanginya dengan wajah memelas.


"Alleria,"


Empunya nama menoleh ke sumber suara. Aluna di sana, menatap Alleria dengan wajah cemas.


"Ke mana batu khatulistiwaku?"


Alleria berjalan pelan ke arah salah satu patung ikan koi. Di sana ada sebuah meja penuh dengan batu-batu yang mengkilap. Matanya membesar, menunjukkan ekspresi tetkejut yang nyata.


"Maafkan aku, tapi aku harus menggeledah kalian semua."


- O w O -