
* Felicia PoV *
Kalian berharap pembukaan kali ini akan disambut oleh hangatnya mentari dan merdunya kicau burung? Tidak kan? Karna pagi ini wajah Edgar sangat dingin dan burung-burung mendadak bisu. Maaf, pembukaan yang buruk.
Sebenarnya memang wajahnya selalu dingin, tapi biasanya kalau hanya berdua denganku ia tidak akan begini kecuali kalau ada masalah. Ditambah dua hari yang lalu saat aku pulang bersamanya, ia menidurkanku di ranjangnya, di kamarnya, bukan di kamarku sendiri. Tadi malam juga ia beberapa kali mengecek keadaanku di kamar. Sudah bisa ditebak ada yang tidak beres.
"Papa? Ada apa?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.
Ia melihatku, memandangku. Aku tau ia ingin menyampaikan sesuatu, tapi ia masih berfikir bagaimana caranya menyampaikan hal itu dengan benar.
"Aku bisa melihatnya. Papa ingin menyampaikan sesuatu kan padaku?"
Ia meletakkan pisau dan garpunya di atas meja, tepat di sisi kanan dan kiri piring rotinya. Ia terlebih dulu menyesap secangkir teh chamomile hangat, kemudian meletakkan lagi cangkir itu di atas meja.
"Ekhm, aku akan memimpin perang melawan Kerajaan Serubia."
DEG!
Jantungku serasa berhenti berdetak. Perang katanya? Pelajaran sejarah saat aku masih menjadi manusia selalu memperlihatkan bahwa perang itu sangat mengerikan. Noda darah di mana-mana, mayat berserakan, dan si pemimpin akan menjadi target utama. Mereka akan berhenti saat salah satu pemimpin mati atau menyerah.
Dan kata menyerah tidak tertulis di dalam kamus kehidupan Edgar.
"Felicia?"
Aku bahkan tidak menyadari bahwa sekarang Edgar memelukku, berusaha menenangkanku. Ia terus membisikkan kata-kata menenangkan, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Dadaku terasa sesak. Padahal pelukan Edgar tidak se erat itu.
Kerajaan Serubia adalah kerajaan iblis vampir yang sangat berbahaya. Madam Amber dulu tinggal di hutan di dekat kerajaan itu. Mereka juga yang menyerbu Madam Amber dan mengusirnya itu dari hutan. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Edgar salah langkah atau ada pengkhianat yang pura-pura baik, kemudian menikamnya dari belakang.
"Haruskah...haruskah papa ikut berperang? Tidak bisa suruh salah satu panglima saja? Brandon? Sacha? Atau Rekta juga boleh—"
"Mereka ada di sisiku, melindungiku. Aku paham kekhawatiranmu sayangku, aku sangat paham. Ini pengalaman pertamamu ditinggalkan untuk berperang, bukan? Aku sudah berperang ratusan kali seumur hidupku. Aku masih tetap hidup, bukan?"
Aku hanya mengangguk, berusaha mengatur napas.
"Kau akan tinggal di tempat Nayla untuk sementara waktu. Keamanan di kerajaan ini akan melemah. Kakek sialanmu akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambilmu dariku."
Aku menggeleng. "Tidak mau, aku tidak nyaman berada di sana. Aku ingin di sini saja."
"Papa, mereka membuatku tidak nyaman. Aku tidak suka di sana."
Edgar hanya menghembuskan napas panjang, "Baiklah, aku akan meninggalkan Rekta untuk keamananmu."
"Tidak, aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Felicia—"
Tok tok tok
"Yang Mulia, Tuan Shinji ingin menemuimu."
Aku menggembungkan pipi, melihat Edgar dengan wajah sedih.
Ia mengelus kepalaku, mendaratkan sebuah ciuman hangat di keningku. "Aku akan menemuimu lagi nanti. Aku akan mencari cara lain, oke?"
Tanpa menunggu persetujuan, ia berbalik dan berjalan pergi meninggalkanku sendirian. Roti gandum dengan selai cokelat yang tadi sangat nikmat kini tidak terlihat menggiurkan lagi. Mataku sedari tadi telah berkaca-kaca. Aku tetap berusaha untuk tidak menangis.
Tok tok tok
Kepalaku mulai memikirkan hal-hal aneh. Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada Edgar. Aku tidak bisa menahannya. Aku tidak ingin tinggal di istana Nayla. Di sana sangat memuakkan. Mereka memandangku seakan aku adalah antagonis suatu film yang tidak dapat dihentikan oleh siapapun.
Tok tok tok
Mereka hanya hormat pada Edgar, tidak denganku. Nayla juga memasang senyuman palsu saat mengatakan ia senang melihatku. Ia berbohong. Tapi aku tidak akan mengizinkan Rekta tinggal dan menjagaku. Aku akan lebih suka jika ia ikut berperang di sisi Edgar.
"Tuan Putri Felicia."
Aku tersentak kaget, secepat kilat menodongkan pisau kecil penuh selai coklat pada sosok yang memanggilku. Setelah beberapa detik, barulah aku sadar bahwa ia bukanlah orang asing. Ia adalah Pangeran Reon Amon Bael, menatapku dengan kening berkerut.
"Kau menangis?"
- O w O -