
Obrolan hari ini didominasi dengan percintaan dan segala macamnya. Ada beberapa fakta baru yang aku dapatkan. Pertama, tentang Alicia yang telah lama berhubungan dengan seorang pangeran dari Kerajaan Agatha. Ia adalah anak pertama Claude, pamanku. Imanuel namanya.
Singkatnya, dia sepupuku.
Dan aku baru tau kalau aku punya sepupu lain.
Kedua, sepupuku yang lain, anak dari bibi Nayla, Adelline, adalah wanita yang rakus harta. Ia berpacaran dengan Daniel demi bisa menjadi bangsawan iblis kelas atas dan menjadi ratu Kerajaan Arutimate. Untungnya hal ini cepat diketahui dan akhirnya ia putus dengan Daniel.
Ketiga, ternyata Cornella menyukai Arthur, kakak si kembar Alicia Aluna.
"Apakah hari ini Yang Mulia mengadakan acara lain?" tanya Natasya tiba-tiba.
Aku menggeleng. "Tidak, memangnya kenapa?"
"Di sana sepertinya ribut sekali," ucapnya sembari menunjuk ke arah lorong istana. Semua mengikuti arah jarinya. Memang ada suatu keributan di sana, dan aku rasa Edgar memang tidak mengadakan acara apapun hari ini.
Seorang pelayan berlari pelan ke arahku. Wajahnya terlihat tegang. "Putri, tiga pangeran terluka. Sekarang mereka ada di ruang dokter istana."
- O w O -
Secara garis besar, semua pangeran telah terluka, tapi luka paling parah didapatkan oleh Reon, Ryan, dan Arthur. Entah apa yang mereka hadapi. Ada tiga luka cakaran besar di punggung Arthur, sementara Reon mendapat luka cakaran itu di bagian dada serta lengannya terbakar, dan Ryan mendapat empat tusukan duri venus.
"Astaga kenapa ini bisa terjadi?" teriak Viona kaget. Ia mendekati Reon dan melihat lukanya dari dekat.
"Awalnya kami hanya ingin berburu **** hutan, tapi malah bertemu dengan naga," jelas Nathan. Ia juga mendapat luka bakar di lengan, tapi tidak separah milik Reon.
"Sshh..." Ryan mendesis pelan saat lukanya ditekan. Itu harus dilakukan untuk mengeluarkan darahnya yang telah bercampur dengan racun.
Melihat Ryan yang kesakitan, Aluna yang semula berdiri di dekat Arthur langsung mendekati Ryan. "Pangeran, kau harus berjuang."
Ryan membalasnya dengan senyuman. Aku bisa menangkap sinyal menolak dari matanya. "Terima kasih."
"Tidak, Reon alergi dengan salah satu bahan yang ada di sana. Tutup saja lukanya dengan kain jika kau tidak punya obat lain."
Aku mendekati Viona. "Apa yang terjadi jika obat itu dioleskan ke kulitnya?"
"Kulitnya akan bengkak dan terasa gatal," jawab Viona.
"Apa kau tau bahan apa saja yang terdapat pada obat yang biasa Pangeran Reon pakai?"
Viona menggeleng. "Aku hanya ingat warnanya merah kecokelatan dan aromanya seperti daging yang ditaburi debu besi."
"Sepertinya aku bisa membuatnya. Cepat ambilkan darah sapi."
Setelah beberapa saat, seorang pelayan membawakan darah sapi yang dimasukkan ke dalam wadah seperti gelas. Aku meneteskan sebuah cairan yang bisa memisahkan bagian cair dan bagian padat darah. Aku hanya mengambil bagian padatnya, yang berwarna merah pekat. Setelah dicampur dengan dua bahan lain, akhirnya salafnya selesai. Aku terlebih dulu melihatkannya pada Viona. Ia tersenyum, kemudian mengangguk.
"Sama persis," ucapnya.
Aku duduk di samping Reon, perlahan mengoleskan salaf di lukanya. Jujur aku sempat salah fokus memperhatikan struktur ototnya yang menggoda. Padahal aku sudah sering melihat otot laki-laki, entah itu milik Edgar atau Rekta, tapi kenapa ya aku masih belum terbiasa?
"Bagaimana rasanya?" tanyaku pada Reon.
"Dingin," jawabnya singkat.
"Ah, itu karena minyak murni yang aku tambahkan ke dalamnya."
Ia tidak menjawab. Itu membuatku sedikit kesal, tapi biarlah. Mungkin itu memang sifatnya.
"Aku sengaja tidak membalutnya. Luka bakar butuh udara segar agar cepat kering," jelasku sembari memasukkan salaf tadi ke dalam wadah. Aku memberikannya pada Viona, kemudian berkata, "Pastikan Pangeran Reon memakai ini rutin agar lukanya cepat sembuh."
Viona mengangguk. "Terima kasih banyak."
Pada dasarnya, iblis memiliki kekuatan regenerasi yang jauh lebih hebat dari pada manusia. Tapi mereka tetap butuh obat untuk menghentikan pendarahan dan mempercepat proses penyembuhannya. Aku memprediksi luka itu akan sembuh dalam tiga minggu jika ia membiarkannya begitu saja. Jika ia mengoleskan salaf itu rutin, mungkin akan sembuh kurang dari dua minggu.
- O w O -
* Author P o V *
Reon pulang dengan mengendarai kudanya sendiri. Adiknya Viona telah memaksa Reon untuk naik kereta bersamanya, namun Reon menolak. Reon memiliki pribadi yang keras kepala, Viona tau itu. Jadi ia menyerah dan memilih membiarkan Reon naik kudanya sendiri.
Tadi adalah pertama kalinya Reon melihat putri tunggal Kerajaan Acacia dari dekat untuk pertama kalinya. Ia juga terkesan dengan kepintaran Felice dalam membuat obat. Ia sangat menarik, membuat Reon ingin mengenal gadis cantik itu lebih jauh.
Reon tersenyum miring, melambatkan kudanya agar bersebelahan dengan kereta kuda Viona.
"Viona," panggilnya, membuat sang adik mengintip dari jendela.
"Kenapa, kak? Apa lukamu terasa sakit?" tanya Viona dengan wajah khawatir.
Reon tidak menjawab. "Berikan aku salaf yang diberikan Putri Felicia padamu."
Viona mengangguk, memberikan kotak dengan ukuran kira-kira lima kali lima senti itu pada Reon. Reon meraihnya, kemudian memacu kudanya lebih cepat sehingga sekarang ia kembali berjalan paling depan.
- O w O -