That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 17



- Felicia PoV -


Edgar duduk di singgasana. Wajahnya tampak menyeramkan, dengan aura hitam menyelimuti seluruh badannya. Matanya menatap dengan tajam, merendahkan wanita di hadapannya. Wanita yang telah merawatnya sedari kecil. Wanita yang juga telah menjagaku. Wanita itu, Lina.


Aku sedari tadi ada di pangkuan Edgar, dengan erat menggenggam tangannya. Aku tau ia sebenarnya tidak tau harus berbuat apa. Edgar ingin marah, ingin melampiaskan rasa sedih. Tapi itu akan membuatnya tampak lemah. Apalagi di tengah keramaian seperti ini.


"Tuanku menginginkan kematian anak itu, dan keinginan tuanku adalah perintah untukku."


Lina juga mengakuinya. Ia adalah mata-mata Kerajaan Agatha sejak lama sekali. Dan Edgar tidak tau sama sekali karena sebelum ibuku mati, Agatha dan Acacia adalah kerajaan yang begitu dekat.


"Penggal kepalanya."


Edgar begitu kejam, tapi itu adalah hukuman yang terbilang ringan. Yang lain bahkan disiksa terlebih dahulu sebelum dibunuh. Ada juga yang dimasukkan ke tengah dalam hutan kematian. Itu adalah tempat yang sangat mengerikan, dengan berbagai makhluk buas yang haus akan nyawa.


Edgar menggendongku, beranjak dari singgasana menuju ke kamarnya. Wajahnya masih tampak suram, diselimuti aura hitam. Aku harus menghiburnya, atau istana ini akan diselimuti oleh auranya. (。ŏ_ŏ)


Baiklah, apa yang harus aku lakukan? °Д°)


Haruskah aku memeluknya? Tapi tanganku belum begitu pas untuk memberikannya ketenangan. ( ̄へ ̄)


Bagaimana dengan sebuah ciuman dan kata-kata manis? Humm, boleh juga. (๑¯ω¯๑)/!


Edgar mendudukkanku di atas ranjangnya. Ia juga ikut duduk dan membaringkan diri. Hembusan napas panjang terdengar. Aura hitam di sekujur tubuhnya menghilang. Aku merangkak, mendekat ke wajahnya yang tampak sendu.


Ia melihat ke arahku, memasang wajah datar seperti ia yang biasanya. "Apa?"


"Papa sedih?"


Ia menggeleng singkat. "Tidak, aku hanya sedikit kaget.


Aku memiringkan kepala. "Papa benar-benar tidak sedih?"


"Tidak Felice, aku tidak sedih."


Aku merangkak lebih dekat, menyentuh pipi mulusnya. Aku perlahan mendekatkan wajahku ke wajahnya, memberikan sebuah kecupan di bibirnya. Ia tampak kaget dengan perlakuanku. Matanya membesar, tampak begitu lucu.


"Terima kasih karna papa sudah menyelamatkan Felice. Felice sayang sekali papa."


Aku turut merebahkan diri, menyenderkan kepala di dadanya.


"Berjanjilah untuk tidak berkhianat." tangannya bergerak, mengelus pelan kepalaku.


Mana mungkin aku akan berkhianat? Aku adalah anakmu, Papa bodoh. ( ̄へ ̄)


-~~~-


"Papa mana?"


"Sedang mandi, Putri."


Aku mengangguk paham. Gemas dengan ekornya yang terus bergerak, aku merangkak ke arah ekor itu dan memeluknya erat. Lembut sekali, dan hangat. (っ´▽`)っ


"Tuan Putri! Lama tidak berjumpa!"


Seorang lelaki berteriak, berlari kecil ke arahku. Dengan cepat ia mengangkat tubuh mungilku ke udara dan berputar-putar dengan bahagia. Perasaan makhluk ini sudah disuruh menjauh dariku, kenapa ia masih berani mendekat? '-')?


"Mahessa!" Aku turut berteriak, memanggil namanya sembari tersenyum manis.


"Tuan Putri tumbuh begitu cepat, padahal aku hanya pergi selama beberapa bulan."


Sekarang aku telah berada di gendongannya. Terasa nyaman sekali. Mungkin karna tangannya persis seperti tangan Edgar. Besar dan hangat. "Pergi kemana?"


"Berperang, demi Tuan Putriku tercinta," jawabnya sembari mencubit pipi bulatku.


"Apa itu berperang?" Aku bertanya dengan wajah polos.


Mahessa tersenyum. "Belum saatnya Tuan Putri tau tentang itu, tapi Tuan Putri harus mengerti bahwa itu bukan dunia yang akan Tuan Putri masuki."


Aku sebenarnya sudah tau, aku hanya mencoba menjadi anak kecil yang masih polos dan penasaran akan segala hal.


"Kenapa begitu?"


"Karena berperang hanya untuk laki-laki kuat," jawab Mahessa.


"Kalau saat Felice dewasa nanti Felice tumbuh jadi perempuan yang kuat, boleh Felice ikut berperang?"


"Apa yang kau ajarkan pada anak kecil?"


Aku dan Mahessa serentak melihat ke arah pintu. Edgar berdiri di sana, membawa semangkuk bubur dan susu. Wajahnya tampak kesal. Mungkin ia mengingat kejadian menyebalkan beberapa bulan yang lalu.


"Keluar kau dari kamarku!"


"Eehhh? Padahal aku baru sampai!" (╥﹏╥)


-~~~-