That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 28



"Ia melakukan sesuatu padamu? Apa saja yang telah ia katakan?"


Aku menggeleng. "Ia belum sempat melakukan apapun padaku, papa. Tadi dia berubah wujud persis seperti papa, dan kebetulan aku juga sedang mencari papa tadi. Tapi dia mengucapkan beberapa hal aneh yang membuat aku tidak yakin itu benar-benar papa."


"Hal aneh apa?"


"Dia memanggilku sayang dengan senyuman yang begitu mengerikan. Papa tidak pernah melakukan itu padaku."


Edgar terdiam, tidak lagi bertanya lebih lanjut. Ia menggenggam tanganku, berjalan kembali ke ruang pesta tanpa berkata apa-apa.


- O w O -


Edgar meninggalkanku lagi, menyuruhku untuk bicara dengan para tamu, terutama yang umurnya tidak jauh berbeda denganku. Aku sudah terlalu banyak bicara dan menyapa. Aku sudah cukup lelah dengan itu semua. Aku butuh minuman.


Tanganku bergerak, hendak meraih segelas jus jeruk yang kebetulan hanya tinggal satu di atas meja. Namun tanganku malah bertabrakan dengan tangan orang lain. Aku melirik wajah pemilik tangan itu.


"Ahh, Pangeran Ryan."


"Putri Felicia."


Wajahnya mendadak gugup, namun ia berusaha menyembunyikannya. Haduh laki-laki ini. Kenapa ia begitu manis?


"Kau haus, bukan? Kau bisa memilikinya tentu saja. Aku bisa mengambil yang lain," ucapnya sembari menyodorkan segelas jus jeruk itu padaku.


"Tidak apa-apa, aku bisa mengambilnya di meja lain. Kau bisa memilikinya, pangeran."


"Tidak, minuman ini bukan untukku. Putri Aluna yang memintaku membawakan ini untuknya. Aku akan mengambil yang ada di meja lain. Kau bisa meminumnya."


Jujur aku sedikit ragu, kemudian mengangguk karena tenggorokanku yang sudah terlanjur sakit. "Terima kasih banyak."


Aku menuangkan nyaris setengah gelas minuman itu ke dalam mulut. Rasanya asam manis, juga menyegarkan dalam satu waktu. Ahhh, tenggorokanku terasa hidup kembali. Dan kenapa laki-laki ini masih setia di sini dan memperhatikanku minum? Di meja sebelah sana ada jus jeruk, kau tau?


"Ahh, kau menjatuhkan ini tadi." Ryan merogoh kantong celananya, mengeluarkan sebuah gelang berantai emas putih dari sana. Aku mengerutkan keningku. Kenapa aku tidak sadar benda itu terjatuh? "Milikmu, bukan?"


Aku mengangguk, meletakkan gelas minumanku di atas meja. "Iya, ini milikku. Terima kasih banyak karena pangeran telah mengembalikannya," ucapku sembari menerima gelang itu dengan kedua tangan.


Entahlah, mungkin hanya firasat. Tapi aku merasa bahwa ia sedikit berat hati mengembalikan benda ini padaku.


"Sudah sampai mana kau mempelajari sihir?"


Dia ingin memperpanjang percakapan...


"Zashchita, sihir perlindungan dasar, buku keempat."


"Wow, luar biasa sekali. Kau telah menguasai tiga buku." Wajahnya tampak kagum, tapi aku percaya ia telah mempelajari sihir lebih dalam dariku.


"Ya, buku pertama dan kedua cukup mudah dipelajari karena hanya membahas tentang memindahkan benda-benda kecil dan mengendalikan mereka." Aku kembali meraih gelasku dan minum, menyegarkan tenggorokanku yang kembali terasa serak.


Baiklah, aku mulai tertarik.


"Elemen dasar juga berpengaruh tentu saja."


Ia mengangguk. "Aku memiliki sihir yang indah, ingin lihat?"


"Ingin pamer, huh?"


Ia menggeleng, kemudian tersenyum. "Hanya berusaha untuk membuatmu terkesan."


Awalnya hanya aku balas dengan tawa singkat, hingga akhirnya ia mengangkat tangannya dan mengarahkan tangannya ke gelasku. Secara ajaib, dari atas gelas itu muncul sebuah awan yang menurunkan salju-salju kecil. Salju-salju itu tampak seperti glitter yang mengkilap terkena cahaya dari kristal di dinding ruangan. Gelasku mulai terasa dingin. Awan yang tadi berada di atasnya perlahan menghilang, meninggalkan ribuan glitter di dalam minumanku.


"Apakah ini beracun? Ahh, maaf, maksudku...apakah ini boleh diminum?"


Ia mengangguk. "Tentu saja, cobalah."


Takut-takut, aku mencoba memasukkan jus jeruk dengan tambahan glitter itu ke dalam mulut. Rasanya masih sama, perpaduan antara asam dan manis. Dan glitter itu bukanlah glitter biasa. Itu adalah butiran es kecil. Mereka tidak meleleh saat terkena jus jeruk, namun meleleh saat mereka menyentuh lidahku. Ini seperti saat kita memakan gula pasir, namun dengan suhu lebih dingin dari gula biasa.


"Unik sekali. Aku suka ini."


Ia tampak bahagia. Senyumannya begitu lebar. "Terima kasih atas pujiannya."


Kami sama-sama diam, menikmati musik dansa yang masih mengalun sedari tadi. Iblis-iblis itu seperti tidak ada capek-capeknya. Mereka tertawa satu sama lain, sejak tadi menggerakkan tubuh mengiringi irama.


"Aku kira kau akan bersikap dingin seperti dulu."


Aku menoleh. "Uhh, maaf?"


"Dulu kau begitu dingin, persis seperti Raja Edgar. Tapi ternyata kau tumbuh menjadi pribadi yang hangat. Aku kira akan sulit menyapamu kembali."


Iyap, Edgar melarangku untuk bersikap seperti dia. Dia memang mengatakan terserah pada awalnya, namun setelah itu dia mulai mengatakan bahwa sikap dingin itu tidak cocok denganku. Sikap dingin miliknya muncul sendiri karena sebuah kejadian di masa lalu, sedangkan sifat dinginku ada karena menirunya. Sangat...tidak alami


Tapi aku tidak mungkin menjawabnya seperti itu...


Apa yang harus aku katakan???


"Apa benar begitu? Hahaha, mungkin saat itu aku tidak menyukaimu karena kau bicara seperti perempuan, jadi aku bersikap agak dingin. Maafkan aku."


"Tidak tidak, tidak perlu minta maaf. Kata-katamu mengubahku menjadi Ryan yang lebih baik. Aku harusnya berterima kasih."


Aku tersenyum. "Syukurlah kalau begitu."


- O w O -