
"Arcy Greamory, bicara dengannya membutuhkan kesabaran ekstra. Dia adalah laki-laki yang mulutnya sangat pedas."
Iyuh, seperti wanita saja.
"Tapi walaupun dia memiliki mulut pedas dan suka memberi kritik, dia memiliki otak yang sangat cerdas. Dia yang mengatur strategi perang untuk kerajaan. Dia juga yang membantu menangkap wanita biadab yang meracunimu saat kau kecil. Kalau kau ingin bicara padanya, bawakan ia sebutir apel hitam. Ia pasti akan mendengarkanmu."
Oke, dicatat.
"Terakhir, Rekta Marchosias."
Aku mengerutkan kening. Kenapa Edgar malah membahasnya? "Rekta?"
"Iya, Rekta. Dia juga salah satu panglima kerajaan, kau tau?"
Aku menggeleng. "Tidak, aku baru tau."
"Dia tidak memberitaumu?"
Aku kembali menggeleng. "Dia tidak begitu banyak cerita."
Aku merapalkan mantra, mengambil segelas air menggunakan sihir. Aku masih belum sehebat Edgar memang, tapi jika terus diasah ia bilang aku bisa jauh lebih hebat darinya.
"Dulu dia hanya anjing yang masih begitu muda saat aku menemukannya di tepi hutan. Tubuh mungilnya terluka parah, sebagian terkena sayatan benda tajam, sebagian lagi karena duri Venus. Aku merawat lukanya hingga sembuh. Sebagai ucapan terima kasih, ia mengucap sumpah setia padaku dan berjuang sekuat tenaga agar dibutuhkan. Dan ia berakhir menjadi salah satu panglimaku."
Aku mengangguk kecil. Ceritanya persis dengan apa yang pernah Rekta ceritakan. "Lalu bagaimana dia bisa menjadi pengawal pribadiku?"
"Dulu saat kau masih sangat kecil, Romeo menyuruh orang kepercayaannya untuk memasukkan racun ke dalam makananmu. Aku lengah. Kau memakan makanan itu dan tertidur selama berhari-hari."
Aku ingat kejadian ini. Saat dimana Lina memasukkan jamur beracun ke dalam biskuit buatannya.
"Rekta baru saja pulang dari kamp pelatihan. Aku langsung menyuruhnya untuk pergi ke kediaman Amber. Dan saat pertama melihatmu, ia langsung meminta untuk menjadi pengawal pribadimu. Entah apa alasannya, aku tidak tau. Aku mengizinkannya karna aku percaya padanya."
"Ooh, begitu ya."
Makanan di atas meja telah habis. Tapi sejujurnya aku masih ingin memintanya bercerita tentang sesuatu. Terutama tentang Brezenska, alasan Romeo mengincarku, alasan ia ingin membunuhku saat aku masih kecil, kenapa ia bilang Brezenska wanita licik yang haus kekuasaan padahal Rekta bercerita seakan Brezenska adalah wanita yang sangat baik.
"Baiklah, aku akan ke kamar sekarang."
Aku berdiri, mulai merapikan kembali meja Edgar dan meletakkan piring-piring kotor ke atas meja dorong. Sepertinya malam ini memang cukup sampai di sini saja. Lagian Edgar ada janji dengan Shinji. Ia tidak akan bisa bercerita lebih lama.
"Kau tidak ingin bertanya tentang Brezenska?"
DOR! Dia bisa membaca ekspresi wajahku.
"Berarti benar. Kau memang melihatku bicara pada lukisannya tadi."
Aku menunduk, mengangguk pelan sembari menggigit bibir bawah. "Papa marah?"
Ia menepuk sofanya. "Duduklah, aku akan ceritakan sesuatu."
"Tapi papa punya janji dengan Shinji, apa—"
"Dia bisa menunggu," ucap Edgar sembari membuat sebuah lingkaran sihir berdiameter kecil di tangannya. Seekor kelelawar berwarna ungu gelap keluar dari sana. Ia melesat keluar jendela dan terbang menjauh.
Aku bergerak, kembali duduk di sampingnya.
"Aku menikahinya sekitar seribu tahun yang lalu. Aku jatuh cinta pada sikap lemah lembutnya. Aku menikahinya bukan hanya karena cinta, tapi juga ingin menyelamatkannya."
Aku mengerutkan kening. "Menyelamatkannya dari apa?"
"Ayahnya, Romeo. Ini juga yang membuatku tidak mau menyerahkanmu kepadanya."
"Kenapa, pa?"
"Dia akan membuatmu bekerja seperti budak."
- O w O -