
*Author PoV*
Keduanya saling menatap, merendahkan satu sama lain. Mereka sama-sama mengeluarkan aura hitam pekat yang saling berlawanan, tidak mau menyatu, walaupun keduanya berwarna hitam. Di belakang Edgar, Rekta sudah mulai menyerang iblis-iblis rendah yang menyerangnya. Percaya atau tidak, Kemampuan berpedang Rekta hanya satu tingkat di bawahnya. Jika saja lelaki itu juga pintar dalam sihir, ia pasti dapat menyaingi Edgar.
Ini juga salah satu alasan Edgar menjadikan Rekta sebagai pengawal pribadi Felicia. Karna kesetiaan dan kepandaiannya.
Tercipta sebuah lingkaran sihir berwarna hijau tepat di depan Claude. Perlahan, sebuah pedang dengan gagang emas dan ukiran-ukiran berbentuk ular muncul dari sana. Lelaki itu tersenyum miring, menarik pedang itu keluar dari portal. Seketika pedang itu langsung diselimuti kekuatan sihir berwarna hijau. Panjangnya kira-kira satu meter. Claude memegang pedangnya dengan satu tangan, mengarahkan pedang itu pada Edgar.
Edgar turut nengeluarkan senjatanya. Sebuah lingkaran sihir muncul di hadapannya, mengeluarkan sebuah pedang yang tampak lebih besar dari pada kepunyaan Claude. Di gagangnya ada sepasang permata berwarna hitam pekat. Dan saat Edgar menyentuh pedangnya, sepasang permata itu seketika berubah warna menjadi merah darah. Kekuatan sihir berwarna merah seketika menyelimuti seluruh sisi pedang itu.
Claude bergerak lebih dulu. Kurang dari satu detik ia telah berada di hadapan Edgar, memutar tubuh sembari melayangkan pedangnya secara horizontal. Sasarannya adalah bagian perut Edgar. Namun serangan itu bisa ia tangkis dengan mudah. Itu adalah serangan yang cukup kuat, karena suara yang tercipta terdengar cukup keras. Udara di belakang Edgar turut bergerak.
Tidak hanya sampai di sana. Claude sekarang mengarahkan serangan beruntun pada Edgar. Pedang tajam berlapis sihirnya ia layangkan dengan brutal sembari bergerak maju guna mendominasi Edgar. Pohon-pohon di belakang Edgar bahkan ikut terpotong karena Claude. Ia tersenyum miring. Iris merahnya tampak sangat mengerikan.
Semua serangan dapat ditangkis oleh Edgar. Ia menahan diri untuk tidak menyerang balik untuk melihat seberapa pintar Claude dalam memainkan senjatanya. Setelah melihat, Edgar mengakui kemampuan berpedang orang ini tidak bisa diremehkan. Tapi tetap saja Edgar lebih unggul darinya, terlebih dari segi ilmu sihir.
Sebuah tusukan ia arahkan ke pinggang kanan Edgar. Lelaki berambut hitam itu berputar ke kiri sehingga tusukan itu hanya mengenai udara kosong. Sembari berputar, Edgar mengangkat kaki kanannya dan mengarahkan sebuah tendangan ke pinggang kiri Claude. Claude lebih dulu sadar bahwa Edgar akan menendangnya sehingga ia melompat dua kali ke belakang.
Edgar melangkah maju, mengarahkan sebuah tusukan ke dada Claude. Namun Claude dengan cepat memutar tubuhnya 90° ke kanan, melayangkan pedangnya vertikal ke atas, tepat ke arah pedang Edgar.
Serangan Claude barusan nyaris membuat Athanacius—nama pedang Edgar—terlepas dari tangannya. Untung saja ia menggenggam pedang ini dengan erat.
Luka sayatan itu membuat Edgar naik pitam. Irisnya seketika bercahaya. Ia dengan cepat mengarahkan serangan beruntun pada Claude. Lelaki berambut hijau itu tampak cukup kewalahan menghindar dari serangannya.
"Wah, wah. Ternyata benar apa yang tua bangka itu katakan padaku," ucap Claude saat kedua pedang mereka beradu, tinggal melihat dorongan siapa yang lebih kuat.
Edgar hanya diam, memusatkan kekuatannya di tangan untuk mendorong pedang Claude.
"Kau tidak begitu pintar berpedang, Ed. Itu kelemahanmu. Kau hanya bisa sihir sihir dan sihir. He heh, lemah."
"Lemah, huh?" Edgar tidak bisa mengontrol emosinya. Aura hitamnya makin pekat.
Sekarang ia membiarkan dorongan pedang Claude yang menang. Lelaki itu maju dan mengarahkan sebuah tusukan ke dada Edgar. Claude tidak memprediksi bahwa Edgar akan membentuk sebuah bola sihir dengan diameter 1 meter di tangan kirinya dan melempar bola sihir itu ke arah Claude.
Claude tidak sempat menghindar, terlalu bahagia dengan fakta bahwa kemampuan berpedang Edgar memang tidak begitu luar biasa seperti yang dikatakan sang paman. Ia juga berfikir bahwa setelah dihina dengan kata "lemah", Edgar tidak akan memakai sihirnya dan terus beradu pedang dengannya hingga akhir. Sifat sombong yang dimiliki Edgar yang membuat Claude berfikir seperti itu.
Dan ternyata prediksinya salah.
Sebuah ledakan besar tercipta. Suaranya terdengar begitu keras, diiringi dengan jeritan seorang lelaki yang terdengar begitu menyakitkan. Claude terlempar cukup jauh. Tubuhnya yang penuh luka bakar menghantam sebuah pohon dan jatuh ke tanah. Ia dengan cepat berdiri. Tampaknya serangan itu cukup membuatnya sadar bahwa Edgar tidak bodoh.
- O w O -