That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord

That Day I Became A Daughter Of The Demon Lord
Episode 43



Natasya dan Miranda yang pertama kali datang. Mereka tersenyum manis sembari berkeliling melihat patung air mancur di dekat kami duduk. Patung itu berbentuk seperti seorang wanita bersayap kelelawar yang mengangkat belanga. Di sisi kanan dan kirinya ada patung rubah dengan ekor bercabang tiga.


Miranda diantar sendiri oleh Pangeran Nathan dan Pangeran Lucas, kakak-kakaknya. Aku dengar para Pangeran juga membuat suatu janji di hutan dekat istana. Sepertinya mereka akan berburu bersama.


Natasya datang bersama tiga pengawal pribadinya. Kakaknya Kevin tidak begitu peduli dengan ajakan para pangeran lain dan memilih untuk mendekam di kamar dan menikmati kesendiriannya. Tidak-tidak, ia tidak sendirian. Ia bersama seseorang yang disebut dengan "dirinya sendiri".


"Wah-wah, ternyata sudah ada yang datang duluan."


Kami bertiga serentak menoleh, menemukan Viona bersama Cornella berjalan beriringan.


"Selamat datang, terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk datang."


Cornella tersenyum. "Bagaimana mungkin aku bisa melewatkannya."


Viona mengibaskan rambutnya. "Ryan dan Kak Reon sangat bersemangat. Entah apa yang akan dilakukan pangeran-pangeran itu."


"Sepertinya mereka akan berburu. Hutan Arizon adalah hutan yang penuh dengan hewan liar," balasku.


"Dunia mereka memang berbeda, ya," komentar Natasya sembari memainkan ujung rambutnya. Sepertinya ia memikirkan Kevin.


"Tidak usah terlalu dipikirkan," ucap Miranda sembari menyentuh pundak Natasya.


"Lihat saja. Jika ia tidak merubah sifatnya itu, aku yang akan naik tahta sebagai Ratu Allerion," ucapnya sembari meremas jubah yang dipakainya.


"Kau bisa menikahi Ryan jika kau butuh pendamping. Ia lelaki yang dapat diandalkan, loh," tawar Viona sembari tertawa kecil.


"Apa kau bilang?!!"


Terdengar suara teriakan melengking dari belakang, membuat kami serentak menoleh dan menemukan Aluna dengan pipi menggembung berjalan menghentak ke arah Viona.


Viona hanya tersenyum, seakan tidak terjadi apa-apa.


"Selamat datang Putri Alicia, Putri Aluna."


Mereka berdua serentak melempar senyum.


"Baiklah, ayo kita duduk dan menikmati kue-kue manis yang telah disediakan pelayanku."


Semua serentak bergerak duduk di kursi yang telah disediakan. Tidak lama kemudian Viona yang sedang menikmati pie susunya bertanya.


"Putri Felicia, kenapa ada satu bangku kosong di sini?"


Aura hitam seketika menyelimuti tubuh Cornella. Aku seketika mengerutkan kening. Ada masalah apa Cornella dengan Adelline?


Viona menyentuh bahuku, mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik, "Adelline sempat menyukai Daniel. Tapi setelah itu ketahuan bahwa wanita licik itu hanya ingin harta dan tahta."


Omong-omong Daniel itu adik laki-laki Cornella, dan ia juga seorang putra mahkota. Dia punya satu lagi adik laki-laki bernama Tristan.


Aku mengangguk singkat, paham dengan situasi yang ada.


"Tapi Luna tidak akan seperti itu kok. Cinta Luna pada Pangeran Ryan tulus dari hati terdalam."


Viona menoleh, kemudian tersenyum. "Aku menghargai itu, Putri Luna. Sungguh. Tapi yang menentukan adalah Ryan, bukan aku."


Luna menggembungkan pipinya, menusuk brownies di piringnya dengan ganas. "Aku tidak paham kenapa kau tidak sedikitpun mendukungku untuk bersama Pangeran Ryan."


"Aku tidak ingin menjadi kakak cerewet yang suka mengatur percintaan adiknya, Putri Luna. Aku hanya ingin membiarkannya memilih pasangannya sendiri sesuai dengan hatinya."


"Bagaimana hubunganmu dengan Kak Nathan?"


Miranda bertanya, membuka topik pembicaraan baru. Jika pembicaraan tadi terus dilanjutkan, mungkin akan tercipta suasana canggung di antara Luna dan Viona.


"Semakin mesra, tentu saja," jawab Viona sembari mengibaskan rambutnya. Ia melanjutkan, "Apakah hari ini Nathan ikut berburu bersama pangeran lain?"


Miranda mengangguk. "Kak Lucas juga ikut omong-omong."


"Apa kau tidak punya ketertarikan dengan seseorang?" tanya Natasya sembari melihat ke arahku. Dan sekarang semua putri melihatku, menunggu jawabannya.


Aku menggeleng. "Untuk saat ini sepertinya belum. Aku belum memikirkan hal-hal semacam itu."


"Kau boleh mengambil Daniel atau Tristan jika kau mau," tawar Cornella.


Aku tertawa hambar. "Terima kasih atas tawaranmu, tapi aku benar-benar sedang tidak ingin terlibat dengan percintaan dan semacamnya. Aku merasa masih terlalu cepat untuk itu."


Alasan lain : Entah apa yang akan dilakukan Edgar pada laki-laki tidak beruntung itu.


"Benar juga. Kau masih lima belas tahun," balas Alicia.


- O w O -